Tak Sekadar Melahirkan: Rahasia Agung Peran Ibu dalam Al-Qur’an”

Tak Sekadar Melahirkan: Rahasia Agung Peran Ibu dalam Al-Qur’an”

seorang anak diharapkan mampu berbakti kepada keduanya. Tidak hanya dalam bentuk sikap hormat dan taat, tetapi juga melalui doa, perhatian, dan perlakuan yang baik sepanjang hidup

Oleh Dr.Samsul Basri


Dalam Al-Qur’an, kedudukan ibu memiliki tempat yang sangat istimewa. Hal ini tergambar jelas dalam Surah Luqman ayat 14, yang menyebutkan bahwa seorang ibu mengandung anaknya dalam keadaan lemah yang terus bertambah. Ayat ini bukan sekadar menggambarkan kondisi fisik, tetapi juga menunjukkan besarnya pengorbanan dan peran seorang ibu sejak awal kehidupan manusia.

Kehamilan bukan hanya proses biologis, tetapi juga proses pemeliharaan dan pendidikan sejak dalam kandungan. Janin mendapatkan nutrisi dari ibunya melalui darah, tumbuh dalam perlindungan, dan berada dalam penjagaan penuh selama fase kehamilan. Dari sini, para ulama memaknai bahwa kata “umm” (ibu) tidak hanya bermakna orang yang melahirkan, tetapi juga yang memelihara, merawat, dan mendidik. Maknanya menjadi luas, mencakup aspek kasih sayang, pengasuhan, dan pembentukan kehidupan.

Selain istilah umm, Al-Qur’an juga menggunakan kata walidah, yang secara khusus merujuk kepada ibu yang melahirkan. Ini menunjukkan bahwa ada perbedaan makna yang halus namun penting. Tidak semua yang disebut ibu secara umum (umm) adalah yang melahirkan, tetapi setiap walidah pasti adalah ibu dalam arti biologis.

Sebagai contoh, dalam kisah Maryam, ketika ia berkata bagaimana mungkin ia melahirkan anak tanpa disentuh laki-laki, Al-Qur’an menegaskan bahwa kelahiran itu terjadi atas kehendak Allah. Ini menegaskan bahwa proses kelahiran adalah sesuatu yang sangat khusus dan terkait langsung dengan kekuasaan Allah serta peran ibu sebagai walidah.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga mengenal istilah ibu yang tidak melahirkan, seperti ibu asuh atau orang yang membesarkan anak. Mereka tetap bisa disebut umm karena menjalankan fungsi pengasuhan dan pendidikan, meskipun bukan walidah. Hal ini menunjukkan betapa luasnya makna keibuan dalam Islam.

Di sisi lain, Al-Qur’an juga memberikan perhatian besar kepada kedua orang tua, bukan hanya ibu. Istilah walidain sering digunakan untuk menunjukkan ayah dan ibu secara bersamaan, terutama dalam konteks perintah berbakti. Ini menegaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan dalam menghormati kedua orang tua.

Namun, mengapa ibu sering mendapatkan penekanan lebih? Karena ibu mengalami fase yang tidak dialami oleh ayah: mengandung, melahirkan, dan menyusui. Beban fisik dan emosional ini menjadi alasan mengapa Al-Qur’an memberi penekanan khusus pada penghormatan kepada ibu.

Meski demikian, bukan berarti peran ayah menjadi kecil. Ayah tetap memiliki peran penting sebagai pemelihara, pemberi nafkah, dan penanggung jawab keluarga. Tanpa peran ayah, keberlangsungan keturunan juga tidak akan terjadi. Karena itu, penghormatan kepada ayah tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam ajaran Islam.

Dengan demikian, Islam memandang orang tua sebagai satu kesatuan peran yang saling melengkapi. Ibu dengan kasih sayang, pengorbanan, dan kedekatannya sejak dalam kandungan. Ayah dengan tanggung jawab, perlindungan, dan perannya dalam menjaga keberlangsungan hidup keluarga.

Pada akhirnya, seorang anak diharapkan mampu berbakti kepada keduanya. Tidak hanya dalam bentuk sikap hormat dan taat, tetapi juga melalui doa, perhatian, dan perlakuan yang baik sepanjang hidup mereka.


Artikel diatas disarikan dari kajian itikah ,ba'da subuh, Senin (16/3/2026) di Masjid Azura Kemang Bogor. Ii Anwar Aras

Sebelumnya :