Aming Tirta Santri Pesantren Lansia Al I'tisham Bogor, Tuturkan Kisahnya

Aming Tirta Santri Pesantren Lansia Al I'tisham Bogor, Tuturkan Kisahnya

Menurut Pak Aming pesantren ini tidak memberlakukan sistem ujian. Hal tersebut justru membuat para jamaah semakin antusias mengikuti pembelajaran. “Biasanya orang-orang menghindari ujian.

Pewarta : Anwar Aras


Aming Tirta menceritakan kisahnya saat terdaftar sebagai salah satu santri Pesantren Lansia Al I’tisham Bogor.

Lembaga pendidikan khusus lansia  yang telah terdaftar di BKsPPI ini berdiri pada 2024.  Pendiri sekaligus penanggung jawab Buya Hendri Tanjung, Ph.D, yang juga Direktur Sekolah Pasca Sarjana UIKA Bogor .

Bagi Aming , kehadiran pesantren ini menjadi angin segar bagi jamaah lanjut usia yang tetap ingin terus belajar agama dalam suasana yang nyaman, tenang, ditengah tengah perubahan Budi Agung.

Ia menilai kepemimpinan Buya Hendri Tanjung memiliki visi yang kuat, tidak hanya dalam membangun fisik masjid yang nyaman dan ramah jamaah, tetapi juga dalam menguatkan pembangunan spiritual umat. “Program-programnya sangat positif dan terencana. Ini bukan sekadar kajian rutin, tetapi sebuah sistem pembelajaran keislaman yang berkelanjutan,” tuturnya

Sisipkan gambar ...

Menurut Pak Aming, salah satu daya tarik utama Pesantren Lansia Al I’tisham  Bogor adalah konsepnya yang ramah bagi usia lanjut. Selama ini, banyak orang tua yang aktivitasnya terbatas di rumah: datang ke masjid, salat, lalu pulang.

Namun dengan hadirnya pesantren ini, para lansia memiliki ruang untuk terus mengaji, berdiskusi, dan memperdalam ilmu agama dalam suasana persaudaraan. Kurikulumnya pun disusun secara rapi dan terstruktur, dengan pengajar seperti Buya Hendri Tanjung, Ph.D. Dr.Samsul Basri, Dr.Ibdalsyah, Dr Ahmad Alim  dan Dr.Budi Hadriyanto.

Ia menilai kepemimpinan Buya Hendri Tanjung memiliki visi yang kuat, tidak hanya dalam membangun fisik masjid yang nyaman dan ramah jamaah, tetapi juga dalam menguatkan pembangunan spiritual umat. “Program-programnya sangat positif dan terencana. Ini bukan sekadar kajian rutin, tetapi sebuah sistem pembelajaran keislaman yang berkelanjutan,” tuturnya.


Keunikan lainnya, lanjut Pak Aming, pesantren ini tidak memberlakukan sistem ujian. Hal tersebut justru membuat para jamaah semakin antusias mengikuti pembelajaran. “Biasanya orang-orang menghindari ujian.

Di sini tidak ada tekanan, belajarnya sampai akhir hayat. Kurikulumnya seakan tidak pernah selesai, karena memang tujuan utamanya adalah memperbaiki diri hingga akhir usia,” ujarnya.

Ia bahkan berseloroh, jika sistem pesantren ini disandingkan dengan dunia perguruan tinggi, para santri sebenarnya sudah layak mendapatkan gelar kehormatan.

Namun yang terpenting bukanlah gelar, melainkan tercapainya predikat sebagai hamba Allah yang terus belajar dan memperbaiki kualitas ibadah. Pak Aming juga bersyukur karena istrinya turut bergabung sebagai santri, sehingga proses belajar agama menjadi perjalanan bersama dalam rumah tangga.

Menariknya, Pesantren Lansia Al I’tisham tidak hanya diikuti jamaah lokal. Pak Aming mencatat banyak santri daring yang berasal dari luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, bahkan Amerika Serikat. Dari dalam negeri pun, jamaah datang dari berbagai kawasan, mulai dari Bogor hingga wilayah sekitarnya.

Hal ini menunjukkan bahwa model pesantren lansia ini mendapat sambutan luas dan memenuhi kebutuhan spiritual umat lintas usia dan wilayah.

Lebih jauh, Pak Aming menilai materi-materi yang disampaikan di pesantren tidak hanya relevan bagi kalangan tertentu, tetapi sangat penting bagi semua, terutama dalam menanamkan pemahaman tentang makna waktu, amal jariyah, dan kehidupan akhirat. Salah satu pelajaran yang paling membekas baginya adalah tentang infak dan sedekah. “Semakin banyak kita memberi di jalan Allah, semakin besar pula penggantinya. Tidak perlu takut kehilangan,” katanya, sembari mengingat kisah-kisah di masa Rasulullah ﷺ tentang para sahabat, termasuk kaum perempuan, yang berlomba-lomba berwakaf dan bersedekah demi kemaslahatan umat.

Baginya, semua amal itu bukan semata-mata warisan untuk anak keturunan, tetapi bekal utama bagi diri sendiri ketika kembali kepada Allah. “Yang kita tinggalkan bukan hanya untuk dunia, tapi untuk akhirat kita sendiri,” ujarnya.

Menutup kisahnya, Aming Tirta berharap kehadiran Pesantren Lansia Al I’tisham dapat menjadi inspirasi bagi jamaah lainnya untuk ikut hadir, berpartisipasi, dan terus belajar agama hingga akhir hayat. “Mari kita sempurnakan ibadah kita, semoga kita semua termasuk orang-orang yang husnul khatimah,” pungkasnya.

 

Sebelumnya :