Nikmat Bisa Jadi Musibah, Ini Kunci Agar Berubah Jadi Berkah

Nikmat Bisa Jadi Musibah, Ini Kunci Agar Berubah Jadi Berkah

Kajian ini mengingatkan bahwa syukur sejati bukan hanya tentang menikmati nikmat, tetapi bagaimana nikmat itu mengantarkan seseorang menjadi lebih taa

Oleh Dr.Samsul Basri

29 Ramadhan 1447


Berikut pelajaran yang bisa diambil dari kisah nabi Ibrahim alaihissalam, syukur bukan sekadar ucapan, tetapi harus hadir dalam tiga dimensi utama: hati, lisan, dan perbuatan. Ketiganya menjadi kunci agar nikmat yang diberikan Allah tidak berubah menjadi sebab kesombongan.

Pertama, syukur dengan hati, yaitu menyandarkan seluruh nikmat hanya kepada Allah. Dalam hal rezeki misalnya, seseorang tidak boleh menggantungkan diri pada jabatan, usaha, atau kemampuannya semata. Semua itu hanyalah perantara. Sikap ini menjadi pembeda antara orang yang bersyukur dan yang sombong.

Sisipkan gambar ...

Mencontohkan kisah Qarun yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Ia merasa seluruh keberhasilannya berasal dari kecerdasannya sendiri. Sikap ini justru mendatangkan murka Allah. Sebaliknya, teladan terbaik ditunjukkan oleh  dan keturunannya, yang senantiasa mengaitkan segala nikmat kepada Allah, bukan kepada diri mereka.

Kedua, syukur dengan lisan, yakni memperbanyak pujian kepada Allah serta menceritakan nikmat-Nya dengan penuh kerendahan hati. Bukan untuk pamer, tetapi untuk menginspirasi orang lain bahwa setiap kemudahan adalah bentuk pertolongan Allah. Dengan cara ini, syukur ko menjadi energi kebaikan yang menular.

Sisipkan gambar ...

Ketiga, syukur dengan amal perbuatan, yaitu menggunakan seluruh nikmat sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah. Nikmat sehat, waktu, masa muda, hingga kemampuan berpikir, semuanya harus diarahkan untuk ibadah.

Dalam hal ini, kisah  dan putranya, , menjadi teladan nyata. Keduanya diberi amanah untuk membangun dan memakmurkan rumah Allah. Mereka tidak hanya bersyukur dengan ucapan, tetapi dengan pengabdian total dalam melayani tempat ibadah.

“Cintai aktivitas memakmurkan masjid, karena itu adalah pekerjaan para nabi,” ujar Dr. Samsul.

Ia menegaskan, semakin besar nikmat yang diterima, seharusnya semakin dekat seseorang kepada Allah. Bukan sebaliknya, justru lalai dan terjerumus dalam kesenangan dunia.

Kajian ini mengingatkan bahwa syukur sejati bukan hanya tentang menikmati nikmat, tetapi bagaimana nikmat itu mengantarkan seseorang menjadi lebih taat. Dari sinilah, nilai-nilai keteladanan Nabi Ibrahim relevan untuk dihidupkan kembali dalam kehidupan umat saat ini.


Artikel diatas disarikan dari kajian Itikaf Subuh, kamis 19/3/2026, masjid Azura Kemang Bogor II Anwar Aras 

Sebelumnya :