#19 Sini Duduk Samping Aku : MINDSET dan Perilaku SERIGALA

#19 Sini Duduk Samping Aku : MINDSET dan Perilaku SERIGALA

Sejarah mencatat bahwa suku pertama penjinak serigala adalah bangsa mongol.

Bayangkan hutan yang sunyi, Angin malam berdesir membawa alunan suara dari gerak gerak ranting pohon, Udara semakin dingin karena bergerak cepat seakan enggan melambat. Lalu ada dua titik kuning yang ternyata sepasang bola mata yang menusuk kegelapan, Ia menatap tajam bersinar menyala sebagai tanda dia tidak tercipta untuk menjadi penakut. Ya ia sang serigala, Namun siapakah ia sebenarnya ? 

Ia dianggap sebagai penjahat dalam dongeng pengantar tidur, atau ia cerminan sisi liar kita yang sebenarnya, bergerak dan berkeputusan hanya untuk sekedar bertahan hidup. Selama ribuan tahun serigala menjadi tokoh yang sangat jahat dalam banyak ragam cerita dan dongeng, pelakunya adalah Aeosop, penulis dongeng di zaman keemasan yunani kuno.

Kemasan dongeng yang tercipta selalu menyebut, Jangan khianat, Jangan berbohong, Jangan berpura pura  (manipulasi).  Sampai pada abad ke 16, Niccolo Machiavelli berani menentang semua cerita dan dongeng Aeosop. Machiavelli membalikkan semua narasi tentang serigala yang sudah terpatri dibanyak pemikiran masyarakat disaat itu, dimana dia meyakini bahwa serigala adalah guru. Serigala mengajarkan keberlangsungan hidup, yaitu "bertahan hidup, apapun caranya". 

Lalu mana yang benar ? Apakah serigala itu monster atau strategi jenius ? Apakah dongeng dan cerita cerita zaman dulu itu salah ? Atau sebenarnya kode rahasia tentang kekuasaan ?

Saya akan membahas perihal ini dengan seksama, dan bukan saya jadikan alat penerus dongeng milik Aeosop.

Kita akan melihat dunia dengan sorot mata yang tajam, persis sama dengan apa yang dipunyai serigala. Cerita dongeng Aeosop dan gaya politik Machiavelli akan saya jadikan persimpangan jalan bagaimana kita sebaiknya memutuskan banyak hal dalam upaya kita mengadakan kualitas hidup yang baik untuk kita dan banyak orang disekitar kita.

Apakah menjadi baik adalah sebuah kemewahan ? Atau kelemahan ? Inilah serigala dan moralitas. 

Sejak zaman kuno jauh sebelum zaman keemasan yunani kuno, serigala selalu bersembunyi didalam kegelapan, seakan sang predator yang hanya berlindung dibalik pekat malam. Berbeda dengan sanga juara savana luas, Singa. Singa bahkan dinobatkan sebagai raja rimba. Aneh bukan ? Mana pernah singa berada di rimba, dia penguasa bentangan savana, area dataran luas dan terbuka. Ada juga sanga jawara hutan belantara, dia Harimau.  Yang punya kekuatan 2 kali lebih kuat dari singa, akan tetapi harimau tidak diakui sebagai raja rimba, aneh !!!! Itulah dongeng dan cerita dari barat, bahkan sampai detik ini, apapun yang terinformasi dan divalidasi barat, selalu mudah ditelan oleh banyak orang saat ini.

Uniknya, dua sang penguasa ini tidak akan bertemu satu dengan lainnya, karena habitat dan kebutuhan mereka berbeda. Namun hebatnya serigala pasti akan punya time dan momen untuk bertemu dengan sang dua penguasa. Sekalipun tidak akan bisa mengalahkannya, namun dua penguasa tersebut tidak bisa merobohkan mental dan karakter serigala dengan mudah. KARENA SERIGALA PAHAM DAN TAHU, CARA BERTAHAN HIDUP APAPUN CARANYA.

Ditengah dunia yang semakin sibuk, teknologi dan modernisasi sulit untuk dihindari. Teknologi seakan akan mengklaim dialah penguasa dunia saat ini layaknya Singa di bentangan savana. Banyak negara berkembang dan negara maju, berlomba lomba mencipta teknologi teknologi mutakhir. Yang membuat banyak manusia juga ikut sprint dalam mengadakan benda benda berteknologi terbaru, terlengkap, dan terbaik  dikehidupannya. Kehadiran benda berteknologi sudah banyak menggantikan peran kehadiran manusia seutuhnya. Semua industri sudah berbasis teknologi. Industrial tanpa berbasis teknologi sudah ditinggalkan oleh mereka mereka pemodal, orang orang yang jumlahnya hanya 3% dari jumlah populasi manusia di bumi.  Dan anehnya, kita semua tanpa ragu ikut dalam rencana dan design mereka dikehidupan ini. 

Belum lagi modernisasi, layaknya harimau di hutan rimba, yang asik mengandalkan kekuatannya sendiri, menjadi rantai makanan terkuat, teratas tanpa penakluk. Seolah olah perilaku yang dia lakukan adalah kearifan budaya yang mewakili kekuasaan, kekuatan, kebesaran tanpa ada yang bisa mengalahkannya. Persis perilaku manusia yang seakan akan punya agama, punya budaya, dan punya kesusilaan yang asik dengan persona diri, sehingga yang lainnya tidak begitu penting.

Mudah mengatakan salah kepada yang berbeda pandangan dan pendekatan beragama, juga mudah mencela budaya budaya dan kearifan lokal daerah lain, dimana bahwasanya aliran agama dan cara kita berbudaya sajalah yang benar.

Di zaman romawi barulah serigala dianggap hewan suci, ibu para dewa, penyelamat romulus dan remus.  Tapi di eropa abad pertengahan, serigala digolongkan sebagai hantu yang mengintai dihutan, lambang setan dan menjadi musuh gereja.

Lalu pertanyaannya, bagaimana satu makhluk bisa punya dua wajah, dewa dan setan !?? 

Atas nama gerejalah serigala menjadi simbol kejahatan, pengkhianatan dan keserakahan.  Karena hembusan cerita ini dari eropa atau istilah dunia barat, maka amat sangat mudah untuk diterima begitu saja oleh kita, tanpa perlu latar belakang nyata tentang dongeng atau cerita sebenarnya.

Coba perhatikan baik dongeng dongeng kita dulu, little red riding hood dimana dalam dongeng ini serigala menyamar sebagai nenek nenek , The three little pig dimana serigala berpura pura baik untuk menerkam babi, belum lagi fabel fabel dari Aeosop dimana serigala dikalahkan domba, dipecundangi anjing, dikalahkan sapi yang menceritakan bagaimana kelicikan dan kecurangan akan senantiasa kalah, dan tokoh utamanya adalah serigala.

Paradoksnya, ada pertanyaan yang sampai saat ini tidak bisa terjawab, mengapa harus serigala yang dijadikan contoh ? Bukan beruang, hyena, dan predator lainnya ? Kenapa harus serigala ?

Apakah serigala ini adalah cerminan diri kita sendiri, dimana kebencian yang kita samarkan, keserakahan yang kita sanggah, kesombongan yang tidak kita akui dan banyak lagi perilaku perilaku degil yang kita tutupi ? Seakan serigala adalah bayangan manusia di )diri kita yang hendak kita usir.

Niccolo Machiavelli berani membuat narasi pembeda ditengah hiruk pikuk pergolakkan perebutan kekuasaan saat itu, dimana perang perebutan kekuasaan, intrik dan invasi militer sangat masif dilancarkan . Ia menulis, " Manusia lebih cepat melupakan kematian ayahnya, daripada kehilangan warisannya".

Bagi Machiavelli dunia bukanlah tempat bagi dongeng Aeosop, Disini yang lemah dimangsa dan yang naif di khianati. Serigala bukanlah penjahat, ia adalah realitas yang bertahan karena tidak mau menjadi domba. Jadi mana yang lebih jujur,  Dongeng Aeosop dimana ketidakjujuran ditutupi moralitas manis atau kenyataan yang Machiavelli sampaikan? 

Serigala adalah metavora yang berdarah darah demi bertahan dan memberi yang terbaik bagi siapa saja yang ada menjadi bagian kehidupannya. Serigala adalah hewan yang punya dan menjunjung tinggi hirarki, dimana yang muda akan senantiasa patuh kepada kehendak yang tua tanpa tedeng aling aling. Serigala menjadi satu satunya hewan yang sampai saat ini tidak akan mengawini ibu dan saudara kandung perempuannya. Serigala konsiten dalam setiap perilakunya, sekalipun Ia adalah hewan buas, serigala paham sekali berterima kasih dan membalas kebaikan kepada siapa saja yang sudah berbuat baik kepadanya terlebih kepada keluarganya. Serigala hewan buas yang tidak akan memangsa sejenisnya sekalipun bukan dari klan atau kelompoknya. Serigala hewan buas yang paling bertanggung jawab atas fungsi dan kehadirannya di klan atau daerah yang dikuasainya.

Lalu dalam cerita dan dongeng serigala digambarkan sebagai hewan culas !? 

ITU CERITA DARI DUNIA BARAT.

Ini gambaran hebat tentang serigala agar kita semua, bisa memahami mindset dan perlaku serigala, KITA TIDAK AKAN PERNAH MENJUMPAI ATRAKSI SERIGALA PADA SIRKUS.

Arrinya apa, Serigala akan selalu menolak untuk dipermainkan, dan pesan lanjutannya adalah, tidak mudah menjinakkan serigala, jika serigala menjinak terhadap kita, bukan saja kepercayaannya yang ia berikan, melainkan segenap hidupnya akan didharma baktikan.

Lalu bagaimana kita muslim bisa ikut juga membenci serigala, bahkan sampai pada jenis jenis serigala baru saat ini yang kita kenal dengan hewan anjing !??

Sejarah mencatat bahwa suku pertama penjinak serigala adalah bangsa mongol. Dimana ada zaman, dimana suku yang pada akhirnya menjadi bangsa kuat yang dibangun seorang tokoh sentral dalam peradaban bangsa mongol yaitu, Temujin atau kita mengenalnya sebagai Jengis Khan. Orang mongol saat itu belum menjadi sebuah bangsa, mereka  menjadikan serigala menjadi bagian dari keluarga mereka, bukan saja menjadi hewan penjaga, serigala juga dijadikan alat transportasi pekerjaan sehari hari.  Sebagai alarm saat akan terjadi badai atau angin ribut, dan juga sebagai tanda waktu pergantian hari dimulai dimana ditandai dengan lolongannya.  Singkat cerita, serigala menjadi simbol persatuan dan kesejahteraan orang orang mongol saat itu.

Perlu waktu 2000 tahun untuk serigala bertransformasi menjadi jenis dan ras anjing seperti saat ini, dan kebiasaan masyarakat mongol saat itu diadopsi oleh banyak kerajaan kerajaan eropa di era 1500 M, banyak raja raja di eropa memelihara anjing sebagai hewan peliharaannya di istana. Kerajaan inggris dengan anjing jenis great dane, italia dengan cane corso, perancis dengan bully mastive, bangsa latin dengan anjing jenis dogo, Turki dengan Alabai nya, German dengan german shepardnya, dan lainnya.

Setelah expansi militer islam dalam menaklukkan kerajaan kerajaan di asia tengah, timur, afrika, sampai ke eropa, kebiasan memelihara anjing yang notabene adalah genus asli dari serigala dianggap sebagai budaya dan kebiasaannya bangsa bangsa kafir. Sehingga kebiasaan ini tidak mencerminkan budaya islam itu sendiri.
Sekalipun ada riwayat dimana cucu nabi besar Muhammad SAW, hasan dan husein, dibawah tempat tidurnya terdapat hewan anjing, akan tetapi dogma dan stigma tentang anjing begitu kuat ditambah penegasan dalam Al quran, bahwasanya liur dari anjing berkodrat najis.

Bukan wilayah saya dalam kapasitas saya untuk membahas detail haram atau pantas dan ketidak pantasan kita memelihara anjing, saya akan lebih berfokus kepada Mindset dan perilaku seutuhnya dari serigala, yang sebenarnya punya makna dan nilai khas yang bisa kita pelajari untuk mendapatkan hidup yang berkualitas.

Serigala mewakili aturan aturan kehidupan normatif yang sudah saya sampaikan diatas, ia tidak mendominasi secara serampangan, Serigala punya komitmen dan ketegasan dalam kebuasannya yang berbanding lurus atas sikap melayani dan piawai bersyukur atau berterima kasih. Jika Machiavelli mewakili tokoh eropa bermental serigala, apakah islam punya tokoh besar seperti itu ?

Ada, bahkan jauh lebih berkelas dari Niccolo Machiavelli, kita akan belajar dari mindset dan perilaku beliau hari senin depan, sekiranya dengan kita belajar punya mindset dan perilaku dari beliau kita jauh lebih bijaksana dalam upaya mendobrak bukan hanya bertahan dalam menjalani kehidupan kita pribadi lepas pribadi.

Sini duduk samping aku.

Radja M Noor


PROFIL HUMA QITA :

Huma Qita didirikan oleh penulis yang merupakan produk layanan masyarakat yang memerlukan bantuan program rehabilitasi putus narkoba, yang berfokus kepada pengembangan diri bermuara kepada hidup yang berkualitas.

Lebih lengkapnya tentang Huma Qita silahkan lihat di link berikut ini :

 https://ummattv.com/post/huma-qita-lahirkan-program-sini-duduk-samping-aku

Sebelumnya :