Tauhid Yang Digugat di Akhir Zaman* (Kontempelasi Ibadah Haji Bagi Kebangkitan Ummat)

Kaum perusak itu masih dengan leluasa menggunakan PBB sebagai alat untuk

Oleh: Salas Aly Temur


Bulan Haji, Bulan Meluruskan Dunia


Setiap tahun, ketika bulan Dzulhijjah tiba, umat Islam di seluruh dunia mengenang sebuah warisan besar: ibadah haji. Warisan ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan mata rantai panjang yang diwariskan dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Di balik setiap gerakan haji, tersimpan pesan tegas tentang kehadiran Allah untuk meluruskan dunia yang pernah rusak, dirusak oleh tangan-tangan manusia yang berdosa dan kafir terhadap kebenaran Ilahi.


Haji bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah deklarasi bahwa Allah tidak pernah membiarkan bumi ini terus rusak. Selalu ada titik balik. Selalu ada jalan pulang. Tanah Suci Mekkah telah menjadi saksi sejarah restorasi (perbaikan) peradaban di bumi. 




*Haji: Sekolah Tauhid, Pasrah, dan Konsolidasi Umat*


Ibadah haji memberi pesan besar tentang dimensi global umat Islam. Di dalamnya ada banyak pelajaran: tentang tauhid, tentang kepasrahan, dan yang tidak kalah penting—tentang konsolidasi umat Islam dari seluruh dunia.


Haji menegaskan bahwa di padang gurun yang gersang sekalipun, seorang ibu bersama anak balitanya bisa bertahan, tumbuh, dan akhirnya mengusung risalah Ilahi. Itulah kisah Bunda Hajar dan putranya, Nabi Ismail. Keduanya taat mengikuti arahan Abul Anbiya—bapaknya para nabi, Ibrahim AS. Ketaatan itu bukan ketaatan buta, melainkan ketaatan yang disertai penyerahan total kepada Allah semata dalam menghadapi tribulasi kehidupan dan kesulitan hidup.

Diksi inti dari haji adalah Talbiyyah, dzikir utama yang terus bergema di tanah suci:

_"Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wa ni'mata laka wal mulk, laa syarika lak."_

(Artinya: "Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku datang. Tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.")

Talbiyyah adalah seruan tauhid murni. Ia diiringi dengan semakin memancarnya syiar-syiar Islam dari negeri Mekkah ke seluruh penjuru dunia. Allah sendiri berfirman:

_"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh._" (QS. Al-Hajj: 27)

Mekkah adalah pusat gravitasi. Dari sanalah cahaya tauhid seharusnya terus menyebar dan Kerajaan Ilahi menggerakkan perbaikan dunia.

Hari Ini, Eksistensi Allah "Terpinggirkan"

Namun, jika kita merenungkan perjalanan zaman, ada realitas pahit yang harus kita akui. Hari ini, Allah sebagai Dzat Yang Paling Akbar, secara formalitas sedang "terpinggirkan". Ketentuan-ketentuan Allah dalam menata kehidupan dunia, khususnya dalam menjaga keamanan dan kesejahteraan, kini tergantung pada manusia-manusia yang secara keyakinan cenderung berbuat fasad di atas bumi. Manusia diatur oleh negara yang secara umum bernaung di bawah lembaga seperti PBB, yang secara formal sering memasung Umat Rasulullah SAW.  PBB sebagai lembaga yang didaulat oleh negara-negara adidaya untuk menjaga bumi memberi delegasi penuh yang tidak adil kepada  Dewan Keamanan. Secara formal lembaga inilah dipandang paling "Akbar" saat ini di dunia. 

Jika menurut mereka suatu negara harus diperangi, maka selama tidak ada veto dari anggota inti—Amerika, Inggris, Prancis, Rusia, China—negara itu akan diperangi. Jika mereka memutuskan bahwa sanksi harus dijatuhkan, maka dunia pun tunduk. Demikian juga segala tindakan yang menyangkut perdamaian, perang, bahkan nasib jutaan jiwa, semuanya bergantung pada keputusan lima kursi tetap di New York.

Kendati saat ini mulai retak, Dewan Keamanan PBB masih sangat dihormati oleh negara-negara di dunia.

Siapa Di Balik PBB?

Dunia sering luput ingatan. PBB tidak lahir dari ruang hampa. Lembaga ini lahir atas prakarsa negara-negara adidaya pemenang Perang Dunia II. Dan negara-negara itu umumnya didukung oleh para konglomerat kapitalis dunia yang umumnya Yahudi Azkhenazi —mereka yang menguasai sektor-sektor strategis melalui bursa saham dan pasar uang global.

Fakta yang lebih mencengangkan: gedung markas besar PBB di New York adalah sumbangan dari seorang Yahudi Ashkenazi bernama John D. Rockefeller Jr. Seorang miliarder yang keluarganya dikenal sebagai simbol kapitalisme Amerika.

Ini bukan soal membenci Yahudi atau anti-Semit. Ini soal membaca sejarah dengan jujur. Pusat pengaturan perdamaian dunia berdiri di atas tanah sumbangan seorang kapitalis Zionis. Maka jangan heran jika keputusan-keputusan PBB seringkali berpihak pada kepentingan Barat dan merugikan umat Islam.

Di saat negara-negara yang bernaung di bawah PBB mulai kritis terhadap arogansi AS dan Israel, para kapitalis penyokong dana di lembaga-lembaga PBB membiarkan tindakan AS dan Israel, bahkan keuangan PBB diganggu dengan menyetop bantuan keuangan yang seharusnya menjadi kewajiban mereka.

Talbiyyah Belum Mampu Menyentuh Dominasi Kaum Perusak

Setiap tahun, umat Islam berhaji. Mereka mengumandangkan talbiyyah untuk mengagungkan Allah dan meninggikan syiar-Nya dari Mekkah dan Madinah. Namun, hingga saat ini, gema Labbaik itu belum mampu menyentuh—apalagi menggoyang—dominasi kaum perusak akhir zaman.

Kaum perusak itu masih dengan leluasa menggunakan PBB sebagai alat untuk menekan umat Islam. 

Lihatlah Palestina. Lihatlah Gaza. Lihatlah Iran, Lihatlah Timur Tengah. Selalu membara. Selalu berdarah-darah. Dan yang dirugikan selalu umat Islam. Namun PBB tidak berkutik. Mengapa? Karena tidak satu pun negara kaum muslimin yang memiliki hak veto. Suara negara-negara muslim hanya sekadar penghias sidang. Mereka bisa berorasi sekeras apapun, tapi tanpa veto, semua hanya angin lalu.

Kaum muslimin masih terus menjadi objek umat lain. Bukan subjek. Mereka menjadi bancakan—makanan empuk—bagi kekuatan global. Persis seperti sabda Nabi:

_"Hampir saja bangsa-bangsa berebut memperebutkan kalian seperti orang-orang yang berebut memperebutkan makanan di dalam piring." Para sahabat bertanya, "Apakah karena jumlah kami sedikit?" Beliau menjawab, "Bahkan jumlah kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di sungai yang meluap. Dan Allah akan mencabut rasa takut dari hati musuh-musuh kalian, serta menanamkan penyakit wahn dalam hati kalian." Sahabat bertanya, "Apa itu wahn, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Cinta dunia dan takut mati._" (HR. Abu Dawud)

Penyakit itulah yang menghinggapi sebagian besar kita. Cinta dunia. Takut mati. Takut kehilangan jabatan. Takut bisnis terganggu. Takut dianggap radikal. Jadilah kita diam, meskipun saudara-saudara kita di Gaza dibantai setiap hari.

Ketika PBB bersuara keras dan menekan Zionisme atau Adidaya AS yang sewenang-wenang,  dengan mudah keberadaannya dinihilkan oleh Rezim Zionisme dan adidaya. Pengangkangan Zionisme dan adidaya AS terhadap kesepakatan-kesepakatan yang ada di PBB, tidak ada yang mampu menggugat dan meluruskannya. 

Akankah Haji Melahirkan Resolusi

Lalu, akankah haji tahun ini—atau di tahun-tahun mendatang—mampu melahirkan resolusi terhadap ketidakadilan dunia? Sepertinya, masih jauh dari harapan.


Umat Islam saat ini bagaikan Bani Israel pasca-Musa. Mereka memiliki kitab suci. Mereka memiliki nabi. Mereka tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tapi mereka terpecah belah. Mereka lemah. Mereka terus kalah dalam setiap pertempuran melawan Jalut (Goliat) yang menguasai tanah suci.


Apa yang mereka butuhkan? Seorang Thalut (Saul). Pemimpin yang menyatukan dan mengarahkan potensi umat. 




*Thalut dan Daud: Resep Kebangkitan*


Dalam Al-Qur'an, Allah mengisahkan bahwa setelah Bani Israel terus-menerus kalah karena perpecahan dan kemunafikan, Allah mengangkat Thalut menjadi pemimpin mereka. Thalut bukan seorang nabi. Dia hanyalah seorang laki-laki biasa, tapi dia memiliki kelebihan: ilmu dan kekuatan fisik.


Thalut berhasil menyatukan langkah Bani Israel. Dia membersihkan para munafikun yang bersarang di dalam tubuh mereka. Dan yang paling penting: Thalut menghadirkan sosok Daud.


Daud adalah seorang pemuda penggembala yang pada awalnya mungkin tidak dianggap istimewa oleh banyak orang. Tapi dengan keberanian dan ketawakalan kepada Allah, Daud berhasil mengalahkan Jalut—raksasa yang ditakuti seluruh pasukan Bani Israel.


Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an:


_"Maka mereka (Bani Israel) mengalahkan musuh dengan izin Allah, dan Daud membunuh Jalut. Kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) kerajaan dan hikmah, serta mengajarkan apa yang Dia kehendaki._" (QS. Al-Baqarah: 251)


Bahkan ayat lain menegaskan:


_"Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas seluruh alam._" (QS. Al-Baqarah: 251)


Pesan dari ayat ini sangat jelas: Allah menolak keganasan sebagian manusia dengan sebagian yang lain. Artinya, Allah mengharapkan umat-Nya untuk bangkit, bukan sekadar pasrah. Thalut adalah jawaban untuk menyatukan. Daud adalah jawaban untuk bertindak.




*Resolusi Imam Mahdi Sebagai Thalut dan Daud dari Momentum Haji*


Maka, apa yang bisa kita harapkan dari haji tahun ini?


Bukan perubahan instan. Bukan pula revolusi dalam semalam. Tapi kesadaran. Kesadaran bahwa kita tidak bisa terus menjadi objek. Kesadaran bahwa talbiyyah yang kita kumandangkan harus memiliki ekor: gerakan nyata di dunia nyata.


Umat Islam saat ini sangat membutuhkan sosok-sosok seperti Thalut: pemimpin yang berani, cerdas, bersih dari kepentingan duniawi, dan mampu menyatukan umat yang terpecah. Dan dari kepemimpinan seperti itu, akan lahir generasi Daud: anak-anak muda yang tidak takut pada kekuatan palsu manapun—entah itu PBB, dewan keamanan, atau konglomerat kapitalis.


Mungkin Thalut itu adalah Imam Mahdi yang begitu jelas perannya di akhir zaman sebagaimana informasi dari baginda Nabi SAW. Mungkin Daud itu adalah anak kita yang sedang kita didik hari ini. Mungkin kita sendiri, dengan segala keterbatasan, dipanggil untuk memulai langkah kecil menumbangkan hegemoni yang kuat. 



*Penutup: Jangan Biarkan Talbiyyah Hanya Jadi Gema*


Hanya Allah yang tahu kapan keadilan benar-benar tegak di muka bumi. Tapi sebagai umat Islam, kita tidak punya hak untuk diam. Haji adalah momentum. Bulan Dzulhijjah adalah pengingat.


Jangan biarkan talbiyyah kita hanya menjadi gema di padang pasir Arafah, lalu lenyap ditelan angin ketika kita kembali ke kesibukan masing-masing.


Kumandangkan Labbaik tidak hanya dengan lisan, tapi juga dengan langkah. Karena Allah Maha Besar, dan kebesaran-Nya seharusnya tercermin dalam cara kita menata dunia—bukan sekadar dalam ritual tahunan yang usai setelah ritual ibadah haji


Wallahu a'lam.

Akhir Dzulqo'dah 1447H

Sebelumnya :
Selanjutnya :