• +6281 1987 271

(Khutbah Jumat) Peluang dan Tantangan

(Khutbah Jumat) Peluang dan Tantangan

Dosa Masyarakat Bersama Yang Dibiarkan Adalah Penyebab Musibah dan Bencana

Ini pesan dan peringatan dari nabi terakhir, dari 124.000 nabi dan rosul sejak awal jaman:

Pokok-pokok Khutbatul Jumu'ah Bulan Jumadil Awwal - Jumadil Akhir 1442 H. (Bulan Januari - Pebruari 2021 M.):


Khutbah Bagian I 

Musibah Dan Peluang  

Khutbatul Hajjah. Sholawat Nabi.


Ayat:

Musibah Dan Peluang

Q. S. Aali Imraan ayat 102.

Hadits pembuka khutbah.

Amma ba'du:

Renungankanlah betapa banyak kejadian mencekam akhir-akhir ini. Di Indonesia, khususnya.

Dan llmu itu adalah juga rasa takut dan cinta kepada Allaah Ta'aala, dan mendekatkan diri KepadaNya, dengan ibadah. Menghamba.

Menuruti petunjukNya, peraturanNya.

Agar: Salaamah (selamat). Bahkan, salaam (damai).

Tentu kita paham, kita tidak membuat Alam ini, bahkan tidak pula mampu membuat diri kita ini.

Andaikata saja, dulu Allaah menakdirkan kita diciptakan sebagai Bumi, Langit, Anjing, Kucing, Cacing, Batu, Tanaman, dsb., bukan sebagai manusia; maka apa hak kita menolaknya?

Ternyata kita diciptakanNya sebagai manusia.

Berislaam pula!

Agama 124.000 nabi dan rosul sejak awal jaman!

Yang 124.000 nabi-rosul itu juga adalah:

Penguasa, Raja, Pangeran, Menteri, Panglima Perang, Politikus, Diplomat, Manajer, Penegak Hukum, Organisatoris, dsb.! Sebagai teladan sempurna!

Dalam Ketuhanan Yang Maha Esa (Tawhiid).

Namun kini kita ternyata merasakan musibah yang datang beuntun beberapa tahun terakhir, apalagi di tahun 2020 - 2021.

Di negara yang bermayoritas Muslimiin.

Baik berupa banjir, gempa, erupsi gunung berapi, penyakit, kemiskinan, kedholiman, pemerasan, kematian-kematian, fitnah-fitnah, serangan-serangan, dll.

Macam sudah tak terhitung lagi, tak tertahankan lagi!

Namun sungguh Allaah Maha Pengasih lagi Penyayang, dan juga selalu memberikan rahmahNya, juga peluang untuk mendapatkan kebaikan dan melakukan perbaikan.

Setiap kali.

Bahkan ampunan-ampunan disediakanNya, dalam setiap penderitaan!

Bagi yang mau menyambutnya!

Negara Kesatuan Republik Indonesia Yang Seharusnya Islaami

Mari juga kita ingat saja, bahwa NKRI 🇲🇨 ini harus:

Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Tawhiid)!

Mengingkarinya, tentu saja adalah dosa amat besar!

Dan kejahatan konstitusi!

Karena ini ditegaskan di pasal 29 ayat 1 UUD 1945.

Dan di Pembukaan UUD 1945 juga ditegaskan, nama Allaah, dengan kalimat:

Atas berkat rahmat Allah ...

Yang Ketuhanan Yang Maha Esa (Tawhiid) itu, juga menjadi Pancasila sila pertama.

Bahkan nafas dan hikmah ajaran umum Islaam, Tawhiid, ada di Pancasila dan UUD 1945 dan turunannya.

Ini pondasi yang sudah cukup bagus!

Islaami.

Tentu kita ingat, para pendiri dan perancang negara ini, memang amat mayoritasnya, adalah kaum Muslimiin!

Utamanya, dari unsur organisasi massa Islaam:

Jam'iyyatul Khoir (1901), Sarekat Islam (1905), Muhammadiyah (1912), Al Irsyad (1914), Persis (1923), NU (1926), Al Wasliyah (1930), Mathla'ul Anwar (1936), dst.

Mereka semua lebih tua daripada negara ini!

Namun bagaimana pelaksanaan rancangan itu, Pancasila dan UUD 1945, dsb. itu; selama puluhan tahun Republik Indonesia ini ada?

Lihatlah.

Macam sudah cukup menyedihkan!

Dalam dunia sistemik dan komprehensif yang sering disebut sebagai Multi-faktor, Pol-Ek-Sos-Bud-Tek-Han-Kam, dsb.

Yang semuanya berhubungan!

Karena semuanya dari Tuhan Yang Esa! Satu!

Juga kini kita lihat, bahkan Ormas-ormas Islaam yang lebih tua daripada Indonesia ini, pun, diganggu.

Dari dalam maupun luar. dipecahi. diadu-domba. dikerdilkan. disusupi kaum penjahat. Massa awamnya disesatkan. Diberi isu menyesatkan. Difitnahi. dan sebagainya. Dan nilai-nilai keislaaman-keindonesiaan, rancangan dasarnya pun diganggui!

Ada yang lancang hendak mengubahnya!  Korupsi pun di mana-mana! dan sebagainya!

Dan sayangnya, yang cukup berimaan, yang mayoritas, macam tidak pula cukup kuat dan benar dalam menjaganya!

Apalagi: Tidak cukup menjaganya dengan bermanajemen, berjama'ah, dengan bersama-sama di cara yang benar!

Padahal sebagai Ahlus Sunnah dengan manhaj As Salafiyyaah, tentu saja pantas ber-Jama'ah!

Ahlus Sunnah, Al Jama'ah, was Salafiyyaah!

Misalnya, mungkinkah ada mudah banjir dan polusi dahsyat jika saja hutan dan tanah yang juga adalah penyerap air, penangkal, 'paru-paru dunia', tak digunduli?

Yang penggundulan hutan itu, ternyata dilakukan bersama-sama!

Dan penanaman hutan kembali, tak cukup pula.

Kejahatan berjama'ah!

Bermaksiat berjama'ah!

Contohnya saja.

Maka tentu saja, karenanya, ini sudah sunnatulloh:

Jangan salahkan jika Pemiliknya, Pemilik Alam Semesta, Allaah Ar Robbul 'Aalamiin (Allaah Sang Pengatur Alam Semesta) pun, menghukum kita!

Mendidik kita!

Mengingatkan kita!

Agar sadar.

Allaah Subhaanahu Wa Ta'aala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Telah tampaklah kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia; Allaah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

(Q. S. Ar-Ruum (30) Ayat 41)

Allaah Subhaanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَاۤ اَصَا بَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍ ۗ

Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).

(Q. S. Asy-Syura (42) Ayat 30)

Allaah Subhaanahu Wa Ta'aala berfirman:

وَاِ ذَاۤ اَرَدْنَاۤ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah (kaum elit, kalangan atas, pimpinan, dsb.) di negeri itu (agar menta'ati Allaah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama-sekali (negeri itu).


(Q. S. Al-Isra' Ayat 16)


Kita pantas, perlu, bahkan wajib saling menjaga.


Saling mengingatkan.


Ini amar ma'ruf nahi munkar.


Laksana sholat berjama'ah - yang juga sarat dengan hikmah pelajaran ilmu 'Aqidah, 'Amaliyyaah, 'Adabiyyaah, Manajemen, Sosial-budaya, Politik, Hukum, dsb. - manakala Imaam (Pemimpin) Sholat berjama'ah berlaku salah, keliru, maka Jama'ah (Ma'mum) wajib mengingatkannya.


Menegurnya.

Meluruskannya.

Bahkan mengganti Pemimpin itu, manakala ketidakmampuan memimpinnya, semakin parah.

Atau akibatnya, dosa, musibah, bencana, harus menjadi tanggungan bersama.

Karena kita satu jama'ah, bahkan satu keturunan dari Adam 'alaihis salaam.

Satu masyarakat!

Yang sudah merasakan aneka kenikmatan.

Sungguh Allaah telah mencintai kita, sebelum kita sadar bahwa cinta itu ada.

Marilah kita mencintai Allaah, dan mencintai sesuatu karena Allaah.

Bertaubat, memperbaiki kesalahan, adalah amat penting pula. Karenanya. Dan insyaa Allaah membuka pintu rahmah, barokah, riziq, ke-salaamah-an (keselamatan), dst.


Sebanyak dan sesering mungkin setiap kali berbuat dosa dan sadar darinya.


"Setiap anak Adam adalah berdosa, dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat."

(H. R At Tirmidzi)


 Allaah Subhaanahu Wa Ta'aala berfirman:


وَ يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ ۙ قُلْ هُوَ اَذًى فَا عْتَزِلُوْا النِّسَآءَ فِى الْمَحِيْضِ ۙ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ ۚ فَاِ ذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّا بِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ


... Sungguh, Allaah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri."


(QS. Al-Baqarah Ayat 222)


 Allaah Subhaanahu Wa Ta'ala berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰى ۙ


Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman).


وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰى ۗ


Dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia sholat.


(Q. S. Al-A'la Ayat 14 - 15)


➖➖➖➖➖➖➖➖

Khutbah II 

Dosa Masyarakat Bersama Yang Dibiarkan Adalah Penyebab Musibah dan Bencana

Ini pesan dan peringatan dari nabi terakhir, dari 124.000 nabi dan rosul sejak awal jaman:


Dari Ibnu ‘Umar rodhiyollohu ’anhuma, menyampaikan bahwa Rosuululloh Muhammad) - shollollohu ’alaihi wa sallam - telah bersabda:

t

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ ، حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا ، إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ ، وَالأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا

وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ، إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ ، وَشِدَّةِ الْمَؤُونَةِ ، وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ

وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ ، إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ ، وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا

وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللهِ ، وَعَهْدَ رَسُولِهِ ، إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ ، فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ ، وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ ، إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ


Wahai kaum Muhajiriin (yang berhijroh) waspadailah lima (5) perkara apabila menimpa kalian, dan aku berlindung kepada Allaah, semoga kalian tidak menemuinya:

1). Tidaklah Zina nampak (terang-terangan) pada satu kaum pun, hingga mereka selalu menampakkannya, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tho’un dan penyakit-penyakit (*) yang belum pernah ada pada generasi sebelumnya.

(*) Misalnya: AIDS, dst. Dan sungguh ada dugaan kuat sebagian ahli, bahwa Covid-19 adalah penyakit buatan manusia, dengan tambahan penyakit macam AIDS di dalamnya, yang lepas ke masyarakat tidak sengaja (atau sengaja), wallohua'lam.

2). Dan tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan (*) kecuali mereka akan diadzab dengan kelaparan, kerasnya kehidupan dan kedholiman penguasa atas mereka.

(*) Termasuk Penipuan, Korupsi, Manipulasi, Kecurangan, dst.

3). Dan tidaklah mereka menahan Zakat harta-harta mereka, kecuali akan dihalangi hujan dari langit, andai saja bukan karena hewan-hewan niscaya mereka tidak akan mendapatkan hujan selamanya.

4). Dan tidaklah mereka memutuskan perjanjian Allaah dan perjanjian Rosul-Nya, kecuali Allaah akan menguasakan atas mereka musuh dari kalangan selain mereka, yang merampas sebagian milik mereka.

5). Dan tidaklah para Penguasa (Umaro) mereka tidak berhukum dengan Kitab Allaah, dan hanya memilih-milih dari hukum yang Allah turunkan, kecuali Allaah akan menjadikan kebinasaan mereka berada di antara mereka.

(Hadits riwayat 'Ibnu Hibban, Ash-Shohiihah: 106)


 Musibah Hilang Dengan Taubat:


Sahabat Nabi yang mulia, Amiirul Mu'miniin, Kholifah Ali bin Abi Thalib rodhiyollohu ’anhu berkata, berpesan dalam Atsar beliau:

مَا نَزَلْ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ، وَلَا رُفِعَ إِلَّا بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah terjadi suatu musibah melainkan karena dosa, dan tidaklah musibah itu dihilangkan melainkan dengan bertaubat.”

[Al-Jawaabul Kaafi: 74].


Wahai rakyat, wahai masyarakat!


Wahai Pemimpin, Politikus, Pejabat!


Semuanya saja, ayo kita dengar, ayo kita lihat!

Taubatlah kita bersama, sebelum semuanya terlambat!


Kau pikir bukit, gunung, air, tanah, lautan, dst., hingga dirimu sendiri itu, adalah buatanmu?


Adalah milikmu?

Kau eksploitasi tanpa batas semuanya tanpa malu!

Kau mungkin saja persekusi, tipui, kriminalisasi, bunuh orang seenaknya dengkulmu!

Dan yang mengaku berimaan pun mungkin saja diam saja macam sudah pula tuli-bisu!

Kau pikir Allaah, Pemilik Alam Semesta tak akan murka kepadamu?


 Kepemimpinan:

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.

Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya."


"Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya.

Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggungjawabannya.

Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya."

"Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya."


(H. R. Al Bukhori)

"Pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka."


(HR. Abu Na’im)


Rosululloh - shollollohu 'alaihi wa sallam - berkata kepada Abdurrohmaan bin Samuroh:

“Wahai 'Abdurrohmaan bin Samuroh, janganlah engkau menuntut suatu jabatan."

"Sesungguhnya jika diberi karena ambisimu maka kamu akan menanggung seluruh bebannya."

"Tetapi jika ditugaskan tanpa ambisimu maka kamu akan ditolong mengatasinya.”

(HR. Bukhori dan Muslim)

"Pengkhianatan paling besar adalah apabila seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya."

(HR. Ath-Thobroni)

Hiburan bagi yang tetap berimaan (dan melaksanakan syarat imaan, antara lain: melakukan amar ma'ruf nahi munkar):

Nabi - shollollohu ‘alaihi wasallam - bersabda:


مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ


“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya, melainkan Allaah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya, karenanya”

H. R. Al Bukhori dan Muslim.

Dari Abu Umaiyyah Asy-Sya‘bani ra, dia berkata:

Aku pernah mendatangi Abu Sya‘labah Al-Khusyani dan bertanya kepadanya, “Bagaimana pendapatmu mengenai ayat ini?”

Dia bertanya, “Ayat yang mana?”

Maka aku pun membaca ayat:

“Hai orang-orang yang berimaan, jagalah diri kalian, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepada kalian apabila kalian telah mendapatkan petunjuk.

(Q. S. Al Maa'idah ayat 105).”

Maka dia pun menjawab, “Demi Allaah, engkau telah menanyakannya kepada orang yang ahli tentangnya. Aku pernah menanyakan makna ayat ini kepada Rosululloh (shollollohu 'alaihi wa sallam). Maka, beliau bersabda:"

بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعْ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ

'Teruskanlah olehmu untuk selalu melakukan amar ma'ruf nahi munkar hingga engkau akan menyaksikan kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, kehidupan dunia yang diutamakan, serta orang-orang yang terpesona terhadap berbagai pendapat yang dikeluarkannya.'

'Hendaknya kamu hanya bergaul dengan orang-orang yang searah denganmu dan jauhilah orang-orang yang awam.'

'Sebab setelah jamanmu itu akan datang suatu jaman penuh cobaan di mana orang yang memegang teguh agamanya ibarat menggenggam bara api.'

'Ketahuilah, saat itu, orang yang terus berusaha untuk memegangi agamanya, maka pahalanya sama dengan 50 orang yang juga melakukan hal yang sama dari kalian.”

(Kemudian, 'Abdulloh bin Mubarok berkata, “Orang selain Utbah menambahkan riwayat ini dengan redaksi: ‘Apakah yang 50 kali itu dari generasi kami kami atau generasi mereka?’ Rosululloh (shollollohu 'alaihi wa sallam bersabda: ‘Untuk mereka.”)

HR. At-Tirmidzi dan 'Ibnu Majah dalam al-Fitan.

Do'a.

Penutup.


Penulis Ustadz Abu Taqi Mayestino


Sebelumnya :
Selanjutnya :