Hangatnya Ramadhan, Benteng Jiwa di Era Dunia Yang Gaduh*

Hangatnya Ramadhan, Benteng Jiwa di Era Dunia Yang Gaduh*

Kehangatan Ramadhan kian terasa ketika lantunan ayat suci Al-Qur'an mulai bergema. Tadarus, membaca Al-Qur'an secara tartil dan bergiliran,

Oleh: Salas Aly Temur


Begitu azan Magrib berkumandang di penghujung hari terakhir Bulan Sya'ban, bergantilah lembaran waktu. Sebuah babak baru nan mulia dimulai: bulan Ramadhan, syahrul mubarak, bulan yang penuh keberkahan. 

Udara mungkin basah oleh gerimis, karena Ramadhan 1447 H jatuh di musim penghujan. Namun, saat waktu Isya tiba, kehangatan mulai terasa. Masjid-masjid  mulai ramai, dipenuhi saf-saf panjang untuk menunaikan ibadah sunnah yang khas, salat Tarawih. Lebih dari sekadar rangkaian gerakan dan bacaan, Tarawih berjamaah menghadirkan kehangatan sosial dan spiritual, sebuah pengingat akan janji mulia bahwa amalan ini dapat menjadi sarana pengguguran dosa-dosa, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam HR Bukhori (37) 

Kehangatan Ramadhan kian terasa ketika lantunan ayat suci Al-Qur'an mulai bergema. Tadarus, membaca Al-Qur'an secara tartil dan bergiliran, menjadi aktivitas yang menghidupkan malam-malam Ramadhan. Bulan ini memang istimewa, karena ia adalah syahrul Qur'an, bulan diturunkannya kitab petunjuk bagi seluruh umat manusia. Peristiwa ketika wahyu pertama disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW, terjadi pada malam yang penuh kemuliaan di bulan Ramadhan, lima belas abad silam. Membaca Al-Qur'an di bulan ini bukan sekadar ritual, melainkan sebuah kebutuhan jiwa. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 45, bahwa ketika seorang hamba membaca Al-Qur'an dengan tartil dan penuh penghayatan, Allah akan memasang tabir penghalang yang tak terlihat, sebuah lapisan imunitas spiritual, dari pengaruh buruk orang-orang yang tidak percaya akan kehidupan akhirat. Ayat ini memberikan ketenangan luar biasa, sebuah jaminan perlindungan di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin kompleks dan menuju kekacauan. 

Perlindungan ini menjadi semakin relevan di era sekarang. Dunia dihadirkan serba canggih, dipenuhi kenyamanan dan kepraktisan teknologi yang sebagian besar disajikan oleh peradaban Barat yang sekuler. Materialisme dan gaya hidup hedonis perlahan menyusup, menawarkan kenikmatan sesaat yang melenakan. Jika seorang mukmin memiliki imunitas jiwa yang rendah, ia akan mudah hanyut. Ia bisa menjadi manusia mekanis, bergerak seperti robot tanpa ruh, tanpa koneksi dengan Penciptanya. Al-Qur'an menggambarkan kondisi ini sebagai "Al-Jasad" (tubuh tanpa jiwa). Manusia seperti ini hanya fokus pada dunia, melupakan tujuan penciptaan dan kehidupan setelah mati.

Bahaya terbesar muncul ketika kepemimpinan dunia jatuh ke tangan pribadi-pribadi "Al-Jasad" ini. Kebijakan yang lahir bukan lagi berpijak pada nilai-nilai keadilan dan kasih sayang (rahmat), melainkan pada nafsu kekuasaan dan kerusakan. Mereka akan semakin menjauhkan diri dan orang-orang yang dipimpinnya dari Allah SWT, Sang Pencipta Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. 

Kisah Nabi Sulaiman AS menjadi pelajaran berharga. Di balik kebesaran kerajaannya yang tak tertandingi, Nabi Sulaiman memiliki pandangan batin yang tajam. Ia melihat bahwa di penghujung hidupnya, ada ancaman besar dari "Al-Jasad" yang bahkan sempat membajak singgasana kerajaannya di dimensi jin, sebagaimana tersirat dalam QS. Shaad ayat 34-35 dan QS. Saba' ayat 14. Kesadaran inilah yang membuat Nabi Sulaiman berdoa agar tidak terlena dengan kekuasaan, dan memohon ampunan serta kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahnya. Kisah ini mengajarkan bahwa kekuasaan dan kemajuan materi tanpa landasan spiritual adalah bahaya laten yang dapat menghancurkan dari dalam.

Di tengah kekhawatiran akan gempuran "Al-Jasad" dunia modern, Ramadhan hadir sebagai benteng perlindungan. Menjelang waktu Subuh, kehangatan kembali menyelimuti rumah-rumah umat Islam. Aktivitas sahur, yang penuh keberkahan sebagaimana sabda Rasulullah SAW, menjadi momen penguatan fisik dan spiritual. Makan sahur adalah ibadah khas yang membedakan puasa umat Muhammad dengan umat-umat sebelumnya. Di sanalah, di saat separuh malam terakhir, doa-doa dipanjatkan, dan niat untuk berpuasa kembali diteguhkan. Suasana hangat penuh syukur ini menjadi energi positif untuk menjalani puasa di siang harinya. 

Semoga setiap detik di hari-hari Ramadhan kita tetap hangat, penuh kekhidmatan, dan mampu menjadi perisai dari segala pengaruh buruk peradaban materialistik. Semoga bulan suci ini melahirkan ketenangan hidup yang hakiki, baik lahir maupun batin, sehingga kita dapat kembali kepada fitrah sebagai hamba yang hanya bergantung kepada Allah SWT. Ramadhan adalah anugerah, sebuah stasiun pengisian ulang imunitas jiwa agar kita tidak menjadi "Al-Jasad" di tengah kemekaran dunia, melainkan tetap menjadi insan yang hidup dengan ruh dan cahaya petunjuk-Nya.


1 Ramadhan 1447 H

Sebelumnya :