JAKARTA UMMATTV.COM — Ulama nasional Bachtiar Nasir yang akrab disapa UBN memperkenalkan program I’tikaf Strategic Camp 2026 sebagai pendekatan baru dalam pelaksanaan i’tikaf. Kegiatan ini berlangsung pada 11–18 Maret 2026 (Ramadhan 1447 H) di Aula Masjid Baitul Maqdis Indonesia, Tebet Utara, Jakarta Selatan.
Sebanyak 100 peserta dari kalangan aktivis dakwah, baik ikhwan maupun akhwat, mengikuti program ini. Tidak hanya berfokus pada ibadah ritual, I’tikaf Strategic Camp dirancang sebagai ruang pembinaan intensif yang mengintegrasikan dimensi spiritual dan strategi peradaban.
“I’tikaf bukan sekadar uzlah atau pengasingan diri, tetapi momentum untuk menyiapkan diri menghadirkan perubahan berbasis nilai wahyu,” ujar UBN dalam salah satu sesi pembukaan.
Selama program berlangsung, peserta menjalani qiyamul lail pada malam hari, sementara siang diisi dengan pelatihan kepemimpinan, kajian sirah, dan pembentukan pola pikir strategis. Konsep ini dirumuskan dalam pendekatan “Masjid sebagai Laboratorium Peradaban”.
Program ini disusun dalam tiga pilar utama. Pertama, ruhiyah intensif, meliputi qiyamul lail berjamaah, tilawah dan tadabbur tematik, dzikir, muhasabah harian, hingga simulasi i’tikaf 10 malam terakhir.
Kedua, fikrah strategis, dengan mengkaji empat peristiwa penting dalam sejarah Islam sebagai kerangka pembelajaran.
“Badar bukan cerita masa lalu, tetapi template kemenangan,” menjadi salah satu penekanan dalam materi.
Selain itu, peserta juga mempelajari Spirit Bai’at Ridwan tentang loyalitas, Spirit Hudaibiyah terkait strategi jangka panjang, serta Spirit Fathu Makkah yang menekankan etika kemenangan tanpa balas dendam.
Ketiga, harakah atau pembangunan gerakan, melalui simulasi pembentukan tim dakwah, penyusunan roadmap, hingga penguatan visi global, termasuk isu pembebasan Baitul Maqdis.
Berbeda dari pola ceramah konvensional, program ini menggunakan pendekatan partisipatif berbasis experiential learning.
Peserta tidak hanya mempelajari sejarah, tetapi juga mensimulasikan situasi krisis, pengambilan keputusan cepat, serta menghadapi tekanan eksternal.
Melalui metode tadabbur tematik-strategis, ayat Al-Qur’an dijadikan kerangka kepemimpinan dan blueprint organisasi.
Sementara dalam group strategic lab, peserta menyusun program dakwah dan solusi konkret atas persoalan umat.
Program ini diarahkan untuk membentuk kader dengan orientasi peradaban jangka panjang.
Konsep pembebasan Baitul Maqdis yang diangkat tidak hanya dimaknai secara fisik, tetapi mencakup aspek spiritual, intelektual, dan strategis.
“Fathu Makkah bukan akhir, tetapi awal peradaban,” menjadi salah satu narasi kunci yang ditekankan dalam pembelajaran.
Selama pelaksanaan, sejumlah perubahan terlihat pada peserta, mulai dari pergeseran pola pikir yang lebih strategis, penguatan kesadaran kolektif, hingga peningkatan disiplin ibadah.
Namun demikian, program ini juga menghadapi sejumlah tantangan, seperti menjaga konsistensi pasca-camp, memastikan implementasi nyata dari blueprint yang telah disusun, serta memperluas model agar dapat diterapkan secara nasional dan global.
Melalui program ini, UBN menegaskan kembali peran masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat strategi dan perubahan.
Dikatakan UBN, sembilan hari pelaksanaan, masjid difungsikan sebagai ruang ibadah sekaligus pusat pembinaan dan perumusan gerakan.
Jika model ini dapat direplikasi secara luas, masjid dinilai berpotensi kembali menjadi pusat lahirnya peradaban, sebagaimana pada masa awal Islam.*