Menurut Syaifuddin, banyak keluhan yang dialami masyarakat sebenarnya bukan semata gangguan medis atau gangguan jin, melainkan penyakit kepribadian.
CIBINONG, UMMATTV.COM — Tidak semua luka terlihat secara kasat mata. Sebagian justru tersembunyi dalam batin, membentuk karakter negatif yang perlahan memengaruhi emosi, relasi sosial, hingga keharmonisan keluarga. Hal inilah yang selama lebih dari dua dekade digeluti Syaifuddin Abu Hawwas, seorang terapis Islami yang kini menetap di Ciapus, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.
Pria asal Garut, Jawa Barat, ini berbagi pengalamannya saat berkunjung ke Pondok Pesantren Wahdah Islami Cibinong. Dalam kesempatan tersebut, Syaifuddin memaparkan pendekatan terapi Islami yang ia tekuni—mulai dari bekam, pijat, reposisi tulang belakang (PTB), hingga ruqyah berbasis psikoterapi.
Ketertarikan Syaifuddin pada dunia terapi bermula pada awal tahun 2000-an. Saat itu, ia sering menyaksikan praktik bekam dan tertarik mempelajarinya lebih dalam. Ia kemudian belajar langsung di berbagai klinik terapi, di antaranya bersama Ketua PBI di Cikarang, Ustadz Dedi selaku Ketua PPI Bandung, serta sejumlah klinik di Cibitung, Cengkareng, dan Tambun.
Pengalamannya semakin luas ketika ia aktif di lingkungan Dewan Dakwah dan dipercaya menjadi kepala cabang klinik bekam di Rawalumbu. Dari sanalah ia mulai menggabungkan pendekatan fisik dan spiritual dalam terapi.
“Yang terus saya dalami sampai sekarang adalah ruqyah psikoterapi,” ujar Syaifuddin.
Menurut Syaifuddin, banyak keluhan yang dialami masyarakat sebenarnya bukan semata gangguan medis atau gangguan jin, melainkan penyakit kepribadian. Gejalanya beragam, mulai dari mudah marah, sedih berkepanjangan, curiga berlebihan, depresi, hingga kekecewaan mendalam.
“Akar masalahnya bisa dari trauma masa kecil, problem keluarga, rasa kurang disayang orang tua, kecemburuan sosial, bahkan penyalahgunaan narkoba,” jelasnya.
Ia menambahkan, dalam sejumlah kasus, gangguan tersebut bisa “bersembunyi” dalam karakter dan emosi negatif. Akibatnya, ruqyah yang dilakukan tanpa menyentuh akar kepribadian sering kali tidak membuahkan hasil optimal.
“Di sinilah seni pengobatannya berbeda. Tidak semua gangguan disikapi dengan metode yang sama,” katanya.
Ciri khas terapi Syaifuddin terletak pada pendekatan komunikatif. Pasien diajak berbicara secara terbuka, mencurahkan seluruh unek-unek tanpa ditahan.
“Selama masih bisa bicara, keluarkan semuanya. Setelah itu baru kita arahkan dengan bimbingan pola pikir Islami,” tuturnya.
Pendekatan ini diterapkan secara fleksibel, baik luring maupun daring. Pasien dapat datang langsung ke tempat praktiknya, mengundang ke rumah, atau mengikuti sesi terapi secara online. Durasi dan intensitas terapi disesuaikan dengan tingkat keparahan masalah.
Untuk kasus ringan, sesi singkat curhat dan pengarahan sudah cukup menenangkan. Namun untuk kasus berat—terutama trauma yang telah terakumulasi lama—prosesnya membutuhkan kesabaran, pengulangan, dan pendampingan berkelanjutan.
Syaifuddin menegaskan bahwa penyakit kepribadian yang tidak ditangani dapat berdampak serius pada kehidupan keluarga. Rasa cemburu sosial, kecewa masa lalu, atau perasaan kurang dihargai dapat menjadi pemicu konflik dalam rumah tangga.
“Kalau dibawa sampai dewasa dan berkeluarga, itu bisa memengaruhi harmonis tidaknya pernikahan,” ujarnya.
Karena itu, ia memandang terapi jiwa Islami tidak hanya bersifat penyembuhan, tetapi juga pencegahan. Materi terapi ini, menurutnya, relevan dijadikan kajian atau seminar, khususnya bagi pasangan suami istri maupun calon pasangan pranikah.
Dalam aktivitasnya, Syaifuddin bisa menangani lima hingga delapan pasien per hari. Sebagian besar datang melalui rekomendasi dari mulut ke mulut, selain informasi dari media sosial. Ia menegaskan, karakter negatif bukan sesuatu yang mustahil diubah.
“Karakter bisa diperbaiki jika seseorang sadar dan kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Perubahan itu dimulai dari diri sendiri,” katanya.
Baginya, terapi Islami juga berperan dalam membentuk akhlak mulia dan menyiapkan generasi Qur’ani sejak dini—bahkan sejak dalam kandungan.
“Kalau karakter diperbaiki dari awal, insya Allah generasi ke depan akan lebih kuat,” mengakhiri wawancaranya.
Bagi pembaca yang ingin menggunakan jasa beliau bisa hubungi sebagai berikut
Saefuddin Abu Fawwa (Praktisi Thibbunabawi / Ruqyah Psikoterapi, Chiro dan PTB
No Hp : 085283154726