Ustad Ilham : Seandainya di Ramadan ini kita bisa benar-benar memahami dan mengamalkan lima ayat saja dari Al-Qur’an dengan baik, maka itu sudah menjadi perubahan besar bagi kehidupan kita,”
Bagian Pertama
(Pesan Ustadz Ilham Jaya Usai Shalat Tarawih di rujab Pak Tamsil Linrung Jakarta)
Mengajak kaum Muslimin untuk mengoptimalkan amal ibadah pada malam-malam Ramadan, khususnya dengan memperbanyak sedekah, menjaga silaturahim, serta mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Pesan tersebut ia sampaikan dalam tausiyah singkat usai salat tarawih pada Senin (9/3/2026).
Dalam nasihatnya, Ustadz Ilham menekankan pentingnya memanfaatkan malam-malam Ramadan sebagai kesempatan meraih keutamaan, termasuk dengan mengatur kebiasaan bersedekah secara rutin.
“Di malam-malam seperti ini kita bisa mengatur diri, misalnya selama sepuluh hari berturut-turut kita bersedekah walaupun sedikit. Kita berharap ada di antara sedekah itu yang bertepatan dengan malam Lailatul Qadar,” ujarnya.
Selain sedekah, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan keluarga, terutama bagi mereka yang berada jauh dari orang tua. Menurutnya, kemajuan teknologi saat ini memudahkan setiap orang untuk tetap menjalin silaturahim.
“Bagi yang jauh dari orang tua atau keluarga, minimal menyapa mereka. Sekarang sudah ada video call, sehingga kita bisa menghadirkan kebahagiaan di hati orang tua yang memiliki hak besar atas kita,” tambahnya.
Ustadz Ilham juga mendorong umat Islam untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an, termasuk membaca Surah Al-Ikhlas yang memiliki keutamaan besar. Ia menjelaskan bahwa membaca satu kali Surah Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Al-Qur’an.
“Jika dalam satu malam kita membaca tiga kali Surah Al-Ikhlas dengan niat karena Allah, maka seakan-akan kita mendapatkan pahala seperti membaca satu kali khatam Al-Qur’an,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa seorang Muslim tidak harus mengetahui secara pasti kapan datangnya malam Lailatul Qadar untuk meraih keutamaannya. Hal terpenting adalah kesungguhan dalam beribadah di malam-malam tersebut.
“Hadis Nabi menyebutkan, siapa yang beribadah pada malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka dosanya akan diampuni. Hadis itu tidak menyebutkan bahwa orang tersebut harus tahu bahwa malam itu adalah Lailatul Qadar,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Ilham juga menyoroti pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber hidayah melalui proses tadabbur. Ia menjelaskan bahwa membaca, menghafal, dan mempelajari Al-Qur’an adalah langkah awal, namun tujuan akhirnya adalah memahami dan mengamalkan petunjuk yang terkandung di dalamnya.
“Majelis membaca, menghafal, atau tadabbur Al-Qur’an itu ibarat jembatan, bukan tujuan akhir. Tujuan sebenarnya adalah mendapatkan hidayah dan mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan,” tuturnya.
Ia mencontohkan metode para sahabat Nabi dalam mempelajari Al-Qur’an. Menurutnya, para sahabat tidak berpindah ke ayat berikutnya sebelum memahami dan mengamalkan ayat yang dipelajari.
“Para sahabat belajar Al-Qur’an tidak banyak, bahkan hanya sekitar sepuluh ayat. Mereka tidak meninggalkan ayat tersebut sampai memahami maknanya dan mengetahui bagaimana mengamalkannya,” jelasnya.
Ustadz Ilham juga menyarankan agar umat Islam membagi interaksi dengan Al-Qur’an ke dalam beberapa bentuk, seperti menghafal, membaca untuk khatam, dan waktu khusus untuk tadabbur. Dalam proses tadabbur, ia menganjurkan agar jamaah mencatat pelajaran penting dari ayat yang dipelajari agar lebih fokus dan serius dalam memahami Al-Qur’an.
Ia menutup tausiyahnya dengan mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum memperdalam hubungan dengan Al-Qur’an. Menurutnya, jika seseorang mampu memahami dan mengamalkan beberapa ayat Al-Qur’an secara mendalam selama Ramadan, maka hal itu sudah menjadi capaian yang sangat berharga.
“Seandainya di Ramadan ini kita bisa benar-benar memahami dan mengamalkan lima ayat saja dari Al-Qur’an dengan baik, maka itu sudah menjadi perubahan besar bagi kehidupan kita,” pungkasnya.