H,J Faisal : Masa- Masa Sejati dan Masa - Masa Semu

H,J Faisal : Masa- Masa Sejati dan Masa - Masa Semu

Bukankah pada saat ini, justru kita semakin memiliki perasaan yang kuat, bahwa kita lah yang seharusnya menjadi pusat perhatian, menjadi pusat dari egoisme diri kita sendiri,

Oleh: H. J. FAISAL

Seandainya kita sebagai manusia dapat ‘mengunci’ dan ‘mematikan’ waktu agar tidak berlalu, pastinya kita semua ingin kembali ke masa-masa dan keadaan dimana kita pernah merasakan kebahagiaan yang teramat sangat. 

Ya, kebahagiaan yang pernah kita rasakan secara lengkap bersama orang-orang yang memang sangat kita sayangi. Kebahagiaan yang datang secara natural, bukan kebahagiaan palsu, dan bukan juga kebahagiaan yang semu.  

Seandainya kita sebagai manusia dapat ‘mengunci’ dan ‘mematikan’ waktu agar tidak berlalu, pastinya kita semua ingin kembali ke masa-masa dan keadaan dimana kita pernah memberikan dan merasakan kasih sayang dan cinta yang teramat sangat. 

Ya, kasihsayang dan cinta yang pernah membuat kita benar-benar dapat merasakan indahnya hidup dan kehidupan. Keindahan hidup yang datang secara natural, bukan keindahan palsu, dan bukan juga keindahan hidup yang semu. 

Seandainya kita sebagai manusia dapat ‘mengunci’ dan ‘mematikan’ waktu agar tidak berlalu, pastinya kita semua ingin kembali ke masa-masa dan keadaan dimana kita pernah merasakan tawa dan canda yang teramat lepas dan sumringah. 

Ya, tawa dan canda bersama orang-orang yang pernah singgah, dan kemudian bercokol di dalam hati kita secara akrab. Tawa dan canda yang datang secara natural, bukan tawa dan canda yang palsu, dan bukan juga tawa dan canda yang semu. 

Ya, masa-masa terbaik yang ingin kita ‘kunci’ dan kita ‘hentikan’ di dalam kepala dan hati kita itu, adalah masa-masa dimana kita sebagai manusia masih sanggup untuk memberikan pengorbanan kita terhadap rasa sayang dan cinta kita kepada mereka yang kita sayangi dan kita cintai secara natural, nyata, dan tidak semu. Masa-masa dimana kita belum merasakan dahsyatnya tabir teknologi seperti saat ini. Masa-masa dimana sebuah pertemuan yang sejati, sungguh dapat menyenangkan hati.      

Kini, ketika sesuatu yang bernama teknologi untuk berpamer ria telah masuk ke dalam nadi kehidupan kita, apakah kita masih sanggup untuk memberikan pengorbanan yang tulus, pengorbanan yang natural, dan bukan pengorbanan yang palsu dan semu, demi rasa sayang dan rasa cinta kepada mereka yang kita cintai?   

Bukankah pada saat ini, justru kita semakin memiliki perasaan yang kuat, bahwa kita lah yang seharusnya menjadi pusat perhatian, menjadi pusat dari egoisme diri kita sendiri, sehingga cinta dan sayang pun hanya dianggap sebagai sesuatu yang harus memenuhi dahaga kita terhadap perhatian dan egoisme diri kita sendiri tersebut?  

Bukankah pada saat ini, kita semakin merasa bahwa kita semakin sering mengumbar keluhan-keluhan kita terhadap pengorbanan yang telah kita lakukan atas nama cinta dan sayang? Bukankah keluhan-keluhan kita justru lebih banyak daripada segala macam pengorbanan yang telah kita lakukan tersebut?

Bukankah pada saat ini, kita semakin merasa bahwa justru kitalah yang paling membutuhkan perhatian dari orang-orang yang kita sayangi dan kita cintai, yang bahkan kalau perlu perhatian dari mereka yang tidak pernah kita kenal samasekali? 

Bahkan hanya demi mendapatkan komentar dan perhatian serta dukungan semangat yang semu di media sosial kita, sehingga terkadang rahasia-rahasia diri yang semestinya kita simpan dengan baik, demi melindungi aib diri agar tidak terumbar begitu saja, dengan mudah dapat diketahui oleh mereka yang bahkan tidak pernah bersentuhan dengan kehidupan kita samasekali. Serapuh itukah harga diri kita?

Jika demikian, maka tidaklah mengherankan jika begitu banyak cinta dan sayang milik kita sebagai manusia yang rapuh, telah menghasilkan cinta dan sayang yang rapuh dan semu pula, di tengah gemerlap canggihnya kemajuan berpikir manusia itu sendiri saat ini.

Maka tidaklah mengherankan pula, jika kita sebagai manusia saat ini, justru ingin lebih banyak diperhatikan tanpa mau memperhatikan lebih banyak. Banyak dari kita sebagai manusia saat ini yang justru ingin lebih banyak dicintai tanpa mau mencintai lebih. Dan banyak dari kita sebagai manusia saat ini, yang justru ingin selalu didengarkan oleh orang lain, tanpa mau untuk selalu mendengarkan mereka.

Masa-masa yang sedang kita jalani saat ini, pastinya akan menjadi masa lalu di masa depan kita kelak. Tetapi yang menjadi pertanyaan bagi diri kita sendiri adalah, apakah masa-masa yang sedang kita jalani saat ini, masa dimana segalanya dapat dengan mudah ‘terwujud’ dan ‘terjadi’ tanpa harus bersua satu sama lain, masa dimana manusia dapat  saling ‘memberi’ perhatian tetapi tidak perlu saling ‘memberi’ tatapan, masa dimana semua rasa yang palsu dan semu dapat ‘dirubah’ menjadi rasa yang ‘sejati’, dan masa dimana harga diri dan privasi kita sebagi manusia yang memiliki harga diri, dapat diumbar dengan mudah dan murahnya, masih ingin kita ‘kunci’ dan kita ‘simpan’ di dalam kepala dan hati kita?  

Sekali lagi, serapuh itukah dan sesemu itukah kehidupan kita sebagai manusia saat ini?


Wallahu’allam bisshowab

Jakarta, 12 Januari 2024

*Director of Logos Institute for Education and Sociology Studies (LIESS) / Pemerhati Pendidikan dan Sosial/ Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor/ Anggota PJMI

Sebelumnya :
Selanjutnya :