Keluarga membutuhkan visi yang jauh lebih panjang. Bukan hanya bagaimana anak-anak kita sukses hari ini, tetapi bagaimana kebaikan terus hidup dalam generasi setelah kita.
Oleh: KH Bachtiar Nasir
RODA kehidupan tidak pernah berhenti berputar. Kita tidak pernah tahu di mana kehidupan akan menempatkan diri kita, pasangan, atau anak-anak kita pada masa mendatang.
Ada hari ketika seseorang berada dalam pekerjaan yang mapan. Ada pula hari ketika ia harus menata kembali kehidupan dari awal.
Saya pernah berjumpa secara tak terduga dengan seorang pemuda yang bekerja sebagai pengemudi ojek daring. Pemuda tersebut ternyata anak dari seorang rekan seperjuangan dakwah saya. Ia memilih pekerjaan itu setelah dirumahkan dari pekerjaannya.
Pertemuan tersebut sederhana. Namun, di baliknya tersimpan pelajaran besar: kehidupan dapat berubah, tetapi kehormatan seorang Muslim terletak pada bagaimana ia tetap memilih jalan yang halal.
Dari sini kita belajar bahwa keluarga tidak cukup dibangun hanya untuk melewati satu musim kehidupan. Keluarga membutuhkan visi yang jauh lebih panjang. Bukan hanya bagaimana anak-anak kita sukses hari ini, tetapi bagaimana kebaikan terus hidup dalam generasi setelah kita.
Keluarga yang Tidak Sekadar Sakinah
Kita akrab dengan doa sakinah, mawaddah, wa rahmah. Keluarga yang tenang, penuh cinta, dan kasih sayang. Namun, Al-Qur’an memperlihatkan teladan yang lebih jauh melalui keluarga Nabi Ibrahim AS: keluarga yang diberkahi.
Keberkahan bukan sekadar perasaan nyaman di dalam rumah. Keberkahan terlihat ketika anggota keluarga mampu mempertahankan ketaatan bahkan ketika Allah memberikan ujian.
Nabi Ibrahim AS dan keluarganya menjadi teladan tentang kepatuhan tersebut. Mereka tidak hanya mengatakan mencintai Allah, tetapi membuktikannya melalui pengorbanan.
Karena itu, ukuran keluarga yang baik bukan semata-mata seberapa harmonis kehidupan di dalam rumah, tetapi seberapa kuat keluarga tersebut bertahan dalam ketaatan ketika menghadapi ujian.
Menariknya, setelah kisah panjang tentang keluarga Nabi Ibrahim AS, Allah memberikan sebuah peringatan:
“Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya (Ibrahim) dan kepada Ishaq. Dan di antara anak cucu keduanya ada yang berbuat baik (muhsin) dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (QS. Ash-Shaffat: 113)
Ayat ini penting direnungkan oleh setiap orang tua. Sebab, bahkan keberkahan keluarga seorang nabi tidak berarti seluruh keturunannya otomatis menjadi orang saleh.
Nasab Bukan Jaminan Kesalehan
Pelajaran pertama dari ayat tersebut adalah jangan pernah merasa aman hanya karena nasab. Nama besar orang tua tidak otomatis menjadi kemuliaan bagi anak. Demikian pula seseorang tidak menjadi mulia hanya karena memiliki leluhur yang saleh.
Nasab boleh menjadi kebanggaan dalam arti mengenang kebaikan para pendahulu. Namun, nasab tidak boleh menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Sebab, Allah tetap melihat amal.
Ada orang yang merasa aman karena berasal dari keluarga terpandang. Ada yang merasa kuat karena orang tuanya memiliki jabatan. Ada pula yang merasa memiliki kedudukan karena berada di lingkungan atau lembaga yang besar.
Padahal, semua itu dapat berubah. Jabatan dapat berakhir. Harta dapat berkurang. Popularitas dapat hilang. Bahkan nama besar keluarga pun tidak dapat menggantikan amal seseorang di hadapan Allah.
Karena itu, warisan terbaik orang tua bukanlah sekadar nama besar. Warisan terbaik adalah iman, ilmu, akhlak, dan amal saleh yang terus hidup dalam diri anak-anaknya.
Namun, ayat ini juga memberikan pelajaran dari arah yang berlawanan.
Jika anak melakukan kesalahan, orang tua tentu bersedih. Tidak ada orang tua yang benar-benar kebal terhadap luka ketika melihat anaknya tersesat.
Tetapi kesedihan tidak boleh berubah menjadi keputusasaan.
Kesalahan seorang anak tidak otomatis menjadi aib yang harus membuat orang tuanya berhenti berbuat baik. Orang tua tetap memiliki kewajiban untuk menasihati, membina, mendoakan, dan memberikan teladan.
Ada kalanya orang tua terlalu lama menyalahkan dirinya sendiri.
“Di mana saya salah mendidiknya?” “Apakah saya orang tua yang gagal?”
Pertanyaan semacam itu boleh menjadi bahan introspeksi. Namun, jangan sampai ia berubah menjadi beban yang melumpuhkan.
Seorang ayah atau ibu tidak boleh berhenti berdakwah, berkarya, dan melakukan kebaikan hanya karena anaknya sedang berada dalam masalah.
Setiap manusia memiliki tanggung jawab atas amalnya masing-masing.
Karena itu, ketika anak tergelincir, orang tua harus tetap berdiri. Bukan untuk membenarkan kesalahan anak, tetapi untuk membuka jalan agar ia dapat kembali.
Jangan Merasa Aman
Ada satu pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri setiap pekan. Apa yang sebenarnya membuat saya merasa aman?
Apakah gaji? Jabatan? Harta? Pekerjaan? Nama besar keluarga? Komunitas? Lembaga? Atau Allah?
Pertanyaan ini penting karena sebagian manusia baru menyadari rapuhnya sandaran dunia setelah kehilangan apa yang selama ini dianggap sebagai jaminan.
Padahal, tidak ada satu pun yang benar-benar dapat menjamin masa depan kita selain Allah. Maka, keluarga harus dibangun dengan dua sikap sekaligus.
Pertama, jangan merasa aman karena nama besar. Kedua, jangan merasa hancur karena kesalahan anak.
Teruslah mendidik tanpa merasa sudah berhasil. Teruslah berbuat baik tanpa merasa sudah cukup. Teruslah membina generasi tanpa mengklaim bahwa nasab akan menyelamatkan mereka.
Sebab, keluarga yang diberkahi bukanlah keluarga yang tidak pernah diuji.
Keluarga yang diberkahi adalah keluarga yang ketika diuji tetap memilih Allah.
Dan mungkin, inilah warisan paling berharga yang dapat kita tinggalkan kepada anak-anak: bukan sekadar harta dan nama, melainkan jalan pulang kepada Allah ketika kehidupan membawa mereka ke mana-mana.*