Kecanduan anak pada konten-konten yang kurang mendidik, dapat mengurangi minat anak pada belajar. Sehingga dapat menurunkan prestasi belajar di sekolahnya
Oleh : Arief Riyanto, S.Pd.
Momen libur lebaran menjadi saat yang tepat untuk menyambung silaturahmi dengan keluarga. Hubungan menjadi kembali erat dengan adanya interaksi dengan keluarga yang jarang bertemu akibat terpisahkan oleh ruang dan waktu.
Namun fenomena yang tidak bisa kita pungkiri pada setiap momen libur lebaran adalah di mana para orang tua sibuk bercengkrama dengan sanak keluarga, sayangnya anak-anak juga sibuk bukan dengan interaksi dan permainan fisik dengan saudara sebayanya namun dengan gadgetnya masing-masing.
Anak-anak memanfaatkan momen kumpul keluarga untuk meminjam gadget orang tuanya. Untuk menghindari rengekan anak yang bisa membuat 'malu' atau mengganggu suasana akhirnya orang tua 'terpaksa' memberikan gadgetnya.
Hal inilah yang seharusnya kita khawatirkan. Anak-anak fokus dengan gadget sehingga tidak merasakan apa-apa dari kegiatan silaturahmi keluarga ini. Padahal bagi anak-anak kegiatan silaturahmi ini penting untuk perkembangan emosional, sosial, maupun spiritualnya.
Saat ini sedang tren istilah 'Brain Rot'. Brain rot secara harfiah berarti 'pembusukan otak'. Istilah yang menjadi topik diskusi mengenai dampak penggunaan gadget yang berlebihan.
Meskipun bukan istilah medis resmi, konsep ini menggambarkan kondisi di mana otak mengalami stagnasi atau bahkan kemunduran akibat paparan konten digital yang kurang berkualitas dalam jangka waktu terlalu lama dan tidak terkontrol.
Mengutip dari Kompas, Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., menjelaskan bahwa aktivitas seperti menggulir media sosial, bermain game berjam-jam dapat menyebabkan otak anak tidak tertantang untuk berkembang. Sehingga menghambat perkembangan kognitif mereka.
Kemudian konsumsi konten digital yang serba cepat, aktivitas scrolling dalam waktu yang lama dapat mengurangi fokus anak-anak pada tugas yang memerlukan konsentrasi mendalam.
Mengutip dari UMS News, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Bayu Suseno, M.Psi, mengatakan bahwa paparan konten yang terus menerus berubah dalam hitungan detik dapat menyebabkan penurunan atensi dan kesulitan fokus pada informasi yang panjang.
Kecanduan anak pada konten-konten yang kurang mendidik, dapat mengurangi minat anak pada belajar. Sehingga dapat menurunkan prestasi belajar di sekolahnya dan akhirnya menjadi beban bagi para orang tua dan pendidik untuk mengembalikan lagi prestasi belajar anak seusai liburan sekolah.
Sebenarnya masih banyak lagi dampak dari masalah ini. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam pernah mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu pasti memiliki konsekuensinya.
Sekarang pilihan ada di tangan kita. Selamatkan anak-anak kita dengan berbagai upaya pencegahan yang bisa kita lakukan sesuai dengan kondisi masing-masing agar anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal di era digital ini.