Hari Ke 3 : Ramadhan Bulan Al Qur'an dan Kewaspadaan Kepada Perusak Al-Qur'an*

Hari Ke 3 : Ramadhan Bulan Al Qur'an dan Kewaspadaan Kepada Perusak Al-Qur'an*

Dan bacalah Al-Qur'an dengan tartil (perlahan-lahan). Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu." (QS Al-Muzzammil: 4-5)

Oleh: Salas Aly Temur


Ramadhan bukan sekadar bulan puasa. Ia adalah bulan yang memiliki keistimewaan luar biasa karena di dalamnya Al-Qur'an diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Sebutan syahrul qur'an (bulan Al-Qur'an) melekat pada Ramadhan, mengingatkan kita bahwa ibadah puasa dan kitab suci ini memiliki keterkaitan yang tak terpisahkan. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 185:

"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)."

Ayat ini menjadi fondasi pemahaman kita bahwa kehadiran Al-Qur'an di bulan Ramadhan adalah anugerah terbesar yang patut disyukuri dengan cara berinteraksi aktif dengannya.

Keistimewaan Al-Qur'an yang Kontras

Al-Qur'an bukanlah kitab biasa. Fungsinya sebagai petunjuk dan penjelas (hudan wa bayyinat) membuatnya berbeda secara fundamental dari karya sastra atau kitab buatan manusia mana pun. Ia mengandung mukjizat yang menyertainya sepanjang zaman. Kemudahan untuk dibaca dan dihafal menjadi salah satu keajaiban yang tidak ditemukan dalam produk tulisan manusia. Bahkan, pengaruh psikologisnya sungguh unik: jiwa yang lelah menjadi segar, beban berat terasa ringan, dan kesenangan duniawi berubah menjadi kekhidmatan spiritual. Allah SWT berfirman:

"Dan bacalah Al-Qur'an dengan tartil (perlahan-lahan). Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu." (QS Al-Muzzammil: 4-5)

Keberkahan ini semakin terasa di bulan Ramadhan. Ketika kaum mukminin berbondong-bondong membaca Al-Qur'an, menuntaskan target khataman, dan merenungkan maknanya, maka ketenangan jiwa pun menyebar luas. Ramadhan menjadi bulan energi psikis-spiritual yang menyegarkan kembali hubungan manusia dengan Tuhannya.

Keluhan Rasulullah: Al-Qur'an yang Diabaikan

Namun ironisnya, tidak semua umat Islam menyambut Al-Qur'an dengan hangat. Sebagian justru alergi, enggan membaca, apalagi merenungkan dan mengamalkannya. Keluhan ini bahkan diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya:

"Berkatalah Rasul: 'Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur'an ini sebagai sesuatu yang diabaikan (mahjura).'" (QS Al-Furqan: 30)

Ayat ini turun dalam konteks kaum Quraisy yang menolak dakwah Nabi. Namun Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa cakupan ayat ini meluas hingga kepada setiap Muslim yang meninggalkan Al-Qur'an, baik enggan membaca, menghafal, memahami, apalagi mengamalkannya. Sebagian mufasir bahkan menafsirkan mahjura sebagai sikap memusuhi Al-Qur'an. Sungguh, ini adalah peringatan keras bagi generasi setelah Nabi hingga akhir zaman.

Perlawanan Quraisy: Model Penolakan Klasik

Sejarah mencatat bagaimana kaum Quraisy, terutama para cendekiawannya, melancarkan perlawanan sistematis terhadap Al-Qur'an. Sosok Nadhar bin Harits menjadi contoh nyata. Sebagai seorang yang berpengalaman luas karena perjalanan dagangnya hingga ke Persia, ia memiliki wawasan yang digunakan untuk mendebat Rasulullah.

Berbagai strategi ia lakukan. Ketika Rasulullah membacakan Al-Qur'an, Nadhar dengan cepat menyebutnya sebagai "dongeng orang-orang dahulu" (QS Al-Anfal: 31). Ia mengklaim kisah-kisah para raja Persia seperti kisah Rustum dan Isfandiar lebih menarik daripada cerita tentang umat-umat terdahulu. Tidak hanya itu, ia dan kroninya juga menciptakan kegaduhan, bersiul dan bertepuk tangan saat Al-Qur'an dibacakan, sebagaimana diabadikan dalam QS Fussilat: 26.

Bahkan yang lebih sistematis, Nadhar membeli seorang budak wanita penyanyi untuk mengalihkan perhatian orang-orang dari Al-Qur'an. Ia menjamu mereka dengan hiburan, sambil berkata bahwa itu lebih baik daripada ajaran Muhammad. Inilah yang dirujuk dalam QS Luqman ayat 6 tentang lahwal hadits (perkataan tidak berguna) yang digunakan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.

*Pelajaran dari Bani Israel: Godaan Al-Jasad*

Perlawanan terhadap kitab suci bukanlah fenomena baru. Al-Qur'an mengisahkan bagaimana Bani Israel mengabaikan Suhuf Uulaa (Lembaran Suci Musa As sebelumTaurat) setelah kepergian Nabi Musa untik menerima Taurat di Gunung Sinai. Dalam surat Thaha dan Al-A'raf, Allah menceritakan kemunculan Al-Jasad: patung anak sapi yang dibuat Samiri dari emas, yang mengeluarkan suara aneh dan mempesona.

Bani Israel yang baru saja menerima petunjuk Taurat, tiba-tiba terlena. Mereka meninggalkan firman Allah, lalu menari dan bersenang-senang mengikuti ritme suara patung tersebut. Kemarahan Nabi Musa memuncak hingga ia melemparkan loh-loh batu yang berisi sepuluh perintah Allah, dan hancurlah loh-loh itu.

Kisah ini bukan sekadar dongeng. Ia adalah peringatan abadi bahwa umat manusia mudah teralihkan dari petunjuk ilahi oleh sesuatu yang tampak menarik namun kosong nilai spiritualnya.

Tantangan Zaman: Al-Jasad Modern

Di era kontemporer, tantangan yang sama kembali hadir dalam bentuk yang lebih canggih. Al-Jasad masa kini menjelma dalam berbagai rupa: karya sastra, lagu-lagu, film, dan konten hiburan yang dirancang sedemikian rupa. Ia dirancang oleh para seniman yang mungkin tidak bertuhan, atau setidaknya tidak menjadikan nilai-nilai ilahi sebagai pijakan.


Fenomena seperti bocoran dokumen Jeffrey Epstein dan jaringan elit global yang memanfaatkan hiburan dan seni untuk mengalihkan perhatian publik hanyalah salah satu contoh kecil. Yang lebih masif adalah industri hiburan global yang setiap hari menyajikan ribuan konten untuk membuat manusia terlena, lupa pada petunjuk hidupnya, dan akhirnya menjauh dari Al-Qur'an.


Seniman-seniman besar dengan pengaruh luar biasa mampu menciptakan ritme yang membuat banyak orang "menari" tanpa sadar, persis seperti Bani Israel yang menari mengikuti suara patung anak sapi. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa di balik keindahan seni itu, ada upaya sistematis untuk memalingkan manusia dari pedoman hidup yang hakiki.


Penutup: Kembali ke Al-Qur'an di Bulan yang Mulia

Ramadhan adalah momentum emas untuk memutus rantai pengabaian itu. Di bulan ini, pintu-pintu surga dibuka, setan-setan dibelenggu, dan setiap kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Marilah kita jadikan Ramadhan sebagai titik balik untuk mengembalikan penghormatan kita kepada Al-Qur'an.

Bukan sekadar membaca, tetapi juga merenungkan, memahami, dan mengamalkan. Bukan sekadar mengejar khataman, tetapi juga menjadikan Al-Qur'an sebagai solusi atas setiap problem kehidupan. Dengan demikian, Al-Qur'an akan benar-benar menjadi pengiring setia ibadah kita di bulan Ramadhan, sekaligus penerang jalan hingga akhir hayat.

Semoga kita tidak termasuk golongan yang disebut Rasulullah dalam keluhannya, dan semoga kita dijauhkan dari tipu daya Al-Jasad modern yang memalingkan dari petunjuk ilahi.

Selamat menunaikan ibadah puasa, mari jadikan Ramadhan ini sebagai madrasah Al-Qur'an yang sesungguhnya.

3 Ramadhan 1447 H

Sebelumnya :