Dalam narasi akhir zaman, ia mengingatkan kita bahwa kejayaan materialistik pasti ada batasnya, dan pergantian kekuasaan dunia adalah sunnatullah.
Oleh : Ust Salas Aly Temur (Ahli Eskatologi Islam)
Tahun 2026 mencatat suatu langkah gegap gempitanya Donald Trump yang kembali memimpin Amerika Serikat. Tindakannya—dari penculikan Nicolás Maduro dari Istana Venezuela, penciptaan kerusuhan di Iran, hingga rencana aneksasi Greenland untuk keamanan masa depan AS—bukan sekadar manuver geopolitik biasa. Dalam kerangka pemikiran yang lebih luas, khususnya melalui lensa ilmu akhir zaman yang didasarkan pada siklus sejarah dan tanda-tanda eskatalogis, langkah-langkah Trump dapat dibaca sebagai episode krusial dalam fase senja peradaban Barat yang materialistik. Trump, sebagai sosok, merupakan manifestasi nyata dari karakteristik akhir peradaban ini. Secara genetik perjuangan, ia adalah figur Pro-Zionis, pebisnis tulen, yang mengarusutamakan kepentingan Amerika Serikat dengan cara apa pun (America First). Ia adalah pemimpin blok Barat dengan ciri sekuler, kapitalistik, dan rasionalistik-empirik. Karakternya yang kontroversial namun konsisten merepresentasikan puncak dari paradigma peradaban Barat yang telah berkuasa selama siklus historis tertentu. Al-Qur’an, melalui kisah Ashabul Kahfi, mengisyaratkan siklus peradaban sekitar 300 tahun. Dunia saat ini berada dalam genggaman peradaban Barat materialistik yang sedang memasuki paruh kedua dari siklus 300 tahun keduanya. Siklus pertama kebangkitan Barat dimulai pada abad ke-15 dengan Renaissance—kebangkitan kembali ideologi Yunani dan Romawi Kuno. Kebangkitan dari Barat ini secara metaforis mengingatkan pada sabda Rasulullah SAW tentang tanda besar akhir zaman: "Matahari terbit dari Barat" (HR Muslim 5234). Bukan matahari fisik, tetapi "matahari" peradaban, ilmu pengetahuan, dan kekuasaan dunia yang bersinar dari Barat. Kepemimpinan peradaban Barat memang unik. Ia mengedepankan rasionalisme empirik dan paham materialistik, yang telah menghasilkan lompatan luar biasa dalam sains dan teknologi, menyulap dunia menjadi global village yang terhubung secara digital. Namun, kemenangan akal dan materi ini dibayar mahal pada ranah sosial dan spiritual. Peradaban ini menyeret manusia menuju atheisme, paham kebendaan yang berlebihan (materialisme), dan marginalisasi agama dari kehidupan publik. Agama Kristen yang pernah menjadi fondasi negara-negara Barat pun menyusut, gereja-gereja dijual, simbol bahwa spiritualitas telah tergusur. Karakter materialistik ini secara simbolis sejalan dengan gambaran ideologi Dajjal—yang hanya melihat permukaan (lahiriyah), mengingkari hakikat batin, dan membius manusia dengan kecintaan pada dunia (hubb al-dunya) serta pengabaian terhadap akhirat. Peradaban Barat, dalam fase ini, menjadi medium sempurna bagi menyebarluaskan "pandangan Dajjal" tersebut. Paruh kedua siklus 300 tahun kedua peradaban Barat (sekitar abad 19–sekarang) diisi dengan penguasaan sistem keuangan global. Pasca-kemenangan Inggris yang didukung kapitalis Rothschild pada 1815, sistem bank sentral dan kapitalisme finansial menguasai dunia. The Federal Reserve (The Fed) yang sepenuhnya dikuasai bankir internasional, serta Perang Dunia I dan II, melahirkan tatanan dunia hegemonik berbasis Dolar AS. Namun, Al-Qur’an menegaskan bahwa kejayaan itu Allah pergilirkan (QS Ali Imran: 140). Abad ke-21 menjadi abad penentuan: apakah peradaban Barat dapat memperpanjang masa kepemimpinannya untuk siklus ketiga, atau akan digantikan oleh peradaban baru yang lebih berkeadilan dan spiritual? Di sinilah langkah Trump menemukan konteks dramatisnya. Trump menyadari bahwa kapitalisme Barat sedang menuju sunset. Kekuatan Dolar AS, tulang punggung sistem ini, semakin merosot, terutama setelah ikatan Petrodolar dengan Arab Saudi berakhir pada 2024. Untuk mempertahankan hegemoninya, ia berusaha mengamankan cadangan minyak besar-besaran di Venezuela dan Iran melalui operasi militer dan destabilisasi. Aneksasi Venezuela dan Iran adalah upaya nekat untuk membentuk basis minyak baru bagi Dolar, menggantikan tonggak Petrodolar yang telah runtuh. Namun, jika Trump gagal menundukkan Venezuela dan Iran, pilihan terakhirnya adalah perang besar—yang sangat berpotensi meningkat menjadi perang nuklir. Dalam eskatologi Islam, perang pemusnah massal seperti ini dapat dimaknai sebagai bagian dari tanda-tanda besar akhir zaman, seperti munculnya asap (dukhan) yang menyelimuti (QS Ad-Dukhan: 10-11), atau huru-hara global yang mendahului kedatangan Al-Mahdi. Perang nuklir tidak hanya akan menjadi akhir dari riwayat peradaban Barat, tetapi juga mungkin menjadi pembuka babak baru transisi peradaban dunia. Kesimpulannya, langkah-langkah Trump pada 2026 bukan hanya strategi politik pragmatis. Ia adalah gejala final dari sebuah peradaban yang berjuang mati-matian mempertahankan hegemoninya di ujung siklus 300 tahun. Dalam narasi akhir zaman, ia mengingatkan kita bahwa kejayaan materialistik pasti ada batasnya, dan pergantian kekuasaan dunia adalah sunnatullah. Kegagalan atau keberhasilan Trump akan menentukan apakah peradaban Barat mendapat "perpanjangan waktu" atau justru mempercepat keruntuhannya, membuka jalan bagi kebangkitan peradaban baru yang lebih seimbang antara materi dan ruh, antara akal dan wahyu. Wallahu a’lam bish-shawab. Salas Aly Temur Januari 2026