Puasa adalah ibadah yang unik, karena aktivitas orang yang berpuasa secara lahiriah bisa jadi tidak berbeda dengan yang tidak berpuasa.
Oleh: Salas Aly Temur
Bulan Ramadhan adalah tamu agung yang kedatangannya selalu dinanti oleh setiap muslim yang merindukan ampunan dan limpahan rahmat. Bukan sekadar bulan dalam kalender Hijriah, Ramadhan adalah momentum istimewa yang oleh Rasulullah SAW disarankan untuk disambut dengan kebahagiaan.
Dalam sebuah hadits, bahkan malaikat Jibril pun mendoakan keburukan bagi mereka yang menjumpai Ramadhan namun tidak terampuni dosanya, dan Rasulullah mengaminkan doa tersebut.
Ini menunjukkan betapa besarnya kerugian bagi orang yang diberi kesempatan hidup di bulan penuh berkah ini, namun lalai sehingga ajal menjemputnya dalam keadaan masih dibebani dosa tanpa ampunan.
Di tengah dinamika kehidupan akhir zaman yang kian kompleks, di mana memegang teguh keimanan diibaratkan seperti menggenggam bara api, umat manusia membutuhkan sebuah "rest area" bagi jiwa. Di sinilah urgensi Ramadhan menjadi sangat terasa. Bulan suci ini hadir sebagai oase spiritual, menyediakan ruang reorientasi hidup agar semakin bermakna.
Dengan ibadah utamanya, puasa, tadarus Qur'an dan qiyamul lail, Ramadhan memenuhi kebutuhan terdalam jiwa. Ia mengajak kita untuk sejenak melepaskan diri dari hiruk-pikuk dunia, merenung, dan mengisi ulang energi keimanan agar siap menghadapi berbagai problematika kehidupan yang semakin dilematis.
Rasulullah SAW juga memberikan motivasi ekstra dengan sabdanya bahwa di bulan Ramadhan, syetan-syetan dibelenggu. "Jika telah memasuki Ramadhan, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup, dan syetan dibelenggu" (HR Nasa'i 2070).
Kita perlu memahami bahwa godaan tidak hanya berasal dari syetan jin, tetapi juga dari syetan manusia yang memiliki sifat penggoda. Mereka adalah lingkungan dan bisikan-bisikan yang menjerumuskan pada dosa.
Meskipun demikian, Iblis/azazil sendiri, sebagai raja syetan, telah mengakui kelemahannya dalam menggoda Bani Adam. Firman Allah dalam QS. Shaad: 82-83, Iblis bersumpah akan menyesatkan manusia, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlasin (orang-orang yang terbiasa ikhlas). Ini adalah kabar gembira bahwa dengan memiliki karakter ikhlash, seorang mukmin akan memiliki benteng pertahanan yang tidak dapat ditembus oleh godaan syetan.
Lalu, bagaimana cara meraih predikat mukhlasin ini? Jawabannya ada pada esensi ibadah puasa itu sendiri.
Puasa adalah ibadah yang unik, karena aktivitas orang yang berpuasa secara lahiriah bisa jadi tidak berbeda dengan yang tidak berpuasa. Perbedaannya terletak pada niat dan kesadaran hati yang hanya diketahui oleh Allah. Puasa adalah ibadah hati yang dominan, dan di dalam hatilah iman bersemayam.
Ketika keikhlasan ini dipupuk dan diperkuat dengan ibadah-ibadah lain di bulan Ramadhan seperti shalat malam (qiyamul lail), bersedekah, dan mentadabburi Al-Qur'an, maka sifat ikhlas itu akan berangsur menjadi karakter. Inilah proses pembentukan pribadi mukhlasin di bulan yang suci.
Manusia mukhlasin adalah mereka yang mendapatkan limpahan cahaya ilahi. Di bulan Ramadhan, cahaya itu akan semakin mudah dicurahkan dalam bentuk Lailatul Qodr, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Dengan cahaya inilah, seorang mukmin memiliki imunitas spiritual yang prima untuk menghadapi tantangan-tantangan berat di akhir zaman. Mereka tidak lagi mudah goyah oleh bujuk rayu duniawi, karena hatinya telah terpaut pada Sang Pemilik Cahaya.
Sejarah telah membuktikan keberkahan manusia-manusia penuh cahaya ini. Di bulan Ramadhan, tepatnya pada Perang Badar, pasukan muslim yang jumlahnya jauh lebih kecil mampu meraih kemenangan gemilang melawan pasukan Quraisy pimpinan Abu Jahal yang tiga kali lipat lebih besar.
Kemenangan itu bukan semata karena strategi perang, melainkan karena pertolongan Allah yang menurunkan malaikat, makhluk cahaya, secara bergelombang untuk membantu mereka.
Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa dengan keimanan dan keikhlasan, seorang hamba bisa meraih pertolongan Allah di luar batas kemampuan manusia.
"Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.
(Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin, Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?" (QS Ali Imron 123-124)
Oleh karena itu, menyongsong Ramadhan berarti menyongsong datangnya cahaya. Jangan sampai kita menjadikan bulan ini sebagai alasan untuk bermalas-malasan dalam bekerja atau beraktivitas. Justru sebaliknya, Ramadhan harus menjadi sumber energi yang memacu kita untuk lebih produktif dan penuh keberkahan.
Mari kita sambut bulan yang agung ini dengan hati yang riang, jiwa yang haus akan ampunan, dan tekad yang bulat untuk menjadi bagian dari hamba-hamba-Nya yang mukhlasin, agar cahaya Ramadhan menerangi setiap langkah kehidupan kita di dunia hingga akhirat kelak.
Akhir Sya'ban 1447 Februari 2026
Untuk mendukung dakwah dan syiar melalui media ini silahkan supportingnya bisa ke rekening BSI No. 7144358807 an Yayasan Ummat Gemilang Mandiri
Konfirmasi: 0811172271