PONOROGO UMMATTV.COM — Seratus tahun perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor tidak hanya dirayakan dengan rasa syukur. Terselip pesan Al-Qur’an yang terasa relevan untuk perjalanan Gontor memasuki abad kedua, sabtu (19/9/2026),
Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor diawali dengan lantunan empat ayat terakhir Surah Al-Ahzab, yakni ayat 70 hingga 73. Rangkaian ayat tersebut berbicara tentang takwa, qaulan sadida atau perkataan yang benar dan lurus, perbaikan amal, serta amanah yang harus dipertanggungjawabkan manusia di hadapan Allah.
Pilihan ayat itu menjadi semakin bermakna karena resepsi seabad Gontor digelar setelah rangkaian Khatmul Qur'an dan sujud syukur yang berlangsung sehari sebelumnya, Jumat (18/9/2026).
Pesannya seolah sederhana, tetapi dalam: memasuki usia seratus tahun bukan hanya tentang menghitung perjalanan yang telah dilalui, melainkan memastikan amanah tetap berada di tangan yang tepat untuk perjalanan berikutnya.
Dari Qoulan Sasisa hingga Perbaikan Amal
Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 70:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
Ayat tersebut memperkenalkan istilah qaulan sadida—perkataan yang lurus, benar, dan tidak menyimpang dari kebenaran.
Dalam penjelasan yang dinukil Imam ath-Thabari, qaulan sadida berkaitan dengan perkataan yang benar dan tepat. Ibnu Katsir juga menjelaskan makna serupa, yakni perkataan yang lurus dan tidak bengkok.
Namun Al-Qur'an tidak berhenti pada ucapan.
Ayat berikutnya menyebutkan bahwa Allah akan memperbaiki amal orang-orang yang bertakwa dan berkata benar. Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya pun disebut sebagai jalan menuju kemenangan yang besar.
Pesan ini menjadi penting ketika dibaca dalam konteks perjalanan satu abad sebuah lembaga pendidikan.
Sebab, usia panjang bukan semata-mata ukuran keberhasilan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana nilai yang diwariskan tetap hidup dalam perkataan, keputusan, pendidikan, dan amal generasi penerus.
Bagi pesantren, kata-kata memiliki tempat yang penting. Dari nasihat kiai, arah pendidikan diwariskan. Dari guru, nilai ditanamkan. Dari santri, masyarakat kemudian melihat bagaimana pendidikan pesantren memberi pengaruh dalam kehidupan.
Karena itu, qaulan sadida dapat menjadi salah satu renungan ketika Gontor memasuki abad kedua: semakin besar sebuah lembaga, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga kelurusan nilai yang menjadi fondasinya.
100 Tahun dan Sebuah Amanah
Pesan tersebut kemudian mencapai titik yang lebih dalam pada Surah Al-Ahzab ayat 72.
Allah berfirman bahwa amanah pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Semuanya enggan memikulnya karena khawatir tidak mampu melaksanakannya. Namun manusia menerima amanah tersebut.
Dalam tafsir Ibnu Katsir, amanah berkaitan dengan kewajiban dan ketaatan yang dibebankan Allah kepada manusia. Imam al-Qurthubi juga menjelaskan luasnya cakupan amanah, termasuk berbagai kewajiban yang harus ditunaikan manusia dan akan dimintai pertanggungjawaban.
Ketika ayat tentang amanah dibaca dalam momentum 100 tahun Gontor, maknanya terasa semakin dekat.
Sebab yang diwariskan dari generasi sebelumnya bukan hanya tanah, gedung, lembaga pendidikan, atau sistem yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Ada amanah di dalamnya.
Para pendiri telah pergi. Guru-guru yang dahulu menghidupkan ruang-ruang kelas telah berganti generasi. Santri yang dahulu belajar dan ditempa di pondok kini telah menyebar ke berbagai tempat, sebagian bahkan telah menjadi orang tua dan kakek.
Namun amanah pendidikan tidak berhenti ketika satu generasi selesai menjalankan perannya.
Ia berpindah.
Dari pendiri kepada penerus. Dari kiai kepada guru. Dari guru kepada santri. Dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Setiap generasi hanya memegang amanah itu untuk sementara sebelum menyerahkannya kepada generasi yang datang kemudian.
Abad Kedua Bukan Sekadar Tentang Menjadi Lebih Besar
Di titik inilah peringatan 100 tahun Gontor memperoleh makna yang lebih luas.
Abad kedua bukan semata-mata tentang seberapa besar lembaga akan berkembang, seberapa luas jaringan alumni, atau seberapa banyak lembaga pendidikan yang akan dibangun.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: seberapa kuat nilai yang diwariskan tetap dijaga?
Al-Qur'an melalui rangkaian Surah Al-Ahzab ayat 70 hingga 73 menghadirkan urutan pesan yang menarik: bertakwa dan berkata benar, memperbaiki amal, menyadari beratnya amanah, lalu memahami bahwa seluruhnya memiliki konsekuensi di hadapan Allah.
Karena itu, resepsi kesyukuran 100 tahun Gontor dapat dipandang bukan sekadar sebagai penanda usia, tetapi juga sebagai momentum muhasabah.
Seratus tahun telah menjadi sejarah.
Abad kedua adalah amanah.
Dan amanah itu tidak cukup dirayakan. Ia harus dijaga, dilanjutkan, dan dipertanggungjawabkan. “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Begitulah Surah Al-Ahzab ditutup pada ayat ke-73.
Sebuah penutup yang sekaligus menghadirkan harapan: setelah perjalanan panjang, selalu ada ruang untuk memperbaiki amal, meluruskan langkah, dan memohon pertolongan Allah agar amanah yang diwariskan dapat terus dijaga.
Di usia seratus tahun, Gontor bukan hanya sedang menutup sebuah abad. Gontor sedang membuka lembaran baru dengan membawa amanah lama menuju abad yang baru.