• +6281 1987 271

Membangun Miniatur Peradaban Berbasis Keluarga

Membangun Miniatur Peradaban Berbasis Keluarga

KELUARGA memiliki peranan yang sangat penting dalam hal pendidikan. Karena  keluarga merupakan tempat pertama bagi pertumbuhan anak, dimana anak mendapatkan pengaruh dari semua anggota keluarga pada masa awal kehidupannya.

Masa ini merupakan salah satu fase terpenting dan paling kritis dalam kehidupanya. Kenapa dikatakan sangat penting dan kritis? Karena apa yang ditanamkan dalam diri anak pada masa tersebut akan sangat membekas dan tidak mudah hilang dalam ingatan.

Karena keluarga merupakan pondasi bangunan bagi masyarakat, maka sudah selayaknya keluarga keluarga memiliki peranan terbesar dalam pendidikan anak.

Menurut Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin , keluarga idaman tidak sekedar sama dengan keluarga masyarakat pada umumnya, tapi harus lebih dari itu.

Sehingga kesimpulan beliau, keluarga idaman  harus  menjadi ma’wa (baca: tempat berteduh/kembali). Sebuah keluarga harus menjadi surga sebagaimana slogan baiti jannati, dimana ada kerinduan pada setiap anggota keluarga untuk kembali ke keluarga. Seorang  suami, meskipun sangat sibuk berdakwah, tetap merindukan keluarga. Begitu juga dengan anak-anak kita, selalu merindukan kembali ke rumah. Apalagi, saat ini, banyak di antara anak-anak yang lebih suka di jalan, suka bermain bersama teman-teman, lupa dengan rumahnya. Tapi dengan keluarga menjadi ma’wa, maka seorang anak akan selalu merindukan kembali ke rumahnya, sebab di rumahnya, ada ketentraman, ada kebahagian.

Keluarga juga harus bisa menjadi  madrasah.

Keluarga harus dijadikan sebagai tempat membina dan mengkader, madrasah buat suami, istri, terlebih lagi anak-anak. Di dalam keluarga harus ada taklim dan tarbiyah. Murabbi  utamanya adalah sang suami. Menjadikan keluarga sebagai madrasah menjadi tanggung jawab bersama.

Selama ini, mungkin proses tarbiyah masih sedikit dalam keluarga. Kendalanya, kemampuan suami istri masih sangat terbatas, serta kesibukan masing-masing keluarga. Peran Ayah juga harus dominan dirumah. Menemukan ayah dirumah untuk zaman yang serba ada hari ini bisa dikatakan cukup langka dan menjadi masalah setiap keluarga. Ayah terlalu sibuk di luar sehingga peran mereka tidak terlihat di rumah seperti sebuah istilah yang sering digaungkan “Berayah ada, berayah tiada“. Dan keluarga Muslim tentu tidak menginginkan hal ini terjadi apalagi sampai mewabah. Maka mengembalikan fungsi Ayah dirumah harus kembali digaungkan,” tandasnya.

Selanjutnya  beliau senantiasa memberikan motivasi akan peran keluarga dalam upaya mengembalikan kejayaan IslamMaka keluarga harus bisa menjadi markas kecil perjuangan Islam. Ini yang perlu diingatkan bagi keluarga. Sebab, menikah bukan sekedar mencari pasangan. Tapi lebih dari itu, kita ingin keluarga menjadi batu bata dari bangunan perjuangan Islam. Dia menjadi penyanggah utama dalam perjuangan Islam. Tentu saja, mencapai hal ini butuh perjuangan dan pengorbanan.

Sehingga untuk mencapai kriteria keluarga idaman tersebut, menurut Ust. Zaitun, keluarga itu harus dibangun dari tujuh pilar. Ketujuh pilar itu;

Pertama, Iman

Iman harus menjadi perhatian utama dalam membangun keluarga. Setiap ada masalah, faktor iman harus dicek. Tidak mungkin terjadi keluarga idaman, kalau iman ini diabaikan. Keluarga harus dibangun dari seorang mukmin dan muslimat.

Kedua, Cinta

Keluarga idaman tidak akan terwujud tanpa cinta. Sebagian  orang menghabiskan waktunya di luar rumahnya, karena di dalam keluarganya tidak ada lagi cinta. Biasanya hubungan keluarga tinggal hak dan kewajiban saja. Bahkan, kadang hanya menjaga image saja, agar orang tidak mengetahui persoalan rumah tangga.

Pada dasarnya cinta itu datangnya dari Allah. Sehingga, hubungan cinta antara laki-laki dan perempuan harus diikat dengan ikatan suci, yang bernama pernikahan.

Olehnya itu, cinta perlu dipelihara dan dipupuk dalam keluarga. Karena berkeluarga adalah ibadah. Berkeluarga untuk perjuangan, yang dibangun dalam sebuah ikatan pernikahaan. Mungkin saja, ada sesuatu yang tidak disukai dari istri atau suami kita, tapi itu tidak menyebabkan ikatan cinta harus memudar. Ingatlah pesan Rasulullah dalam sabdanya, “kalau ada yang tidak kau sukai dari istrimu, mudah-mudahan masih ada yang kau sukai dari yang lain”.

Sabda Rasulullah ini harus benar-benar dimaknai dalam kehidupan berkeluarga, sebab tidak seseorangpun yang sempurna, semuanya pasti memiliki kekurangan. Tapi inipun tidak berarti, setiap kekurangan itu menyebabkan hubungan suami istri menjadi renggang. Sebaliknya, kita harus menutupi berbagai kekurangan itu. Dengan demikian kehidupan keluarga akan semakin harmoni.

Ketiga, Tarbiyah

Faktor tarbiyah atau pembinaan sangat penting dalam menciptakan keluarga idaman. Keluarga harus menjadi tempat tarbiyah/pembinaan bagi keluarga terutama untuk anak-anak. Sebab, proses tarbiyah ini yang akan melahirkan generasi Islam, yang paham  Islam, serta mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan.

Keempat, Saling Memahami

Dalam keluarga, saling memahami merupakan salah satu faktor penting dalam membangun keluarga idaman, keluarga sakinah mawaddah warahmah. Kita harus saling memahami hak dan kewajiban kita. Meskipun, di antara kita kadang muncul sikap egois. Kita selalu mengingat kewajiban orang pada kita. Namun kadang kita lalai memperhatikan kewajiban kita terhadap orang lain.

Kelima, Perhatian

Pasangan suami istri harus punya perhatian terhadap pasangannya.  Suami harus memperhatikan, serta membimbing istri untuk meningkatkan ilmu, akhlak, dan, ibadah. Dalam aktivitas duniawi, seorang suami harus punya perhatian terhadap istrinya. Termasuk membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga, selama dalam batas-batas proporsional. Termasuk perhatian suami terhadap istrinya, yakni; memberikan hadiah pada istri setelah pulang kantor, terutama makanan yang disukai istri. Ini mungkin kecil, tapi dapat semakin menumbuhkan cinta diantara pasangan suami istri.

Begitu juga istri, harus punya perhatian terhadap suaminya, misalnya, menyiapkan sepatu dan baju bola, bagi istri yang punya suami hobi main bola. Seorang pasangan suami istri tidak boleh berkomentar jelek terhadap hobi pasangannya.

Keenam, Komunikasi

Tentu saja, bukan hanya komunikasi langsung (verbal) yang kita maksudkan di sini. Meskipun, ini juga perlu ditingkatkan, sebab hal ini juga menjadi faktor pendukung untuk melahirkan keluarga idaman. Meskipun, menurut penelitian ahli Psikologi seorang laki-laki mengeluarkan kata-kata minimal 3 ribu/hari, sedangkan perempuan minimal 10 ribu/hari. Olehnya itu, umumnya seorang istri menunggu untuk diajak komunikasi oleh suaminya. Makanya, seorang suami harus memulai berkomunikasi dengan istrinya, meskipun sekadar basa-basi, misalnya sekadar bertanya, menjawab pertanyaan istri, atau memuji istri, seperti masakan. Dengan komunikasi non verbal, bisa melalui telepon, atau sms. Apalagi, jika seorang suami berada di luar kota.

Ketujuh,  Ungkapan-ungkapan Mesra

Masalah ungkapan-ungkapan mesra ini, kita belajar dari pribadi Rasulullan terhadap istrinya. Beliau sering memanggil istri-istrinya dengan ungkapan mesra, misalnya  memanggil dengan panggilan humairah.Walaupun, saya tidak menemukan dalilnya, namun panggilan habibati, tapi ini sangat bagus, sebagai ungkapan mesra terhadap pasangan. Jelas, ungkapan mesra ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan suami istri. Misalnya, ungkapan sayang. Mungkin sebagian ini kita anggap berlebihan, kalau kita anggap gombal, tapi tidak ada masalah sebab wanita pada umumnya itu suka digombal. Olehnya, itu, seorang istri tidak mengapa kalau memulai dalam memanggil dengan panggilan mesra terhadap suaminya.

 

 

Sebagai catatan, berkenaan dengan keluarga sebagai markaz perjuangan Islam. Bahwa, sesungguhnya perjuangan Islam harus mendapat dukungan penuh dari keluarga.Dalam dakwah, seorang istri tidak menghambat suaminya dalam perjuangan Islam. Hambatan, tidak hanya secara langsung, misalnya melarang suaminya pergi berdakwah, karena hal seperti tidak ditemukan, kalaupun ada sangat sedikit jumlahnya.

Namun, hambatan yang dimaksudkan di sini adalah dengan tidak mengkondisikan suaminya untuk melaksanakan dakwah, misalnya; dengan membebani suaminya di saat ingin melakukan tugas dakwah. Begitu juga sebaliknya, seorang suami harus memberi dukungan penuh terhadap istrinya dalam menjalankan amanah dakwah. Tentu saja, dukungan ini tidak hanya sekadar kata-kata, tapi butuh dukungan kongkrit, misalnya apa salahnya, seorang suami membantu istri dalam pekerjaan rumah tangga (cuci baju, menyiapkan makanan), jika tidak terlalu sibuk, sementara istri akan melaksanakan tugas dakwah. Jika dalam melaksanakan tugas dakwah menyebabkan kekurangan-kekurangan dalam keluarga, maka itu harus dikomunikasikan agar didapat jalan keluarnya.

Dari sini kami kembali merenungi dan mengingat betapa Jejak sejarah Nabiyullah Muhammad  hadir sebagai sosok yang tidak hanya sebagai penyampai dakwah,  beliau tidak hanya bertabligh, mengajar, mendidik dan membimbing, tetapi juga sebagai uswatun hasanah. Beliau juga memberikan contoh dalam kehidupan,beliau  sangat memperhatikan dan memberikan arahan dalam kehidupan social, ekonomi, politik hingga masalah keluarga dan Beliau adalah teladan ideal praktek dakwah yang mampu membangun peradaban umat, sebagai mana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Dan dari Sosok pemimpin kami  Ustadz Zaitun Rasmin, Peran dan fungsi  tersebut ingin diretas meneladani Sang Teladan Sejati.Semoga Allah senantiasa menjaga beliau. (Diramu oleh Aisyah Az Zahrah dari beberapa tausiyah Ustadz M. Zaitun Rasmin/muslimahwahdah.or.id/)

 

Sumber dari: https://wahdah.or.id/membangun-miniatur-peradaban-berbasis-keluarga/

Sebelumnya :
Selanjutnya :