ilmu yang paling berharga bukan hanya ilmu yang membuat seseorang dikenal, tetapi ilmu yang membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.
Oleh : Dr.H.Syukran Makmun, S.Sos.I.,M.Pd.I.
BOGOR— Ada manusia yang kepergiannya meninggalkan kesunyian. Namun, ada pula yang meski telah pergi, jejaknya justru semakin terasa. Ia tidak lagi hadir secara fisik, tetapi ilmu yang pernah disampaikan, kebaikan yang pernah ditanamkan, dan semangat yang pernah ditunjukkannya terus hidup dalam ingatan orang-orang yang mengenalnya.
Demikianlah cara yang paling indah untuk mengenang seorang insan berilmu. Sebab, kehidupan seseorang tidak semata-mata diukur dari berapa lama ia hidup, tetapi dari apa yang ditinggalkannya setelah kehidupan itu berakhir.
Sosok almarhum dikenang sebagai pribadi yang tegas dan lugas. Karakter yang kuat itu menjadi bagian dari dirinya. Namun di balik ketegasan tersebut, tersimpan kerendahan hati yang sangat dalam dalam urusan ilmu, khususnya ilmu agama.
Ia telah menempuh pendidikan tinggi bahkan hingga ke luar negeri. Secara akademik, pencapaiannya tentu tidak sederhana. Namun, keluasan pendidikan itu tidak membuatnya merasa telah selesai. Justru sebaliknya, ia tetap menempatkan dirinya sebagai seorang penuntut ilmu.
Di situlah letak keistimewaannya.
Gelar tidak membuatnya berhenti bertanya. Pengalaman tidak membuatnya merasa paling tahu. Ketika menemukan persoalan yang belum dipahami, ia mencari penjelasan. Ia berdiskusi, melakukan konfirmasi, dan terus membuka ruang untuk belajar.
Sikap tersebut menjadi pelajaran yang sangat berharga. Sebab, ilmu sejatinya bukanlah tangga untuk meninggikan diri, melainkan jalan untuk semakin mengenal keterbatasan diri dan semakin dekat kepada kebenaran.
Belajar di Antara Perjalanan
Ada kenangan yang begitu kuat tentang kebersamaan dalam perjalanan ke Malaysia.
Perjalanan yang berlangsung selama beberapa bulan itu tidak sekadar menjadi perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Ia berubah menjadi ruang belajar yang panjang.
Selepas salat Subuh, pembicaraan tentang ilmu dapat terus berlangsung. Dari sajadah menuju tempat makan, kemudian berlanjut dalam perjalanan menuju kendaraan. Hampir tidak ada ruang yang benar-benar kosong dari percakapan tentang ilmu.
Di sana terlihat bahwa belajar bukan sekadar agenda. Belajar telah menjadi bagian dari kehidupan.
Rasa ingin tahunya begitu besar. Berbagai persoalan tidak dilewati begitu saja. Setiap hal yang ditemukan dapat menjadi bahan untuk didalami. Ia terbiasa mencari kepastian, memperluas wawasan, dan memastikan pemahaman sebelum mengambil kesimpulan.
Semangat semacam ini semakin terasa istimewa karena datang dari seseorang yang secara akademik telah memiliki bekal yang kuat.
Ia mengajarkan satu hal sederhana tetapi mendalam: semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hati ia untuk terus belajar.
Ilmu yang Tidak Berhenti pada Diri Sendiri
Ilmu yang dicintai bukanlah ilmu yang disimpan untuk diri sendiri.
Dalam berbagai kesempatan, almarhum menunjukkan perhatian terhadap kajian-kajian keislaman dan pembahasan berbagai persoalan yang berkaitan dengan umat. Bahkan dalam proses penyusunan buku, perhatian terhadap kedalaman kajian menjadi bagian penting yang terus didorong.
Baginya, ilmu membutuhkan ketekunan. Ia perlu dibaca, didiskusikan, dikaji, dan diuji kembali agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Inilah yang membuat kenangan terhadapnya tidak berhenti pada sosok seorang akademisi. Ia dikenang sebagai seorang pembelajar yang ingin terus memberikan sesuatu kepada orang lain.
Ada keinginan untuk mengajar. Ada semangat untuk berdakwah. Ada cita-cita untuk terus menjadi bagian dari perjuangan yang memberikan manfaat.
Pada titik inilah ilmu menemukan maknanya.
Sebab, ilmu yang paling berharga bukan hanya ilmu yang membuat seseorang dikenal, tetapi ilmu yang membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.
Al-Qur'an di Tengah Masa Sakit
Di antara sekian banyak kenangan, ada satu yang terasa sangat dalam: lantunan ayat-ayat Al-Qur'an di masa sakit.
Dalam keadaan yang tidak lagi sekuat sebelumnya, suara bacaan Al-Qur'an yang merdu tetap menjadi bagian dari perjalanan itu.
Bagi orang-orang yang mendengarnya, lantunan tersebut bukan sekadar bacaan. Ia menjadi kenangan yang menetap. Suara itu mungkin telah berhenti terdengar secara langsung, tetapi ayat-ayat yang pernah dilantunkan tetap tinggal di hati.
Ada sesuatu yang menggetarkan dari kenyataan itu.
Seseorang yang sepanjang hidupnya dekat dengan ilmu, agama, dan Al-Qur'an, pada akhirnya meninggalkan dunia dengan kenangan yang juga berkaitan dengan kalam Allah.
Barangkali inilah salah satu bentuk keindahan hidup seorang pencinta ilmu: apa yang dicintainya selama hidup menjadi bagian dari jejak yang dikenang setelah kepergiannya.
Bukan Gelar yang Ditinggalkan
Pada akhirnya, gelar akademik akan berhenti disebut. Jabatan akan berganti. Pencapaian duniawi perlahan menjadi bagian dari masa lalu.
Yang tersisa adalah amal.
Yang terus hidup adalah ilmu yang pernah diajarkan.
Yang terus mengalir adalah kebaikan yang pernah ditanamkan.
Karena itu, kemuliaan seseorang tidak semata-mata terletak pada seberapa tinggi gelarnya, tetapi pada seberapa besar manfaat yang dapat ia tinggalkan.
Seorang profesor bisa dikenang karena gelarnya. Seorang akademisi bisa dikenang karena karya-karyanya. Tetapi seorang insan berilmu akan dikenang lebih lama ketika ilmunya hidup dalam diri orang-orang yang pernah belajar darinya.
Di situlah makna sebuah warisan.
Tubuh Boleh Wafat
Kematian pada akhirnya akan datang kepada setiap manusia.
Tubuh akan berhenti. Jasad akan kembali ke tanah. Perjalanan dunia akan berakhir.
Namun, manusia tidak harus benar-benar hilang.
Ia dapat terus hidup melalui ilmu yang diwariskan. Melalui amal yang dilakukan. Melalui kebaikan yang pernah diberikan. Melalui orang-orang yang menjadi lebih baik karena pernah mengenalnya.
Maka, ketika seorang pencinta ilmu berpulang, sesungguhnya ada 3 amanah yang tertinggal bagi mereka yang masih hidup.
1. Amanah untuk melanjutkan ilmu.
2. Amanah untuk menjaga amal.
3. Amanah untuk meneruskan kebaikan.
Sebab, tubuh boleh wafat dan jasad boleh dikuburkan. Tetapi ilmu dan amal tidak semestinya ikut terkubur bersamanya.
Semoga segala ilmu yang pernah dipelajari dan diajarkan, setiap amal saleh yang pernah dikerjakan, serta setiap kebaikan yang pernah ditanamkan menjadi bekal yang terus mengalir pahalanya.
Dan bagi kita yang masih diberi kesempatan hidup, semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa hidup bukan tentang seberapa lama kita tinggal di dunia, melainkan seberapa banyak ilmu, amal, dan kebaikan yang kita tinggalkan ketika akhirnya harus pergi.
Selamat jalan, seorang pembelajar.
Tubuh boleh wafat. Tetapi ilmu dan amal tidak boleh ikut wafat.