Di era digital dan materialistik umat Islam dituntut untuk mengambil keteladanan Ibrahim: tidak silau oleh kemajuan teknologi yang diciptakan manus
Oleh : Salas Aly Temur
Bulan Dzulhijjah tidak pernah lepas dari pelaksanaan rukun Islam yang kelima, yakni ibadah haji. Ibadah haji sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan Nabi Ibrahim AS beserta keturunannya, Ismail As. Di bulan yang mulia ini, umat Islam diajak untuk merenungkan kembali makna pengorbanan, ketauhidan, dan loyalitas mutlak hanya kepada Sang Pencipta. Al-Qur'an dengan tegas menekankan kepada umat akhir zaman agar mampu mengambil keteladanan dari kehidupan Nabi Ibrahim AS, sebagaimana diuraikan dalam QS Al-Mumtahanah ayat 4-8.
Allah SWT berfirman:
_"Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah tampak antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sampai kamu beriman kepada Allah saja'._" (QS Al-Mumtahanah: 4)
Perjalanan Spiritual Ibrahim Menemukan Tuhan
Kisah Nabi Ibrahim dibuka melalui interaksinya dengan aba-nya (Azar) setelah beliau mendapatkan petunjuk dari proses spiritual dan dianugerahi kasyaf (penglihatan hakiki). Dalam QS Al-An'am ayat 75-79, Allah mengisahkan perjalanan spiritual Ibrahim:
"_Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami) di langit dan bumi, agar dia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: 'Inikah Tuhanku?' Tetapi ketika bintang itu terbenam, dia berkata: 'Aku tidak suka kepada yang terbenam.' Kemudian ketika dia melihat bulan terbit, dia berkata: 'Inikah Tuhanku?' Tetapi ketika bulan itu terbenam, dia berkata: 'Sungguh, jika Tuhanku tidak memberiku petunjuk, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.' Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata: 'Inikah Tuhanku? Ini lebih besar.' Tetapi ketika matahari itu terbenam, dia berkata: 'Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu sekutukan. Sungguh, aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah._"
Penglihatan (kasyaf) yang dilalui Ibrahim menyimpulkan bahwa Pencipta langit dan bumi—Allah SWT—adalah Dzat yang tidak bisa dibantah lagi sebagai sesuatu yang layak disembah.
Benturan dengan Tradisi Keluarga
Kata aba dalam kalangan mufasir memiliki keragaman makna, bisa berarti ayah kandung atau kepala suku yang dihormati. Namun yang jelas, Azar melakukan aktivitas yang menyesatkan kaumnya, yakni menghadirkan loyalitas kepada sesuatu yang kasat mata (patung berhala) yang justru membuatnya dan kaumnya tersesat. Ketersesatan ini diungkapkan dalam QS Maryam ayat 42-45:
"_(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya: 'Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun? Wahai ayahku! Sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Wahai ayahku! Sungguh, aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan_.'"
Ungkapan ini menyimpulkan bahwa patung atau yang semacamnya seakan mampu mendengar dan memberi pertolongan bagi manusia—padahal itu semua hanyalah tipu daya setan.
Benturan dengan Peradaban Babilonia
Benturan Nabi Ibrahim dengan aba-nya yang tinggal di Babilonia tidak bisa dielakkan. Setan (jin dan manusia di zamannya) sangat mampu menggiring opini di negerinya yang telah mencapai kemajuan materi luar biasa. Babilonia adalah negara terkuat di dunia pada saat itu. Fakta inilah yang menjadi tantangan besar: Babilonia bisa maju secara material walau tanpa mengenal Allah, Sang Pencipta langit dan bumi.
Benturan ini mencapai puncaknya ketika Ibrahim AS melakukan aksi penghancuran terhadap berhala-berhala yang menjadi situs penyembahan pagan. Allah SWT berfirman:
"_Kemudian dia (Ibrahim) menghancurkan berhala-berhala itu (dengan memecahkannya) menjadi potongan-potongan kecil, kecuali yang terbesar (yang paling besar) dari berhala-berhala itu, agar mereka (kembali) bertanya kepadanya (tentang peristiwa yang terjadi)_." (QS Al-Anbiya: 58)
Akibat perbuatan mulia ini, Ibrahim dipanggil oleh Raja Babilonia, Nimrod, dan kemudian dipidana dengan hukuman dibakar dalam api yang sangat besar. Allah SWT mengisahkan:
"_Mereka berkata: 'Bakarlah dia (Ibrahim) dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.' Kami (Allah) berfirman: 'Wahai api! Jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim_.'" (QS Al-Anbiya: 68-69)
Sang Pencipta menyelamatkan Ibrahim, kemudian memerintahkan beliau untuk hijrah ke negeri yang diberkahi (Yerusalem dan sekitarnya) sebagaimana QS Al-Anbiya ayat 71:
"_Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan (keponakannya) Luth ke negeri yang Kami berkahi untuk seluruh alam._"
*Pelajaran untuk Kehidupan Modern
Pelajaran penting dari awal perjuangan Nabi Ibrahim bagi kehidupan modern hari ini adalah perlunya sensitivitas loyalitas kehidupan yang benar kepada Sang Pencipta. Di tengah dunia yang semakin materialistik dan dikuasai oleh manusia-manusia canggih yang umumnya tidak percaya Tuhan, namun mampu menghadirkan teknologi yang memanjakan manusia, kita harus sadar bahwa kenyamanan hidup hari ini—melalui internet, dunia digital, pasokan sandang-pangan-pangan berbasis teknologi canggih—dikreasikan oleh manusia-manusia yang umumnya jauh dari keyakinan kepada Pencipta (atheis) , atau minimalnya kelompok agnostik yang tumbuh secara massive di dunia peradaban Barat.
Kebutuhan akan kehidupan dunia yang nyaman tidak boleh melupakan bahwa di balik semua ini, Allah-lah yang melimpahkan anugerah-Nya, bukan manusia-manusia pintar yang hakikatnya mau memperbudak manusia lainnya melalui cara hidup kapitalistik-materialistik. Sebagaimana Ibrahim AS mampu melepaskan diri dari kemajuan material Babilonia yang membanggakan, demikian pula kita harus mampu bersikap kritis dan tetap menjaga loyalitas hanya kepada Allah di tengah gemerlap kemajuan teknologi modern.
Penutup
Kisah Nabi Ibrahim AS mengajarkan bahwa ketundukan mutlak kepada Allah tidaklah murah. Ia harus dibayar dengan benturan—terhadap keluarga, terhadap tradisi, bahkan terhadap penguasa dan peradaban yang berlaku. Namun, loyalitas sejati kepada Sang Pencipta akan berbuah keselamatan dunia-akhirat. Di era digital dan materialistik ini, umat Islam dituntut untuk mengambil keteladanan Ibrahim: tidak silau oleh kemajuan teknologi yang diciptakan manusia, tidak terperangkap dalam kapitalisme yang memperbudak, dan senantiasa menghadapkan wajah hanya kepada Allah, Pencipta langit dan bumi.
Wallahu A'lam
4 Dzulhijjah 1447