Tidak ada gunanya seseorang menghibahkan seluruh hartanya, bekerja sepanjang hari untuk melayani orang lain, kalau shalat belum menjadi prioritas.
By: Prof. Veni Hadju
Shalat adalah ibadah wajib yang dilakukan oleh setiap muslim lima kali sehari. Selain shalat wajib, ada juga shalat sunnah. Tiada hari tanpa ibadah *SHALAT.* Ibadah ini harus dilakukan oleh orang beriman yang sudah balig dan dalam kondisi sadar. Pada pasien yang dalam kondisi parah, asalkan masih sadar, maka ibadah ini tetap wajib. Dilaksanakan setelah bersuci dengan pakaian dan tempat yang bersih. Shalat adalah ibadah yang menentukan keseluruhan amal seseorang. Pertanyaan pertama di akhirat kelak adalah bagaimana shalat itu dilakukan selama hidup di dunia.
Kemudahan melakukan *SHALAT* yang khusyuk di awal waktu adalah nikmat terbesar bagi seorang muslim. Bagi pria, diwajibkan shalat berjamaah di masjid. Banyak nikmat yang dirasakan apabila kita bisa ikut berjamaah di masjid setiap lima waktu. Nikmat berwudu, berjalan ke masjid dengan doa yang diajarkan Rasulullah, masuk ke masjid sambil membaca doa, bertemu imam dan jamaah lainnya dengan wajah berseri, ketenangan saat rukuk dan sujud bersama, adalah sebagian dari nikmat ini. Tidak sedikit yang masih meremehkan nikmat ini sehingga tidak tergerak untuk pergi berjamaah.
Allah dalam Kitab-Nya telah menyatakan bahwa shalat adalah ibadah yang paling utama dibanding ibadah yang lain. Tidak ada gunanya seseorang menghibahkan seluruh hartanya, bekerja sepanjang hari untuk melayani orang lain, kalau shalat belum menjadi prioritas. Itulah sebabnya setiap muslim selalu memberi perhatian untuk memaksimalkan ibadah ini, termasuk menyempurnakan wirid dalam setiap gerakan shalat, memahami artinya, dan menambah hafalan ayat Al-Qur'an yang bisa digunakan untuk menambah kenikmatan dalam ibadah ini.
«اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ»
_"Bacalah (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan ketahuilah mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."_ (QS. Al-Ankabut 29: 45).
*RASAKAN DAN NYATAKAN KENIKMATAN SHALAT UNTUK MENAMBAH KEYAKINAN KITA KEPADA-NYA.*
Teman saya bernama Merry (bukan nama sebenarnya) menceritakan kegundahannya atas masalah yang dialaminya. Saya mendengar dengan saksama saat dia menceritakan masalahnya. Dalam hati, saya berpendapat bahwa itu terjadi karena *IMAN*-nya yang lemah. Dia terlalu berharap semuanya sempurna dan tanpa cacat. Padahal Allah dan Rasul-Nya berulang kali menjelaskan bahwa manusia di dunia ini akan diuji. Bila ujian itu sangat berat kita rasakan, maka kita bisa bertanya apakah ada dosa yang kita lakukan, atau ada tindakan yang menzalimi orang lain.
Iman yang ada dalam hati ini memang naik turun. Meningkat bersama ketaatan dan menurun karena perbuatan maksiat. Iman yang terjaga dengan ibadah yang dijalankan terus-menerus akan memberi cahaya yang akan menerangi hati nurani sehingga bisa menerima segala ujian dengan hati lapang. Rasa syukur akan nikmat *IMAN* akan membuat seseorang berserah diri kepada Sang Mahakuasa, Pemilik langit dan bumi dan semua yang ada di antaranya. Semua terjadi atas kehendak-Nya semata. Kelemahan iman sebaliknya membuat hati kita sempit, gundah, gelisah, dan tanpa arah.
Tidak sedikit orang yang tidak menyadari akan pentingnya merawat *IMAN* dalam hatinya. Keimanan yang kuat akan menenteramkan hati dan memberikan rasa bahagia di tengah ujian yang menghadang. Ada keyakinan yang kuat pasti Allah Maha Melihat dan Mendengar setiap doa yang dipanjatkan. Kalau belum dikabulkan, berarti Allah ingin melihat kegigihan kita untuk terus berharap rahmat dan petunjuk-Nya. Iman harus dinyatakan dalam hati, diucapkan oleh lidah, dan ditampakkan dalam perbuatan.
«اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ (٢) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ (٣)»
_"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya) dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta."_ (QS. Al-Ankabut 29: 2-3).
Nyatakan Iman dalam Hatimu, dan Tingkatkan Setiap Saat dengan Ketaatan