• +6281 1987 271

BAZNAS Dorong Pengembangan Usaha Mustahik melalui Permodalan Usaha Tanpa Bunga

BAZNAS Dorong Pengembangan Usaha Mustahik melalui Permodalan Usaha Tanpa Bunga

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) melalui BAZNAS Microfinance terus berupaya memberdayakan mitra mustahik pelaku usaha mikro melalui fasilitasi kemudahan akses permodalan tanpa bunga dan pendampingan usaha serta terus mengupayakan kemajuan dan kemandirian usaha mitra mustahik pelaku usaha mikro.

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) melalui BAZNAS Microfinance terus berupaya memberdayakan mitra mustahik pelaku usaha mikro melalui fasilitasi kemudahan akses permodalan tanpa bunga dan pendampingan usaha serta terus mengupayakan kemajuan dan kemandirian usaha mitra mustahik pelaku usaha mikro.

Salah satunya adalah usaha kerupuk peyek milik Yeti (46), di Kelurahan Birugo, Bukittinggi, Sumatera Barat. Yeti atau akrab disapa Buk Yeti, merupakan salah satu mitra yang baru saja bergabung menjadi mitra binaan yang memperoleh manfaat permodalan dari BMD Bukittinggi.

Buk Yeti memanfaatkan modal yang diberikan untuk mengembangkan usaha kerupuk nya, yang pada awalnya ia hanya menjual kerupuk peyek dengan omset penjualan 3.100.000/bulan, namun kini setelah menerima bantuan permodalan dari BAZNAS Microfinance, ia mencoba membuat produk kerupuk dengan inovasi baru yaitu kerupuk daun kacang tujuah jurai yang masih dalam pasca perkenalan pasar dengan sistem pemesanan. Bulan lalu ia sudah menerima pesanan sebanyak 220 pcs dengan harga jual 10.000 - 20.000 /pcs.

Buk Yeti menceritakan, awal mula ia membuat kerupuk ini terinspirasi dari kerupuk bayam yang ia baru sadari bahwa ternyata banyak diminati konsumen. Ia terus berupaya agak produk barunya ini dapat terus berkembang kedepannya dan sudah membuat merek serta P-IRT agar bisa dipasarkan lebih luas ke warung-warung makan.

"Setelah menerima tambahan modal usaha dari BAZNAS dan pengembangan produk yang awalnya hanya kerupuk peyek saja, sekarang sudah bertambah dengan kerupuk daun kacang tujuah jurai yang mana omzet usaha saya meningkat menjadi Rp 3.600.000/bulan", tutur Yeti.

Seiring waktu berjalan, Yeti mengatakan, kendala yang paling di rasakan saat ini yaitu harga minyak masih mahal, walaupun sudah ada yang murah tapi masih di batasi enam liter/orang itupun harus antri untuk mendapatkanya.

Sumber : BAZNAS

Sebelumnya :
Selanjutnya :