Dari anak-anak sampai orang tua, bahkan lansia, insyaallah tidak kesulitan. Orang Jawa bilangnya ‘ngumpul’, disedot saja dagingnya sudah lepas dari tulangnya,” jelasnya.
Oleh : Anwar Aras
Di balik perjalanan Warung Mie Ayam Ceker Bang Warno, sebuah usaha kuliner sederhana yang berdiri kokoh di wilayah Gaung, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar sejak 2012.
Pemilik warung ini adalah Suwarno, akrab disapa Bang Warno, pria kelahiran Purwodadi, Jawa Tengah, sekitar 45 tahun silam. Bersama sang istri asli Karanganyar, ia memulai usaha ini bukan sekadar untuk mencari nafkah, tetapi sebagai jawaban atas kebutuhan keluarga dan masa depan anak-anaknya.
Berawal dari Pilihan Hidup Bang Warno menuturkan, sebelum terjun ke dunia usaha, ia dan istrinya sama-sama bekerja di sebuah perusahaan. Saat itu, anak-anak mereka masih kecil, sekitar usia tiga tahunan. Seiring waktu, ketika anak-anak mulai memasuki usia sekolah, keluarga kecil ini harus mengambil keputusan besar.
“Kami harus mengantar anak-anak sekolah. Akhirnya salah satu harus berhenti kerja, dan saya memilih keluar untuk memulai usaha,” ujar Bang Warno, saat tim media menemui dikediamannya.
Pada 2012, langkah itu pun dimulai. Awalnya, Bang Warno berjualan mie ayam secara keliling selama kurang lebih satu setengah tahun. Menggunakan gerobak sederhana, ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, mengandalkan kepercayaan dan rasa sebagai modal utama.
Dari Warung Bambu hingga Ujian Puting Beliung
Setelah cukup dikenal, Bang Warno mulai mangkal tetap dan mendirikan warung kecil berbahan bambu. Sekitar dua hingga dua setengah tahun berjalan, cobaan besar datang. Sebuah puting beliung menerjang, menghancurkan warungnya hingga porak-poranda.
Namun, di tengah musibah itu, Bang Warno merasakan kuatnya nilai ukhuwah. Dengan bantuan teman-teman dari Wahdah Islamiyah Karanganyar, yang bergotong royong dan patungan, warung tersebut bisa dibangun kembali.
“Alhamdulillah, Allah beri kemudahan. Dari situ usaha kami bisa berjalan lagi sampai sekarang,” ujar yangbjuga sebagai Humas Wahdah Karanganyar ini.
Ciri Khas: Ceker Empuk dan Bumbu Rempah
Yang membedakan Warung Mie Ayam Ceker Bang Warno dengan mie ayam lainnya adalah cekernya. Bang Warno secara khusus memilih ceker berukuran besar dan dimasak hingga sangat empuk.
“Dari anak-anak sampai orang tua, bahkan lansia, insyaallah tidak kesulitan. Orang Jawa bilangnya ‘ngumpul’, disedot saja dagingnya sudah lepas dari tulangnya,” jelasnya.
Selain tekstur, kekuatan utama lainnya ada pada racikan bumbu rempah. Kunyit, daun jeruk, daun salam, dan lengkuas menjadi andalan untuk menghadirkan rasa gurih alami sekaligus menghilangkan bau amis. Penggunaan penyedap tetap ada, namun dalam takaran wajar dan terukur.
“Untuk perasa tetap digunakan yang penting tidak berlebihan, insyaallah masih aman dan rasanya tetap otentik,” tambahnya.
Fokus pada Menu Andalan Saat ini, menu yang disajikan cukup sederhana: mie ayam biasa dan mie ayam ceker. Bang Warno pernah mencoba menambahkan menu bakso, namun karena tidak terlalu diminati dan kurang signifikan, akhirnya ia memutuskan untuk fokus pada menu utama.
Bagi Bang Warno, konsistensi adalah kunci. Ia memastikan takaran bumbu selalu sama, baik ia sendiri maupun karyawannya yang memasak, agar rasa tetap terjaga dan kepercayaan pelanggan tidak luntur.
Pelanggan Setia dan Harga Bersahabat
Dengan harga yang terjangkau—Rp10.000 untuk mie ayam biasa dan Rp13.000 untuk mie ayam ceker, serta es teh atau es jeruk Rp3.000 per gelas—warung ini banyak diminati, termasuk oleh para pegawai negeri (PNS) di sekitar Karanganyar.
Di tengah maraknya mie ayam murah dengan harga Rp5.000–Rp7.000, Bang Warno memilih untuk tidak merasa tersaingi.
“Biarlah penikmat yang memilih. Kita sama-sama cari rezeki, tidak saling menjatuhkan, justru saling support,” ujarnya bijak.
Lebih dari Sekadar Makan
Warung Mie Ayam Ceker Bang Warno diberi nama brand usahanya ini mampu menjual sekitar 60–75 porsi, dan biasanya sudah habis menjelang Magrib. Namun, bagi Bang Warno, warungnya bukan sekadar tempat makan.
“Kadang orang datang bukan cuma cari makan, tapi juga ngobrol. Hubungan antara penjual dan pembeli itu yang sulit digantikan,” tuturnya.
Keramahan dan suasana kekeluargaan menjadi nilai tambah yang terus ia jaga, meski diakui tidak selalu mudah ketika aktivitas di luar cukup padat.
Lokasi dan Jam Operasional
Bagi para pencinta mie ayam ceker di wilayah Karanganyar, Warung Mie Ayam Ceker Bang Warno dapat ditemukan di timur Gapura Gaung, atau perempatan Gapura Gaung. Jika dari arah DPRD Karanganyar, jaraknya sekitar 1,5 kilometer ke utara, dan berada di kanan jalan, dengan ciri warung bercat kuning.
Warung ini buka Senin hingga Sabtu, mulai pukul 08.00 pagi hingga 18.00 sore (menjelang Magrib).
Dengan perjalanan panjang yang penuh ujian, Warung Mie Ayam Ceker Bang Warno menjadi bukti bahwa keuletan, kejujuran rasa, dan keberkahan usaha mampu menjaga sebuah warung sederhana tetap hidup dan dicintai pelanggannya hingga hari ini.
Suasana di warung Bang Warno bersama penulis dan tim menikmati sajian Mie Ayam Ceker