Ramadhan ke 4 : Ramadhan Bulan Maghfirah, Saatnya Berdamai dengan Diri dan Menjemput Ampunan

Ramadhan ke 4 : Ramadhan Bulan Maghfirah, Saatnya Berdamai dengan Diri dan Menjemput Ampunan

Oleh : Salas Aly Temur


Pernahkah kita merenung sejenak di tengah kesibukan hidup yang tak pernah berhenti? Di usia yang mungkin tidak lagi muda dan tenaga mulai berkurang, biasanya kita mulai banyak bertanya: sudah sejauh mana aku melangkah? sudah cukup baikkah aku menjadi manusia?

Di sinilah Ramadhan datang, tepat pada waktunya. Bulan yang oleh Rasulullah sendiri disebut sebagai bulan penuh ampunan. Begitu pentingnya, sampai-sampai dalam sebuah hadits dinyatakan Malaikat Jibril berdoa dan diaminkan oleh beliau: "Sungguh merugi orang yang diberi umur panjang hingga bertemu Ramadhan, tapi dosa-dosanya tidak diampuni".

Bayangkan, jika kita yang sudah melewati separuh perjalanan hidup ini, sudah puluhan kali Ramadhan datang dan pergi, lalu kita masih merasa biasa-biasa saja... bukankah itu kerugian yang nyata?

Pelajaran dari Orang Tua Kita: Adam dan Hawa

Ada satu kisah yang sangat dekat dengan pengalaman kita sebagai manusia. Kisah tentang ayah dan ibu kita, Adam dan Hawa.

Allah memberi mereka keistimewaan luar biasa: tinggal di surga, damai dan bahagia. Tapi mereka juga diberi free will, kebebasan memilih. Konsekuensinya, mereka pernah lupa. Mereka pernah lemah. Mereka tergoda dan akhirnya "terjatuh" dari kehidupan sorgawi.

Bukan karena mereka jahat. Tapi karena mereka manusia. Dan di situlah letak pelajarannya: manusia itu fitrahnya bisa lupa dan lemah, sebagaimana disebut dalam Surah Thaha ayat 115-117. Iblis yang hasad memanfaatkan kelemahan itu untuk menjatuhkan mereka.

Tapi yang menarik, ketika Adam dan Hawa sadar, apa yang mereka lakukan? Mereka mengakui kesalahan dan bertaubat. Dan Allah yang Maha Penyayang menerima taubat mereka. Adam pun tetap menjadi khalifah, tetap mulia di sisi Allah.

Bandingkan dengan Iblis. Dia juga tahu salah, tapi memilih sombong, tidak mau mengakui, bahkan bersumpah akan terus mengganggu anak cucu Adam.

Dua sikap, dua nasib. Yang satu diampuni dan dimuliakan, yang satu dilaknat selamanya.

Tambah Usia, Dosa Kita Juga Menumpuk

Mari kita jujur pada diri sendiri. Semakin panjang usia, semakin banyak pula pengalaman. Tapi kadang, semakin banyak pula dosa yang terakumulasi. Mungkin ada kesalahan masa muda yang terus membayangi, ada hubungan dengan sesama yang belum beres, ada hak-hak Allah yang belum ditunaikan dengan baik.

Apalagi kita hidup di zaman yang Rasulullah gambarkan sebagai masa di mana memegang iman seperti memegang bara api (HR. Tirmidzi). Keimanan dan kekafiran bercampur begitu cepat (HR Muslim). Kita saksikan pemimpin yang arogan dan korup, kebenaran kalah nyaring oleh kebatilan, teknologi yang seharusnya memudahkan hidup malah sering menjerumuskan ke hal-hal yang sia-sia.

Sebagai orang tua, kita juga mungkin mulai merasakan: anak-anak kita terpapar pengaruh yang tidak selalu baik, lingkungan kerja makin kompetitif dan kadang tidak sehat, bahkan mungkin kita sendiri mulai lelah berjuang di jalan kebaikan.

Kondisi seperti ini bisa membuat putus asa. Namun mengeluh dan berputus asa bukan solusi. Allah eberikan fasilitas untuk keluar dari masalah, Rasilullah SAW menekankan jangan pernah putus asa dari Rahmat Allah.

Allah Menunggu Taubat Kita

Allah itu Al-Ghafir, Maha Pengampun. Dalam hadits riwayat Bukhari (6953) disebutkan bahwa sebesar apapun dosa, sebanyak apapun dilakukan, Allah siap mengampuni selama kita memohon ampun dan tidak menyekutukan-Nya.

Rasulullah juga bersabda bahwa Ramadhan ke Ramadhan berikutnya bisa menghapus dosa-dosa di antaranya, selama dosa besar dijauhi (HR. Abu Daud).

Artinya, Ramadhan ini adalah kesempatan emas untuk membersihkan diri. Ini seperti servis besar bagi jiwa kita yang sudah puluhan tahun dipakai jalan. Kadang macet, kadang nabrak, kadang mesinnya panas. Ramadhan adalah bengkel kasih sayang Allah.

Apalagi di dalamnya ada Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam di mana Allah membuka pintu ampunan selebar-lebarnya.

Teknis Taubat yang Bisa Kita Lakukan

Taubat itu sebenarnya tidak sulit. Tapi perlu kesungguhan. Di usia kita sekarang, mungkin kita sudah tidak se-energik dulu, tapi kita punya kematangan batin yang lebih. Mari lakukan langkah-langkah ini:

Pertama, hentikan segera. Kalau masih ada dosa atau kebiasaan buruk yang kita lakukan, berhenti sekarang juga. Jangan tunda. Tidak ada kata terlambat untuk berubah.

Kedua, tumbuhkan penyesalan yang dalam. Rasakan di hati bahwa apa yang kita lakukan itu salah, merugikan diri sendiri, dan membuat Allah murka. Penyesalan sejati akan mencegah kita mengulanginya lagi.

Ketiga, bulatkan tekad. Berjanjilah pada diri sendiri dan pada Allah untuk tidak kembali ke dosa yang sama. Di usia ini, kita sudah cukup dewasa untuk tahu mana yang baik dan mana yang buruk.

Keempat, jika dosa itu terkait dengan hak orang lain, segera selesaikan. Minta maaf, kembalikan haknya, perbaiki hubungan. Ini memang tidak mudah, tapi inilah inti dari taubat yang diterima.

Di bulan Ramadhan ini, perbanyak istighfar, terutama di waktu sahur ketika Allah turun ke langit dunia dan bertanya, "Siapa yang minta ampun, Aku ampuni." Perbanyak doa di waktu berbuka. Dan jangan lewatkan sepuluh malam terakhir untuk mencari Lailatul Qadar.

Jangan Biarkan Ramadhan Berlalu Sia-sia

Kita tidak tahu masih akan bertemu Ramadhan tahun depan atau tidak. Usia kita tidak bisa ditebak. Ramadhan kali ini bisa jadi yang terakhir.

Maka jangan biarkan bulan mulia ini berlalu seperti bulan-bulan biasa. Jangan sampai kita termasuk orang yang didoakan jelek oleh Jibril dan diaminkan Rasulullah.

Ramadhan adalah momentum untuk berdamai dengan diri sendiri, dengan masa lalu, dan dengan Allah. Momentum untuk bangkit kembali menjadi manusia yang lebih baik, yang layak menyandang gelar khalifah di muka bumi.

Allah menunggu kita kembali. Seperti Dia menunggu Adam kembali dengan taubatnya. Jangan seperti Iblis yang terus larut dalam kesombongan.

Mari, di usia yang semakin matang ini, kita jadikan Ramadhan sebagai titik balik. Saatnya mengaku, saatnya memohon ampun, saatnya kembali ke jalan yang lurus. Karena sejatinya, seberat apapun dosa kita, ampunan Allah selalu lebih luas.

Selamat beribadah, sahabat. Semoga kita semua dipertemukan dengan Lailatul Qadar dan diampuni segala khilaf. Aamiin.


4 Ramadhan 1447 H

Sebelumnya :