Dengan fondasi ini, dinamika apa pun yang terjadi di lingkungan manusia—gejolak ekonomi, ketidakpastian politik, kompleksitas sosial, atau ambiguitas informasi
Oleh: Salas Aly Temur
24 Ramadhan 1447
Gagap Dunia di Era VUCA
Zaman sekarang, atau yang sering kita sebut sebagai zaman kiwari, bergerak dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Para ahli manajemen strategis melukiskan era ini dengan akronim yang tepat: VUCA—Volatility (gejolak), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kompleksitas), dan Ambiguity (ambiguitas). Dunia berubah begitu cepat, informasi datang silih berganti, dan masa depan terasa semakin suram dan sulit ditebak. Akibatnya, lahirlah generasi manusia yang diliputi kegalauan eksistensial. Di satu sisi, mereka menikmati kemudahan yang ditawarkan teknologi, di sisi lain, mereka dihantui oleh perasaan hampa dan kecemasan akan apa yang akan terjadi esok hari.
Akar Kegelisahan: Ketimpangan dan Kooptasi
Situasi galau ini tidak muncul dari ruang hampa. Ia dilatarbelakangi oleh ketimpangan yang mencolok antara realitas kemanusiaan dengan percepatan zaman. Kemajuan teknologi yang pesat, alih-alih mendekatkan, justru seringkali menciptakan jurang baru: jurang antara yang kaya dan miskin, antara yang melek teknologi dan yang tertinggal, serta jurang komunikasi di tengah hiruk-pikuk konektivitas. Konflik antar sesama manusia juga semakin beragam, tidak lagi hanya soal batas wilayah, tetapi juga soal identitas, keyakinan, dan kepentingan ekonomi.
Lebih dalam dari itu, ada kekuatan laten yang bekerja. Di tengah kekacauan ini, terdapat kelompok-kelompok yang haus kekuasaan, yang ingin mengkooptasi dunia. Mereka adalah para "perusak bumi" yang berupaya mengendalikan setiap narasi dan perkembangan, menjadikan ketidakpastian sebagai ladang subur untuk memperkuat cengkeraman mereka. Manusia, dalam skala individu, merasa kecil dan tak berdaya menghadapi gelombang raksasa ini. Al-Quran dan Hadits nabi menyebutnya sebagai perusak akhir zaman, yakni Yakjuj Wa Makjuj / Gog and Magog (QS Alkahfi : 94).
Pencarian Ketenangan, Sebuah Keniscayaan
Dalam kepanikan dan kegalauan, insting dasar manusia untuk bertahan hidup akan mencari titik aman, mencari ketenangan. Pencarian ini ditempuh melalui dua jalur utama: eksternal dan internal.
Secara eksternal, manusia modern berupaya membangun ekosistem yang dapat memberikan rasa tenang, meski hanya sementara. Maka, muncullah fenomena clubbing dengan corak seni dan musik yang magis, yang mampu membuat seseorang larut dan melupakan realitas sejenak. Ada pula yang mencari ketenangan melalui aktivitas fisik yang menuntut fokus penuh seperti olahraga atau melalui disiplin tubuh dan pikiran seperti olah pernafasan (yoga, pilates, senam kebugaran, gym, dll) . Ini adalah upaya untuk menemukan harmoni di tengah dunia yang kacau, sebuah oase buatan di tengah gurun VUCA.
Sementara itu, secara internal, manusia mulai menyadari bahwa ketenangan sejati mungkin harus digali dari dalam. Mereka mulai melakukan perenungan, pertapaan, dan mencoba membangkitkan energi spiritual yang selama ini terpendam. Ini adalah naluri fitrah manusia untuk kembali kepada esensi dirinya, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan fundamental yang tidak bisa dijawab oleh teknologi atau hiburan semata.
Dua Bisikan, Dua Jalan: Cahaya dan Api
Namun, pencarian spiritual ini bukanlah jalan yang lurus dan mudah. Rasulullah SAW dalam sabdanya (HR. Tirmizi no 2914) mengingatkan bahwa batin manusia tidak pernah sepi dari bisikan. Ada dua komponen eksternal yang bersifat batiniah yang senantiasa membisiki: satu berasal dari cahaya (nur) yakni malaikat Jibril, dan satu lagi berasal dari api (naar) yakni jin jahat derivat Azazil.
Menariknya, Jibril dan Azazil memiliki karakter yang hampir sama. Akar kata Jibril (jabbar) bermakna "Yang Perkasa," sebuah atribut kekuatan yang berasal dari Allah. Sementara Azazil, yang kelak dikenal sebagai Iblis, berakar dari kata aziz yang bermakna "Yang Mulia/Kuat," juga sebuah pemberian Allah. Kemiripan ini sangat subtantif. Keduanya adalah makhluk bersinar, kuat, dan mulia. Perbedaannya terletak pada esensi dan tujuan: Jibril membawa pada kebenaran dan ketundukan, sementara Azazil membawa pada kesombongan dan penyesatan.
Tipu Daya Ketenangan Semu dan Jalan Keluar Hakiki
Fenomena ini menjelaskan mengapa pencarian pencerahan (enlightenment) spiritual di zaman modern bisa saja menghasilkan ketersesatan. Banyak orang yang merasa mendapatkan ketenangan batin, padahal sejatinya ia sedang terbuai oleh bisikan Azazil yang membungkus kesesatan dengan kemuliaan semu. Ketenangan yang diperoleh dari yoga, seni, atau olahraga, misalnya, bisa jadi hanyalah ketenangan palsu yang bergantung pada situasi dan kondisi, dan akan luntur saat badai kehidupan kembali menerpa, jika tidak dibarengi menjalankan syariat Allah (ibadah) untuk meraih ketenangan. Perbedaan antara hidayah dan kesesatan seringkali amat tipis, seperti perbedaan antara cahaya malaikat dan "cahaya" setan (Lucifer) .
Di sinilah Al-Qur'an memberikan jawaban yang tegas dan fundamental. Dalam QS Ar-Ra'd ayat 28, Allah berfirman, _"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah (dzikir). Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."_ Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan yang hakiki, yang mampu bertahan dalam situasi VUCA apapun, hanya akan diperoleh melalui dzikir/ingat kepada Allah. Dzikir yang diajarkan Rasullah SAW tiap pagi dan petang, bershalawat kepada baginda Nabi adalah salah satu wasilah menghadirkan ketenangan.
Namun dzikir di sini juga bukan sekadar ucapan lisan, melainkan implementasi menyeluruh dari syariat yang diturunkan-Nya melalui para Rasul. Ia adalah sebuah sistem kehidupan yang komprehensif, yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam semesta.
Kesimpulan: Iman sebagai Fondasi Ketenangan Abadi
Jalan yang diajarkan oleh Rasulullah adalah jalan keseimbangan. Seorang Muslim dituntut untuk menjalani dinamika zaman dengan tetap berpegang teguh pada syariah, melaksanakannya dengan khusyuk dan takwa. Bukan berarti lari dari dunia, tetapi justru membenamkan diri dalam dunia dengan bekal iman yang kokoh.
Dengan fondasi ini, dinamika apa pun yang terjadi di lingkungan manusia—gejolak ekonomi, ketidakpastian politik, kompleksitas sosial, atau ambiguitas informasi—akan dapat dihadapi dengan kepala dingin dan hati tenang, tanpa panik. Karena seorang mukmin meyakini bahwa dirinya tidak pernah sendiri.
Allah SWT berfirman dalam QS An-Nahl ayat 128, _"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan."_ Janji inilah yang menjadi sumber ketenangan abadi. Di tengah terpaan badai VUCA, di antara hiruk-pikuk pencarian spiritual modern yang sarat akan jebakan, orang-orang yang bertakwa dan berbuat baik memiliki sauh yang kokoh. Mereka tidak terseret arus karena mereka berjalan bersama Allah, Sang Pemilik ketenangan mutlak. Maka, di sinilah letak jawabannya: bukan pada pelarian eksternal yang fana, bukan pula pada perenungan internal yang riskan akan penyesatan, melainkan pada penghambaan diri total kepada Allah, yang dengan mengingat-Nya, hati menjadi tenang.
Wallah A'lam