D E Topan : "Wakaf bukan hanya soal membangun fisik, tetapi bagaimana aset itu hidup, tumbuh, dan terus memberi manfaat,”
Oleh : Anwar Aras
BANDUNG UMMATTV.COM - Wakaf tidak lagi dimaknai sebatas pembangunan masjid, sekolah, atau makam. Di Pesantren Daarut Tauhid (DT) Bandung, wakaf justru dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi umat melalui konsep wakaf produktif. Model inilah yang menjadi penopang utama keberlangsungan operasional pesantren dan aktivitas dakwahnya.
Hal tersebut disampaikan Direktur Wakaf Daarut Tauhid Bandung, Doddy Ekapriades Topan , dalam wawancara khusus terkait pengelolaan wakaf produktif di lingkungan pesantren.
“Wakaf produktif ini ibarat darahnya pesantren. Karena sebagian besar aset kita berasal dari wakaf, tentu dibutuhkan biaya operasional yang terus berjalan. Di situlah wakaf produktif menjadi solusi,” ujar Doddy.
Ia menjelaskan, membangun masjid relatif lebih mudah karena bersifat sekali jadi. Namun tantangan sesungguhnya adalah memastikan operasional masjid dan lembaga dakwah dapat berjalan sepanjang waktu. Tanpa sumber dana berkelanjutan, aktivitas ibadah dan pembinaan umat akan sulit dipertahankan.
“Operasional masjid itu tidak pernah berhenti. Kalau hanya mengandalkan infak atau kotak amal, tentu berat. Karena itu, wakaf harus dikelola secara produktif agar hasilnya bisa menopang kebutuhan tersebut,” jelasnya.
Di Daarut Tauhid, wakaf produktif diwujudkan melalui berbagai unit usaha, seperti pujasera, penginapan, kios-kios usaha, serta layanan pendukung lainnya. Seluruh keuntungan dari unit-unit ini dikembalikan untuk kepentingan umat.
“Sebagian keuntungan dari pujasera dan penginapan dialokasikan untuk operasional masjid, pendidikan, dakwah, kegiatan kemanusiaan, hingga pemberdayaan ekonomi. Dengan begitu, kebutuhan dana sudah tersedia tanpa harus terus-menerus mencari,” kata Doddy.
Menurutnya, pendekatan ini membuat wakaf tidak bersifat konsumtif semata. Aset wakaf tetap terjaga, sementara hasil pengelolaannya terus mengalir dan memberi manfaat jangka panjang bagi umat.
Sumber Foto : wakafdt.or.id
Salah satu prinsip utama pengelolaan wakaf produktif di Daarut Tauhid adalah berbasis kebutuhan pasar yang nyata, bukan sekadar mengikuti tren. Dengan jumlah santri mondok mencapai sekitar 3.000 orang, pesantren memiliki kebutuhan rutin yang besar, terutama di sektor konsumsi dan layanan harian.
“Santri makan tiga kali sehari. Kalau sekali makan Rp10.000 saja, kebutuhan hariannya sudah sangat besar. Dari situ kita bangun dapur menggunakan dana wakaf produktif. Santri tetap makan, ada keuntungan, dan pesantren bisa terus berjalan,” paparnya.
Selain dapur, layanan laundry, kios kebutuhan harian, hingga usaha pulsa juga dikembangkan sebagai bagian dari wakaf produktif. Namun, semua usaha tersebut melalui kajian kebutuhan terlebih dahulu.
“Kita tidak ikut-ikutan tren. Bukan karena lagi musim kopi lalu bikin kafe. Kalau santri butuh laundry, kita bangun laundry. Kalau butuh pulsa, kita kembangkan usaha pulsa. Semuanya berdasarkan kebutuhan pasar yang jelas,” tegasnya.
doddy menuturkan, Daarut Tauhid telah mengelola wakaf sejak era 1990-an. Namun pada masa itu, wakaf masih dipahami secara tradisional, terbatas pada pembangunan masjid, sekolah, dan makam. Konsep wakaf produktif mulai dikembangkan secara lebih sistematis sejak 2010-an hingga sekarang.
“Permasalahan terbesar lembaga wakaf di Indonesia adalah biaya operasional. Dengan wakaf produktif, aset wakaf tetap utuh, tetapi manfaatnya terus mengalir dan menopang kebutuhan lembaga,” ujarnya.
Penguatan wakaf produktif ini juga mendorong pesantren menjadi lebih mandiri, tidak bergantung pada donasi sesaat, serta mampu merencanakan program dakwah dan pendidikan secara berkelanjutan.
Melalui pengelolaan wakaf produktif, Pesantren Daarut Tauhid mampu menopang berbagai sektor sekaligus, mulai dari pendidikan santri, operasional masjid, dakwah ke daerah-daerah terpencil, hingga program kemanusiaan.
“Kalau ingin mengirim dai ke pelosok, dananya sudah ada. Mau mencetak Al-Qur’an, dananya juga tersedia. Wakaf produktif membuat dakwah tidak lagi terhambat oleh persoalan biaya,” tuturnya.
Ia berharap, konsep wakaf produktif yang diterapkan di Daarut Tauhid dapat menjadi inspirasi bagi pesantren, masjid, dan lembaga Islam lainnya di Indonesia dalam membangun kemandirian ekonomi umat.
“Wakaf bukan hanya soal membangun fisik, tetapi bagaimana aset itu hidup, tumbuh, dan terus memberi manfaat,” pungkasnya
Informasi seputar Wakaf produktif dapat kunjungi link : https://wakafdt.or.id/
Dokumentasi usai wawancara bersama Direktur Wakaf Produktif Doddy Ekapriades Topan di ruang humas DT Bandung Jalan Gegerkalong Girang No. 38 Bandung (19/1/2026).