Oleh : Salas Aly Temur
Islam seringkali dipersepsikan sebagai agama yang penuh dengan larangan dan beban berat. Namun, jika ditelisik lebih dalam, justru sebaliknya yang akan ditemukan. Islam adalah agama yang rahmatan lil 'alamin, dan salah satu bukti nyata dari rahmat tersebut adalah syariatnya yang dirancang mudah untuk dipikul dan sangat manusiawi. Syariat bukanlah belenggu, melainkan tuntunan yang Allah SWT turunkan melalui para rasul-Nya, agar manusia dapat menjalani kehidupan di atas kebenaran dan meraih derajat takwa, sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-Baqoroh (21) , _"Hai manusia sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu agar kalian bertaqwa"._
Kemudahan dalam syariat Islam bukanlah klaim tanpa bukti. Al-Qur'an sendiri, dalam QS. Al-Baqarah [2]: 106, menjelaskan tentang konsep nasakh (penghapusan hukum) dengan tujuan mendatangkan hukum yang lebih baik atau yang sebanding. Ini menunjukkan bahwa syariat Allah bersifat dinamis dan progresif, senantiasa mengakomodasi kondisi serta kemampuan manusia di setiap zaman. Prinsip ini menegaskan bahwa hukum Allah diturunkan untuk manusia, bukan untuk menyiksa mereka. Syariat akhir zaman, khususnya, dirancang dengan kelapangan dan kemudahan yang menjadi ciri khasnya.
Kisah paling ilustratif tentang kemudahan ini adalah proses evolusi syariat puasa Ramadan. Pada awalnya, umat Nabi Muhammad SAW mengikuti tata cara puasa ala Bani Israil. Aturannya sangat ketat: setelah berbuka, seluruh aktivitas makan, minum, dan berhubungan suami-istri dilarang hingga waktu berbuka tiba keesokan harinya. Larangan ini ternyata memberatkan, terutama bagi para sahabat muda yang memiliki kebutuhan biologis. Umar bin Khattab RA dan beberapa sahabat lainnya, karena tidak mampu menahan hasrat, terpaksa melanggar larangan tersebut. Mereka kemudian diliputi perasaan bersalah dan dosa. Di sinilah letak kebesaran kasih sayang Allah.
Mengetahui kesulitan yang dialami hamba-Nya, Allah SWT menurunkan QS. Al-Baqarah [2]: 187 yang merevolusi aturan puasa. Ayat ini dengan gamblang memberikan keringanan luar biasa: kebolehan untuk makan, minum, dan berhubungan suami-istri di malam hari selama bulan Ramadan hingga terbit fajar. Turunnya ayat ini disambut dengan kegembiraan yang tak terhingga oleh para sahabat, termasuk Umar bin Khattab. Mereka merasakan langsung bagaimana syariat yang tadinya terasa berat, diubah menjadi lebih ringan dan sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Beban yang sulit dipikul itu digantikan dengan aturan yang lapang dan membahagiakan.
Hikmah dari peristiwa ini sangatlah dalam. Allah SWT menunjukkan bahwa syariat untuk umat Nabi Muhammad SAW adalah syariat yang humanis—memanusiakan manusia. Syariat tidak hanya fokus pada aspek spiritual, tetapi juga sangat memperhatikan realitas kehidupan, termasuk dalam membina rumah tangga.
Dengan diperbolehkannya hubungan suami-istri di malam hari di Bulan Ramadhan, Allah ingin memperkokoh fondasi keluarga. Puasa Ramadan bukanlah alasan untuk menjauh dari pasangan, justru menjadi sarana untuk menjaga keharmonisan dan saling menyayangi di antara mereka. Kebutuhan biologis yang merupakan fitrah manusia tidak ditekan, melainkan diatur agar tetap dalam koridor ibadah dan penguatan ikatan keluarga.
Dengan demikian, puasa Ramadan menjadi bukti konkret bahwa syariah di akhir zaman ini adalah syariah yang mudah. Ia dirancang untuk mengangkat derajat manusia, bukan untuk menjatuhkannya dengan beban yang tak tertahankan. Kemampuan menahan lapar, dahaga dan hubungan suami istri di siang hari adalah latihan pengendalian diri untuk meraih ketakwaan. Sementara itu, kebolehan untuk memenuhi kebutuhan bersama pasangan di malam hari adalah afirmasi bahwa kasih sayang antarmanusia, terutama dalam ikatan suci pernikahan, adalah hal yang sangat diperhatikan oleh Allah SWT.
Syariat yang mudah ini adalah bukti cinta Allah kepada hamba-Nya. Allah tidak ingin menyulitkan, melainkan ingin membersihkan jiwa dan memperkuat ikatan sosial. Di bulan Ramadan ini, mari kita renungi bahwa setiap aturan-Nya adalah yang terbaik untuk kita. Beban syariat yang kita pikul bukanlah derita, melainkan anugerah yang ringan dan manusiawi, membimbing kita menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Betapa besar kasih sayang Allah yang selalu memberikan jalan keluar dari kesempitan, dan betapa indahnya Islam yang selalu mengedepankan kemudahan.
Namun aktor-aktor akhir zaman yang terafiliasi dengan perusak akhir zaman (Yakjuj Wa Makjuj dan Al Masih Dajjal) akan selalu mempropagandakan bahwa syariat itu kuno, membebani manusia, mengekang kebebasan serta propaganda lainnya yang membuat manusia terbius untuk menikmati dunia yang fana dan melalaikan ini. Semoga Allah menjaga kita dari berbagai hasutan yang membinasakan. Amin
8 Ramadhan 1447 H