Di penghujung renungan ini, marilah kita panjatkan doa terbaik. Semoga Allah SWT memberikan celah kemenangan bagi kaum muslimin di mana pun, khususnya bagi penduduk Gaza dan Palestina,
Sebuah Renungan tentang Gaza di Bulan Ramadhan)
Oleh: Salas Aly Temur (5 Ramadhan 1447)
Bulan Ramadhan kembali hadir membawa berkah dan ampunan. Di dalamnya, terdapat satu ibadah yang istimewa, yang langsung Allah kaitkan dengan diri-Nya tanpa perantara: puasa. Keistimewaan ini bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi menyimpan rahasia mendalam tentang sebuah pahala yang nilainya tak bertepi.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim (1945), Rasulullah SAW menjelaskan tentang sistem apresiasi Allah terhadap amal sholeh. Setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya secara terukur, antara 10 hingga 700 kali lipat. Namun, terdapat satu pengecualian yang membuat puasa begitu istimewa. Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi, "Setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya." Ketidakterukuran pahala inilah yang menjadi misteri sekaligus kemuliaan bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa dengan penuh keimanan.
Lalu, apa yang menyebabkan puasa memiliki nilai pahala yang tak terbatas? Jawabannya terungkap dalam firman Allah QS. Az-Zumar ayat 10: "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." Ayat ini menjadi kunci untuk memahami hubungan erat antara puasa dan amalan hati yang bernama sabar. Puasa pada hakikatnya adalah madrasah kesabaran; sabar menahan lapar, sabar menahan haus, sabar menahan hawa nafsu, dan sabar dalam ketaatan.
Dari sinilah kita menemukan benang merah antara Al-Qur'an dan hadits. Seorang yang berpuasa adalah seorang yang teruji keikhlasannya. Secara lahiriah, antara yang berpuasa dan tidak, sulit dibedakan. Namun, yang membedakan adalah keikhlasan di dalam hati. Mereka yang mampu memadukan kesabaran dengan keikhlasan inilah yang disebut sebagai mukhlis, hamba yang ikhlas. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hijr ayat 40, bahwa Iblis dan bala tentaranya tidak akan mampu menundukkan mereka yang mukhlis. Maka, dapatlah dipahami betapa tingginya nilai ibadah orang yang sabar dan ikhlas. Tidak ada orientasi pahala dari siapa pun kecuali dari Allah semata. Dan untuk melatih diri menjadi seorang mukhlis, puasa adalah sarana utamanya.
Relevansi nilai kesabaran ini terasa sangat nyata di era kita hari ini. Umat Islam tengah diuji dengan berbagai bentuk kooptasi. Sejak abad ke-17, sebagian besar dunia Islam berada dalam cengkeraman penjajahan peradaban Barat. Bentuk kooptasi itu mungkin telah berganti wajah, tetapi esensinya masih tersisa. Hari ini, ujian terberat kesabaran umat Islam terpusat di Palestina, khususnya Gaza. Di sana, saudara-saudara kita hidup di bawah tekanan, blokade, dan agresi yang tak kunjung reda.
Kita pun menjadi paham mengapa Rasulullah SAW pernah bermimpi melihat cahaya dari negeri Syam. Beliau terbangun dan bersabda bahwa di akhir zaman, iman itu akan terkumpul di negeri Syam. Mengapa negeri Syam? Karena penduduknya, termasuk Palestina, terus menjaga keimanan dan berjuang mempertahankan kehormatan tanah suci Yerusalem dengan kesabaran yang tak pernah padam. Kesabaran dalam berjuang telah mendarah daging dalam diri mereka. Mereka yakin, setiap tetes keringat dan darah yang tertumpah adalah investasi untuk pahala besar di sisi Allah yang tak bertepi.
Saudara-saudara kita di Gaza menjalankan ibadah puasa di tengah reruntuhan dan obok-obok kaum zionis beserta para pendukungnya. Namun, mereka tetap tegar. Bagi mereka, ibadah puasa adalah sarana terbaik untuk meraih pahala tak berhingga yang kelak akan mereka terima di alam keabadian. Mereka tak peduli pada manuver "Board of Peace" atau berbagai agenda perdamaian palsu yang digagas oleh para perusak akhir zaman. Semua itu hanyalah lelucon insani yang tak akan mampu memudarkan semangat juang dan kesabaran mereka hingga akhir zaman.
Di penghujung renungan ini, marilah kita panjatkan doa terbaik. Semoga Allah SWT memberikan celah kemenangan bagi kaum muslimin di mana pun, khususnya bagi penduduk Gaza dan Palestina, melalui kesabaran yang mereka jalani di bulan suci ini. Dunia kelak akan menyaksikan sendiri bagaimana pertolongan Allah datang kepada negeri Syam yang diberkahi. Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang sabar yang mendapat pahala tak bertepi.
Wallahu a'lam bish-shawab.