. Ustadz Hendri kembali menegaskan bahwa Ramadan adalah kesempatan emas yang belum tentu terulang.
BOGOR UMMATTV.COM – Malam pertama Ramadan 1447 H di Masjid Al I’tisham Budi Agung, Bogor mengikuti keputusan pemerintah jatuh pada Kamis 19 Februari 2026.
Dalam ceramah Tarawih perdananya, , Ph.D. mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum kembali kepada Al-Qur’an dan menyempurnakan amal ibadah, terutama sedekah dan zakat.
“Malam ini malam yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak terasa kita kembali memasuki bulan Ramadan. Rasanya baru kemarin, kini kita dipertemukan kembali dengan bulan penuh berkah ini,” ujarnya di hadapan jamaah
Ramadan dan Kesadaran Singkatnya Waktu
Dalam tausiyahnya, Ustadz Hendri mengingatkan bahwa hidup terasa singkat. Bahkan ketika seseorang meninggal dunia, ia akan merasa seakan hidupnya dipersingkat. Karena itu, Ramadan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai bulan perbaikan diri.
Ia menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup manusia. Ia mengibaratkan Al-Qur’an seperti buku manual sebuah kendaraan.
“Kalau mobil rusak, kita kembali ke manualnya. Begitu juga hidup kita. Ketika melenceng dari jalan lurus, maka kita harus kembali kepada petunjuk Allah,” jelasnya.
Karena itu, ia menghimbau jamaah untuk memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an selama Ramadan—baik dengan membaca, mempelajari, maupun menelaah tafsirnya.
“Minimal satu kitab tafsir ada di rumah kita. Apa pun tafsirnya. Yang penting kita punya dan kita baca,” pesannya.
Sedekah : Perniagaan yang Tidak Pernah Rugi
Pada bagian yang paling menggugah, Ustadz Hendri menekankan keutamaan sedekah di bulan Ramadan. Ia menjelaskan bahwa Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang-orang yang bersedekah.
“Keuntungan sedekah itu sampai 700.000 persen dari modal yang kita keluarkan. Bisnis apa di dunia ini yang marginnya sampai 700.000 persen?” ujarnya retoris.
Ia kemudian menguatkan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.”(QS. Al-Baqarah: 245)
Menurutnya, ayat ini menunjukkan bahwa sedekah adalah bentuk “transaksi” langsung dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Modalnya kecil, keuntungannya berlipat tanpa batas.
“Jangan ragu berjual beli dengan Allah. Tidak mungkin Allah ingkar janji. Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat, tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih sesuai kehendak-Nya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa sedekah tidak harus besar nilainya. Yang terpenting adalah konsistensi.
“Bersedekahlah walau sedikit, yang penting rutin dan istiqamah. Setiap malam kalau bisa ada sedekah kita,” ajaknya
Zakat Wajib, Sempurnakan 2,5 Persen
Selain sedekah sunnah, ia juga menekankan kewajiban zakat mal sebesar 2,5 persen dari harta yang telah mencapai nisab dan haul.
“Zakat itu wajib. Bukan hanya zakat fitrah. Mari kita hitung kembali harta kita. Bayangkan 2,5 persen itu kita sempurnakan,” ujarnya.
Menurutnya, zakat adalah bentuk penyucian harta sekaligus bukti nyata ketaatan seorang muslim kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Program Ramadan dan Siaran Live Menjelang buka
Ramadan di Masjid Al I’tisham Budi Agung juga diisi dengan berbagai program ibadah, mulai dari kajian Subuh, ceramah Tarawih, i’tikaf, hingga tahajud bersama.
Selain itu, selama Ramadan akan digelar ceramah menjelang berbuka puasa setiap hari mulai pukul 17.00 WIB hingga waktu berbuka. Kajian tersebut akan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Masjid Al I’tisham, sehingga jamaah dapat mengikuti dari mana pun berada.
Menutup ceramahnya, Ustadz Hendri kembali menegaskan bahwa Ramadan adalah kesempatan emas yang belum tentu terulang.