Program MBG di Indonesia bukan sekedar menyediakan makanan gratis bagi rakyat yang memang sangat membutuhkan
Oleh: Prof. Veni Hadju
Program MBG (Makan Bergizi Gratis) terus meluas jangkauannya. Jumlah dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terus bertambah. Pada akhir April 2026, tercatat sebanyak 27.735 SPPG di seluruh Indonesia dengan jumlah sajian per hari sebanyak 62.942.237 porsi per hari. Disamping itu jumlah sekolah penerima manfaat sebanyak 365.542 sekolah dengan tenaga kerja yang terlibat aktif sebesar 1.217.904 orang. Di tengah kritikan dan protes yang terus bermunculan, testimoni penerima manfaat juga terus terdengar. Banyak sekolah yang melaporkan bahwa jumlah siswa yang absen berkurang secara signifikan dan kegairahan belajar anak meningkat.
Tidak sedikit yang masih mempertanyakan apakah Indonesia butuh MBG. Disadari bahwa informasi dampak MBG dalam membangun kualitas SDM ke depan masih terbatas. Banyak yang belum paham bahwa masalah kemiskinan dan ketimpangan tingkat kesejahteraan di negara ini bersumber dari rendahnya kualitas sumber daya manusia yang ada. Walaupun Indonesia memiliki bonus demografi di mana kelompok umur angkatan kerja melebihi setengah populasi, namun jumlah ini tidakk akan memberikan arti yang banyak jika kemampuan mereka terbatas.
*Kualitas SDM yang rendah*
Penilaian kualitas SDM di setiap negara menggunakan Human Development Index atau indeks pembangunan manusia (IPM). Di tingjat dunia, Indonesia menempati urutan ke 113 dari 193 negara (UNDP, 2023) dengan skor 0,728 dan berada di bawah Malaysia (0,811), Thailand (0,798), dan Vietnam (0 766). Nilai skor Indonesia di tahun 2025, terlihat ada peningkatan yaitu menjadi 0,759 walaupun negara lainnya juga meningkat. Dengan skor ini Indonesia harus bekerja lebih keras lagi agar tidak tertinggal dari negara lainnya.
IPM dibuat berdasarkan 3 indikator yaitu Bidang Kesehatan (umur harapan hidup), Pendidikan (rata-rata lama sekolah atau harapan lama sekolah) dan Ekonomi (Pengeluaran per kapita per tahun). Dari pengukuran tiga bidang ini, kondisi yang ada masih jauh dari yang diharapkan. Untuk rata-rata lama sekolah.pada tahun 2025 hanya 8,85 tahun yang artinya pendidikan rakyat Indonesia rata-rata tidak tamat SMP (kurang dari 9 tahun). Ini selalu menjadi tantangan yang terus diperjuangkan namun perbaikannya masih sangat lambat. Angka partisipasi sekolah yang rendah dan drop out yang tinggi masih menjadi masalah yang dihadapi di berbagai wilayah khususnya daerah pedesaan.
Selain IPM, Bank Dunia memperkenalkan alat ukur kualitas SDM suatu negara yang dikenal dengan Human Capital Index (HCI). Berbeda dengan IPM, alat ukur ini menggunakan indikator yang lebih sensitif di mana untuk Bidang Pendidikan mengukur kemampuan anak belajar dan pencapaiani prestasi akademis. Untuk Bidang Kesehatan mengukur derajat kesehatan dan jumlah anak stunting sedangkan untuk Bidang ketiga adalah Kemampuan Kerja yaitu mengukur kemampuan orang dewasa untuk bekerja dan memperoleh pendapatan. Kedudukan Indonesia di antara negara-negara ASEAN juga berada di urutan bawah. Indonesia hanya memperoleh skor 0,54 (tahun 2020). Angka ini jauh dari Korea Selatan (0, 84), Jepang (0, 80), Vietnam (0, 69), serta Malaysia dan Thailand (0, 61).
*Status gizi anak sekolah*
Fakta yang sangat memprihatinkan juga terlihat dari hasil survey nasional terakhir (2023) tentang status gizi anak sekolah dii jenjang TK/SD sederajat (5-12 tahun), SMP sederajat (13-15 tahun), dan SMA sederajat (16-18 tahun). Betapa tidak, ditemukan anak yang mengalami wasting (acute malnutrition) atau proporsi berat badan tidak sesuai tinggi badan masih sangat tingg. Anak yang dikategorikan wasting kadang disebut "anak lapar' karena ini menunjukkan kandungan zat gizi khususnya sumber energi seperti karbohidrat, protein, dan lemak yang dikonsumsi lebih rendah dari kebutuhannya. Survey memperlihatkan angka wasting berturut-turut pada anak laki-lakii sebesar 78,6℅, 44,3℅, dan 27, 9℅ untuk TK/SD, SMP, dan SMA. Pada anak perempuan berturut-turut sebesar. 78,5℅. 36,3℅, dan 78,6.℅ untuk TK/SD, SMP, dan SMA. Angka ini menunjukkan bahwa banyak anak sekolah kita yang kelaparan.
Data kekurangan gizi ini ternyata diikuti juga dengan meningkatkan kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas pada anak sekolah. Dalam lima bekas tahun terakhir terlihat peningkatan anak sekolah yang mengalami obesitas terus meningkat. Hasil survey 2023 memperlihatkan anak yang mengalami kegemukan pada kelompok anak sekolah berrturut-turut.19,7℅, 16,2℅, dan 12,1℅ untuk TK/SD, SMP, dan SMA. Di mana angka ini meningkat hampir dua kali lipat dibanding pengukuran pada tahun 2007. Angka ini juga diikuti oleh peningkatan obseitas pada orang dewasa. Akses makanan junk food yang semakin mudah dan perkembangan teknologi informasi membuat pola makan sebagian anak menjadi tidak seimbang dan berlebihan.
Nikai Investasi
Program MBG memang mahal. Negara-negara lain seperti India, Pakistan, Mesir, Peru, dan Brazil yang melaksanakan program ini juga mengalokasikan dana yang tidak sedikit. Saat ini, Indonesia termasuk negara ke dua setelah India dalam jumlah porsi makanan yang diproduksi setiap hari. India memberi makan dengan jumlah 118 juta porsi setiap hari dan Indonesia sebanyak 61 juta porsi. Indonesia menargetkan jumlah ini terus meningkat dengan besaran 82,9 juta di akhir tahun 2026 ini. Dengan target sebanyak ini membuat alokasi anggaran yang dipersiapkan tahun ini sebesar 268 Triliun rupiah. Sebagian orang melihat anggaran ini terlalu fantastis. Namun hanya sepeedua dari dana Bansos yang dikeluarkan pemerintah setiap tahun.
Berdasarkan kajian ilmiah yang telah dilaksanakan dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan bahwa investasi gizi melalui pemberian makanan pada anak sekolah memberikan dampak yang sangat besar. Hasil kajian oleh Verguet dkk., (2020) memperlihatkan investasi gizi melalui pemberian makanan pada anak sekolah oleh beberapa negara yang masuk pada kategori berpendapatan rendah sampai menengah akan mengembalikan nilai ekonomi (Return of Investment) sebanyak 7-35 kali lipat. Variasi angka ini tergantung pada negaranya. Artinya belanja negara satu dollar per tahun untuk intervensi gizi pada anak sekolah akan memberikan pengembalian sebesar 7-35 dollar per tahun. Pengembalian investasi ini diperoleh dari peningkatan produktivitas, pengurangan biaya kesehatan, dan peningkatan pendapatan individu.
Studi terbaru yang dilakukan oleh Choudhary dkk. (2025) juga memperlihatkan bahwa intervensi gizi selama kehamilan dan anak Balita yang dilaksanakan di India memoerlihatkan nilai pengembalian investasi yang relatif tinggi. Untuk investasi gizi pada ibu hamil sebesar 9,9 kali lipat sedangkan pada anak Balita sebesar 6,1 kali lipat. Hasil kajian inilah yang mendorong setiap negara melakukan investasi gizi yang besar untuk masa d epan yang lebih baik.
Penutup
Kehadiran MBG di Indonesia diharapkan menjadi solusi atas permasalah kualitas SDM yang ada. Apakah MBG di Indonesia mampu menurunkan anak yang lapar (kekurangan gizi akut) dan sekaligus anak yang cenderung makan berlebihan sehingga menyebabkan kegemukan/obes? Hasil evaluasi program MBG di Jepang pada tahun 2019 telah memperlihatkan hal ini. Angka obesitas pada anak Jepang yang mengikuti program MBG terus menurun. Program MBG yang disertai edukasi yang adekuat membuat anak-anak paham dan menyadari bahwa mereka harus membatasi diri dengan pola makan seimbang dan aktifitas yang cukup.
Program MBG di Indonesia bukan sekedar menyediakan makanan gratis bagi rakyat yang memang sangat membutuhkan, namun sebagai pondasi yang kuat yang akan mengantar bangsa ini dalam menyelesaikan keterpurukan kualitas SDM yang ada. Ketimpangan ini diharapkan bisa diselesaikan sebelum Indonesia berada pada tahun emas kemerdekaannya. Keberadaan MBG di Indonesia saat ini memang masih menghadapi tantangan yang besar. Selain penolakan yang masih sering terdengar dari sebagian masyarakat, juga masih ditemukan implementasi program oleh penyelenggara SPPG yang tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Saat ini ada sekitar 4000 SPPG yang dihentikan beroperasi sementara. Mereka diminta memenuhi standar yang ada agar pelayanan yang diberikan menjadi lebih baik.
Indonesia membutuhkan program yang mulia ini. Dengan berbagai keterbatasan yang ada, pemerintah terus mendorong partisipasi dari seluruh komponen di masyarakat termasuk dunia Perguruan tinggi. Sangat diperlukan kajian ilmiah bagaimana program MBG bisa hadir di seluruh wilayah nusantara terutama pada daerah dengan kondisi geografis yang sulit. Sangat disadari bahwa kebutuhan akan hadirnya MBG di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar sangat besar. Disamping itu keberlanjutan program yang akan meningkatkan tingkat perekonomian di masyarakat perlu kajian yang mendalam. Kita semua berharap bahwa MBG akan hadir di seluruh wilayah nusantara sehingga kita bisa melihat tingkat pendidikan dan derajat kesejahteraan masyarakat yang merata di seluruh wilayah nusantara. Wallahu'alam bishshawwab.
Veni Hadju adalah Guru Besar Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Ketua Kelompok Riset Gizi Ibu dan Anak, Universitas Hasanuddin.
(Tulisan diatas telah terbit di fajar.co.id dengan judul APA INDONESIA MASIH MEMBUTUHKAN MBG ? )