Kotak Pandora Epstein: Alarm Akhir Zaman

Kotak Pandora Epstein: Alarm Akhir Zaman

Hari ini, dunia dikejutkan oleh dibukanya “Kotak Pandora” Jeffrey Epstein melalui undang-undang baru di Amerika Serikat. Epstein, seorang Yahudi Ashkenazi ....

Oleh : Salas Aly Temur

Di dalam Al-Qur’an, terdapat satu diksi yang konsisten menggambarkan kondisi bumi yang tidak lagi diridhai Allah akibat perilaku manusia. Diksi itu adalah Fasad (kerusakan), yang pertama kali terlontar dari lisan malaikat ketika Allah hendak menetapkan Adam sebagai khalifah di bumi. “Apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi orang yang akan berbuat kerusakan di dalamnya?” (QS Al-Baqarah: 30). Pertanyaan ini bukan sekadar protes, melainkan sebuah observasi malaikat atas potensi destruktif yang melekat pada manusia.

Namun, Allah menjelaskan kelebihan Adam dan keturunannya: mereka dibekali ilmu dan kapasitas untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Fasad bisa terjadi, namun juga bisa dipulihkan dengan ketakwaan dan tobat. Inilah rahmat sekaligus ujian bagi manusia. Akan tetapi, ada satu makhluk yang merasa terusik dengan penunjukan Adam sebagai khalifah, yakni Azazil—seorang jin yang merasa lebih senior. Dialah yang kemudian menggoda Adam sehingga tergelincir. Namun, Adam segera bertobat dan kembali kepada fitrah kekhalifahannya (QS Al-Baqarah: 37). Di sini terbentuk pola: godaan Azazil (Iblis) menggerakkan potensi fasad, sementara tobat adalah mekanisme pemulihannya.

Seiring waktu, banyak keturunan Adam yang memilih jalan berbeda. Mereka tidak mau bertobat, bahkan setia mengikuti bujukan Iblis, sehingga menjelma menjadi Bani Adam Sang Perusak. Al-Qur’an mencatat mereka dengan jelas: kaum ‘Ad, Tsamud, Fir’aun, dan yang paling signifikan untuk narasi akhir zaman, Yakjuj wa Makjuj. Mereka bukan hanya perusak fisik, tetapi juga perusak tatanan sosial dan moral. Allah menggambarkan karakter mereka dalam QS Al-Fajr (6-12) dan QS Al-Qashash ayat 3-4: sewenang-wenang, memecah belah manusia agar saling bermusuhan, serta mengeksploitasi wanita dengan cara melemahkan laki-laki. Ini adalah blueprint kejahatan struktural yang menghancurkan dari dalam.

Hari ini, dunia dikejutkan oleh dibukanya “Kotak Pandora” Jeffrey Epstein melalui undang-undang baru di Amerika Serikat. Epstein, seorang Yahudi Ashkenazi dari latar belakang yang kompleks, terungkap bukan sekadar pengusaha, tetapi simbol jaringan kekuatan gelap. Dia mendikte para pemimpin dunia, elit politik, dan pemodal global dengan satu “komoditas” paling keji: eksploitasi seksual perempuan muda di bawah umur di pulau pribadinya. Polanya persis seperti yang digambarkan Al-Qur’an: eksploitasi wanita sebagai alat kontrol, korupsi moral, dan pemecah belah.

Epstein secara genetik berasal dari kawasan Kaukasus wilayah yang dalam sejumlah telaah sejarah dan hadis dikaitkan dengan asal-usul suku Khazar, yang sering diidentifikasikan sebagai Yakjuj wa Makjuj dalam nubuat akhir zaman. Dalam Surah Al-Kahfi ayat 94, Yakjuj wa Makjuj digambarkan sebagai “perusak di muka bumi.” Epstein adalah bidak dari mereka, baik secara genetik maupun ideologis. Dia terhubung erat dengan operasi Zionis dan intelijen seperti Mossad, yang berusaha menguasai dunia bukan hanya secara politik, tetapi juga melalui pelemahan moral massal (aspek esenial Sionisme).

Kematian Epstein yang “digantung diri” dalam penjara yang seharusnya paling diawasi, semakin menegaskan bahwa jaringan ini terlindungi oleh kekuatan yang sangat besar. Kematiannya bukan akhir cerita, melainkan bagian dari penutupan rapat-rapat skandal yang melibatkan banyak nama besar. Terbukanya Kotak Pandora ini seharusnya menjadi alarm keras bagi umat Islam, bukan untuk terjebak dalam teori konspirasi kosong, melainkan untuk membaca tanda-tanda zaman dengan kacamata wahyu.

Fasad yang dilakukan Epstein dan jaringannya adalah manifestasi modern dari karakter Yakjuj wa Makjuj: menghancurkan tatanan keluarga, menormalisasi kejahatan seksual, mengkotak-kotakkan masyarakat, dan mengendalikan dunia dari balik layar dengan kebejatan. Jika dahulu kaum ‘Ad dihancurkan dengan angin, Tsamud dengan petir, maka hari ini, Allah mungkin sedang membuka tabir kejahatan itu perlahan sebagai peringatan sebelum azab yang lebih besar.

Oleh karena itu, alarm ini menuntut respons yang jelas: pertama, meningkatkan kewaspadaan kolektif terhadap segala bentuk eksploitasi dan pemecah belah. Kedua, menguatkan ketakwaan dan persatuan umat sebagai benteng dari fasad moral. Ketiga, menyadari bahwa perjuangan melawan Yakjuj wa Makjuj di akhir zaman bukan hanya perang fisik, tetapi lebih dahulu adalah perang ideologi, moral, dan informasi.

Kotak Pandora Epstein telah terbuka. Ia mengingatkan kita bahwa godaan Azazil terhadap Adam dahulu kini telah berevolusi dalam bentuk jaringan global yang sistematis. Namun, mekanisme penyelamatan yang Allah berikan tetap sama: taubat, ilmu, dan kesadaran untuk menolak kerusakan. Sebab, seperti janji Allah, bumi ini akan tetap dipimpin oleh hamba-hamba-Nya yang shaleh, yang menolak untuk menjadi bagian dari Bani Adam Sang Perusak.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sya'ban 1447
Februati 2026

Sebelumnya :