Tugas kita memperkuat habluminallah (tali Allah) dan habluminannas (tali persaudaraan sesama muslim), ...
Oleh : Salas Aly Temur
26 aramadhan 1447 H
Ramadhan 1447 H akan segera meninggalkan kita. Bulan yang penuh berkah ini hampir usai, namun kegelapan krisis yang menyelimuti dunia belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sirna.
Dunia masih dalam tatapan cemas, menyaksikan konflik dahsyat yang belum berakhir antara Iran dan rezim Zionis Israel yang didukung penuh oleh Amerika Serikat. Namun, perang yang berkecamuk kali ini bukanlah perang konvensional biasa. Ia adalah pertempuran di penghujung zaman yang menggunakan platform eskatologis, di mana setiap pihak memaknai lawannya sebagai simbol kekacauan akhir zaman (Gog dan Magog), dan dijalankan dengan strategi multi-dimensi; memadukan serangan militer langsung, perang proksi, hingga peperangan siber.
Bagi Iran dan poros perlawanan, Amerika Serikat dan Zionis adalah perwujudan dari Ya'juj wa Ma'juj (Gog and Magog) yang berusaha merusak bumi.
Sebaliknya, narasi yang dibangun oleh Zionis juga tak kalah sengit; mereka memandang Iran, Rusia, dan kekuatan-kekuatan yang menentang hegemoni mereka sebagai 'Gog and Magog' versi baru yang harus dihadapi. Pandangan dunia yang diametral dan sarat muatan teologi ini telah melahirkan sebuah bentuk perang baru yang kompleks. Perang hari ini tidak lagi cukup diukur dengan luasan wilayah yang dikuasai atau jumlah korban di medan tempur.
Serangan terjadi di ruang siber yang menghancurkan infrastruktur vital, di medan proksi melalui kelompok-kelompok yang didanai dari jarak jauh, dan tetap berlangsung di garis depan konvensional. Akibatnya, hasil akhir dari konflik ini sulit diprediksi oleh kajian-kajian militer konvensional. Linearitas sebab-akibat dalam perang klasik telah runtuh, digantikan oleh pusaran kompleksitas yang sulit diurai nalar manusia.
Di tengah pusaran kompleksitas inilah, seorang muslim memiliki bingkai yang kokoh untuk membaca zaman: Al-Qur'an. Ia bukan sekadar kitab suci, melainkan hudan (petunjuk) dan mukjizat yang abadi hingga akhir zaman.
Allah SWT dengan tegas menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah al-haqqul yakin (kebenaran yang meyakinkan) dan ia diturunkan untuk menjelaskan segala sesuatu (QS. An-Nahl: 89). Maka, untuk memahami hakikat perang ini, kita harus kembali merujuk pada sumber petunjuk tersebut.
Dalam perspektif Islam, perang adalah salah satu opsi jalan untuk mempertahankan kebenaran dan menegakkan keadilan, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam berbagai peperangan membela kaum Muslimin.
Namun, bagi orang-orang kafir, terutama mereka yang dikuasai mentalitas pedagang perang, motifnya berbeda. Bagi mereka, perang adalah sarana untuk mengendalikan sumber daya lawan dan mengeruk keuntungan. Sejarah mencatat, jauh sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, kaum Yahudi di Yatsrib telah lama mempraktikkan politik devide et impera.
Mereka secara sistematis mengadu domba suku Aus dan Khazraj, menciptakan permusuhan abadi di antara keduanya. Konflik berkepanjangan itu adalah 'ekosistem bisnis' mereka; perang saudara menjamin keamanan dan pengaruh mereka di oasis tersebut. Namun, ketika para pemimpin Aus dan Khazraj menyadari bahwa mereka telah dijadikan komoditas, mereka pun mencari jalan keluar.
Hingga akhirnya, di suatu musim haji, mereka bertemu Rasulullah SAW, berbaiat masuk Islam, dan mengundang beliau untuk berhijrah ke Madinah. Momentum itu adalah awal dari berakhirnya bisnis perang kaum Yahudi di Yatsrib, digantikan oleh fondasi persaudaraan Islam yang kokoh.
Kisah ini memberikan pelajaran berharga bagi kita hari ini. Seluruh upaya kaum Yahudi (dalam hal ini gerakan Zionis modern) untuk menjadikan perang sebagai ladang bisnis dan alat mempertahankan hegemoni, pada hakikatnya akan selalu berhadapan dengan ketetapan Allah SWT. Allah secara eksplisit berfirman dalam Surah Al-Ma'idah ayat 64:
... كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِّلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
_"...Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya. Mereka berusaha (menimbulkan) kerusakan di bumi, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."_
Ayat ini adalah janji Allah. Bahwa betapapun dahsyatnya api perang yang mereka nyalakan, Allah akan selalu memadamkannya, terutama jika berhadapan dengan umat Islam yang bersatu di jalan kebenaran. Dan hari ini, kita mulai menyaksikan tanda-tanda kebenaran janji Allah tersebut.
Lebih luas dari ayat tersebut menyatakan bahwa pada gilirannya alian yang divangun oleh orang-orang yahudi (zionist) akan diretakkan oleh Allah.
Gerakan persatuan umat Islam mulai bersemi. Perlahan namun pasti, friksi Sunni-Syiah yang selama berabad-abad didiktekan oleh kepentingan kolonial dan Zionis, mulai disadari sebagai sebuah narasi pemecah belah.
Strategi adu domba ini memang ampuh sejak masa Kesultanan Utsmaniyah (Turki Utsmani) dan Daulah Safawiyah (Iran) yang diadu domba oleh para pedagang Yahudi azkhenazi dari Genoa yang haus akan keuntungan jalur sutra.
Namun, kesadaran baru mulai tumbuh. Sikap negara sunni yang berhati-hati terhadap tindakan iran yang menyerang pangkalan amerika di negaranya menunjukkan kesan yang positip. Aliansi-aliansi strategis antar negara Islam mulai terbentuk dengan wajah baru.
Di satu sisi, terdapat poros Iran-Yaman-Lebanon yang telah lama kokoh. Di sisi lain, mulai terbangun poros Saudi-Turki-Pakistan yang menunjukkan dinamika politik yang lebih independen dan mulai menjauh dari tekanan Barat. Ini adalah gerakan tektonik dalam geopolitik Islam, sebuah proses penyatuan kembali yang lambat namun pasti.
Cara-cara kotor Zionis yang terus menyalakan api perang hanya akan bisa dihadapi dengan gerakan persatuan umat yang kokoh. Inilah solusi yang telah diajarkan Allah dalam Al-Qur'an, Surah Ali Imran ayat 103-104:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ ... وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
_"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai... Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."_
Menjelang berakhirnya Ramadhan 1447 ini, kita dihadapkan pada realitas perang yang tak kunjung padam. Namun, di balik kompleksitas perang proksi, siber, dan narasi eskatologis, tersimpan sebuah hikmah besar: kebangkitan kesadaran umat. Perang yang dinyalakan Zionis adalah api yang akan mereka padamkan sendiri, karena Allah akan memadamkannya melalui persatuan umat Islam dan perpecahan aliansi pendukung mereka.
Tugas kita adalah terus memperkuat habluminallah (tali Allah) dan habluminannas (tali persaudaraan sesama muslim), serta senantiasa menjadi penyeru kebaikan dan pencegah kemungkaran. Di sanalah letak kunci keberuntungan dan kejayaan, sebagaimana janji Allah di dalam kitab-Nya yang haqqul yakin.
Wallah A'lam