Ramadhan dan Ketegangan Politik: Sebuah Refleksi atas Situasi di Masa Nabi & Hari Ini

Ramadhan dan Ketegangan Politik: Sebuah Refleksi atas Situasi di Masa Nabi & Hari Ini

Ramadhan tahun 2 H mengajarkan bahwa ibadah dan perjuangan politik adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dalam membangun peradaban.

Oleh: Salas Aly Temur


Ibadah di Tengah Gentingnya Politik

Bulan Ramadhan seringkali kita maknai sebagai bulan penuh berkah, ampunan, dan latihan spiritual. Namun, di balik kesunnahan dan kewajiban puasa, terdapat catatan sejarah yang menunjukkan bahwa syariat ini diturunkan di tengah pusaran politik dan ketegangan yang sangat dahsyat. Ramadhan pertama yang diwajibkan kepada umat Islam, yaitu Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah, tidaklah lahir dalam ruang hampa. Ia hadir beriringan dengan serangkaian peristiwa krusial yang membentuk fondasi peradaban dan mentalitas umat, sekaligus memberikan pelajaran abadi tentang bagaimana sebuah komunitas harus bersikap di tengah tekanan dan arogansi kekuasaan.

Konteks Historis: Tiga Ayat, Satu Kesatuan Spirit

Dua bulan sebelum Ramadhan tahun 2 H, Allah SWT menurunkan rangkaian ayat yang saling berkesinambungan. Di bulan Rajab dan Sya'ban, kaum muslimin di Madinah menerima wahyu tentang status mereka sebagai Umatan Wasathan (umat pilihan dan pertengahan) dalam QS. Al-Baqarah: 143, serta perintah pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram dalam QS. Al-Baqarah: 144. Kemudian, di bulan Sya'ban, turunlah QS. Al-Baqarah: 185 yang mewajibkan puasa. Tiga ayat ini bukan sekadar serangkaian ritual, melainkan sebuah paket komprehensif untuk membangun mentalitas sebagai umat terbaik pada generasi awal. Perpindahan kiblat mengokohkan syariat Muhammad SAW menjadi independen, sudah berubah dari syariat Bani Israel sehingga menuju status umat pertengahan dan umat terbaik.   Puasa melatih ketahanan serta pengendalian diri—sebuah bekal mental yang sangat diperlukan dalam situasi politik yang kian memanas.

Memicu Ketegangan: Ekspedisi Nakhla dan Respons Ilahi

Ketegangan politik mencapai titik didih setelah insiden yang dipimpin oleh Abdullah bin Jahsy di bulan Rajab. Pasukan muslimin yang dikirim untuk memantau pergerakan Quraisy terlibat bentrok dengan kafilah dagang pimpinan Amr bin Hadrami. Terjadi penyerangan dan penawanan, sebuah tindakan yang secara tradisi dianggap tabu karena dilakukan di bulan haram (Rajab). Namun, Allah SWT segera menegaskan legitimasi tindakan ini melalui firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah: 217, yang menjelaskan bahwa meskipun berperang di bulan haram adalah dosa besar, namun menghalangi manusia dari jalan Allah, mengusir mereka dari Masjidil Haram, dan mempersekutukan Allah adalah jauh lebih besar dosanya di sisi-Nya. Dukungan ilahi ini menjadi titik balik. Situasi politik antara Madinah dan Mekkah memasuki fase baru yang sangat panas, diwarnai dengan operasi intelijen dan persiapan militer dari kedua belah pihak. Puasa Ramadhan pertama pun dijalani umat Islam dalam suasana siaga perang, dengan Rasulullah SAW sendiri yang selalu berjaga untuk menyergap kafilah dagang Quraisy sebagai bentuk perlawanan ekonomi atas aset-aset kaum muslimin yang dirampas di Mekkah.

Ramadhan dan Realitas Kontemporer: Wajah Quraisy Modern

Apa yang terjadi 14 abad silang itu, hampir persis kita saksikan dalam iklim politik dunia hari ini. Peradaban Barat, terutama dalam kebijakan luar negerinya, kerap kali merefleksikan sikap Quraisy yang gemar perang dan mengeksploitasi potensi ekonomi peradaban lain. Di bawah kendali kapitalisme global yang erat kaitannya dengan jaringan keuangan tertentu, dunia disaksikan tidak pernah benar-benar tenang. Nafsu untuk menjadi pemimpin global dalam format unipolar masih membara. Sistem moneter dunia dan kooptasi persenjataan militer canggih menjadi alat untuk memaksakan kehendak. Tragedi kemanusiaan di Irak, Libya, Suriah, hingga tekanan terhadap Venezuela, adalah fakta tak terbantahkan dari ambisi ini. 

Hari ini, dunia kembali digaduhkan oleh upaya sistematis untuk melumpuhkan Iran, sebuah negara dengan peradaban tua yang dianggap sebagai penghalang proyek hegemoni.

Pelajaran Abadi dan Harapan Solidaritas

Dari sini, pelajaran dari arahan ilahi dalam QS. Al-Baqarah: 217 menemukan relevansinya. Peradaban dunia yang masih waras—yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kedaulatan—harus tetap waspada dan tidak boleh gentar oleh gertakan arogan. Sebagaimana Rasulullah SAW mempersiapkan umatnya secara mental, spiritual, dan militer, dunia hari ini pun dihadapkan pada keniscayaan untuk membangun aliansi baru, menata sistem ekonomi yang lebih adil, dan memperkuat kapabilitas pertahanan. Kaidah dalam Islam mengajarkan bahwa perdamaian adalah tujuan utama, dan perang adalah opsi terakhir yang harus dicegah selama masih ada jalan. Namun, jika perang terpaksa terjadi, kita tidak boleh takut dan tidak boleh menyerah.

Momentum ancaman terhadap Iran saat ini, meskipun penuh risiko, dapat menjadi katalisator bagi solidaritas umat Islam dan peradaban waras lainnya seperti Rusia dan China. Ini bukan semata-mata tentang aliansi ideologis, tetapi tentang perlawanan terhadap tatanan global yang timpang dan destruktif. Keyakinan seorang mukmin adalah bahwa setiap upaya untuk membuat kerusakan di muka bumi (fasad) akan selalu berhadapan dengan kekuatan Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Maidah: 64, bahwa orang-orang yang berusaha membuat kerusakan, maka Allah akan menghancurkan apa yang mereka bangun. Perang, pada hakikatnya, adalah bencana bagi seluruh peradaban.


Kesimpulan

Ramadhan tahun 2 H mengajarkan bahwa ibadah dan perjuangan politik adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dalam membangun peradaban. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menempa jiwa untuk teguh dalam kebenaran di tengah tekanan. 

Dari Madinah yang terkepung hingga dunia yang terglobalisasi saat ini, esensi perlawanan terhadap arogansi tetap sama. 

Semoga di bulan yang mulia ini, semangat Umatan Wasathan kembali menyala, melahirkan keberanian untuk bersikap adil, tegas, dan bersatu menghadapi segala bentuk penindasan.


Wallahu a'lam bish-shawab.6 Ramadhan 1447 H

Sebelumnya :