Posisi Indonesia di tengah bara perang: Menjadi Jembatan di Tengah Badai

Posisi Indonesia di tengah bara perang: Menjadi Jembatan di Tengah Badai

Jangan biarkan infiltrasi asing, baik melalui pemikiran maupun kepentingan politik, memecah belah persatuan kita

Oleh; Bachtiar Nasir


Di tengah dentuman mesiu di Teheran, mata dunia kini juga tertuju pada Jakarta. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan pemegang mandat konstitusi untuk ikut menjaga ketertiban dunia, Prabowo sebagai presiden Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton pasif. Ada tiga langkah strategis yang harus diambil pemerintah dan umat Islam Indonesia:

1. Diplomasi Aktif "Jalan Tengah"

Indonesia harus segera mengambil inisiatif di level Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan PBB. Di satu sisi kita tidak boleh terjebak dalam polarisasi Barat vs Timur atau konflik sektarian. Tetapai suara Indonesia harus menjadi suara kemanusiaan yang mendesak penghentian agresi militer sekaligu suara Negera Muslim Terbesar yang menunjukkan sikap tegasnya dalam menyikapi penjajahan dan hegemoni, Indonesia harus bertindak cepat mencegah meluasnya perang terbuka yang hanya akan mengorbankan warga sipil tak berdosa. Kita harus mengingatkan dunia bahwa stabilitas di Selat Hormuz adalah urat nadi ekonomi global, termasuk ketahanan energi kita sendiri.

2. Mengantisipasi Dampak Ekonomi Domestik

Secara realistis, Wafatnya Khamenei dan ketegangan di Teluk Persia akan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Pemerintah Indonesia perlu segera memperkuat bantalan sosial dan memastikan pasokan energi nasional tetap terjaga. Ini adalah ujian bagi kemandirian ekonomi kita. Jangan sampai krisis di Timur Tengah menjadi alasan bagi perpecahan di dalam negeri akibat tekanan ekonomi. Karena tak dapat dipungkiri ada skenario global yang sedang menyeret Indonesia ke dalam pusan konflik besar. 

3. Konsolidasi Umat: Hindari Fitnah Sektarian

Inilah saatnya bagi ulama dan tokoh bangsa di Indonesia untuk merapatkan barisan. Kematian tokoh besar seperti Khamenei sering kali memicu perdebatan teologis dan politik yang panas di media sosial. Saya menyerukan kepada seluruh umat: Tahan tangan dan lisan kita dari fitnah. Fokuslah pada fakta bahwa saudara-saudara kita di Iran, Palestina, dan Lebanon kini berada dalam ancaman pembersihan besar-besaran oleh kekuatan hegemonik global. Musuh-musuh Islam menginginkan kita terpecah dalam perdebatan internal sementara mereka mencengkeram sumber daya kita.

Penutup: Muhasabah Bangsa

Peristiwa besar di awal Maret 2026 ini adalah "ayat-ayat kauniyah" yang menunjukkan betapa rapuhnya kekuasaan manusia. Jika sebuah kekuatan sebesar Iran bisa diguncang dalam semalam, maka tidak ada alasan bagi kita untuk sombong.

Mari kita jadikan momentum ini untuk memperkuat kedaulatan bangsa Indonesia. Jangan biarkan infiltrasi asing, baik melalui pemikiran maupun kepentingan politik, memecah belah persatuan kita. Indonesia harus kuat secara internal agar bisa menjadi "Rumah Pendamai" bagi dunia Islam yang sedang terkoyak.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa melindungi bangsa ini dan memberikan kekuatan kepada para pemimpin kita untuk mengambil keputusan yang diridhai-Nya di masa-masa sulit ini.

Sebelumnya :