The New Normal

The New Normal

Oleh:

Prof. Veni Hadju


HIDUP kita memang harus berubah. Ada yang mengatakan sebaiknya setiap hari harus ada yang berubah. Mungkin terlalu berlebihan. Namun, di Era Pandemi Covid-19, perubahan perilaku adalah keniscayaan. Bagaimana mungkin kita bisa memutus rantai penularan wabah kalau perilaku kita masih seperti dulu. Inilah yang disebut dengan kenormalan baru atau the new normal.

Para ahli terus berdebat apakah the new normal sudah bisa diterapkan saat ini? Artinya, semua sudah dibebaskan namun dengan penjagaan yang ketat terkait perilaku mencegah penularan. Memang ada dua kubu, satunya harus lockdown penuh (dengan segala resikonya) dan satunya berharap herd immunity dengan pembebasan bersyarat. Namun, tentu pilihan yang arif adalah berada di pertengahan berdasarkan kondisi wilayah. Zona hijau, apakah itu lingkungan kelurahan, desa, atau kompleks perumahan, tentunya dapat memilih the new normal dengan tetap waspada.

Allah yang mengatur dan menguasai seluruh yang ada di dalam bumi ini. Tidak satu lembar daun pun yang jatuh dari sebatang pohon yang tidak diketahui oleh-Nya. Allah juga tahu kemana perginya virus-virus ciptaan-Nya. Corona adalah makhluk yang tunduk kepada Penciptanya. Harusnya ada kesadaran kolektif dari seluruh ummat untuk saling mengingatkan akan kelengahan dan penyimpangan selama ini. Kita semua pasti akan kembali kepada-nya.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya: Wa maa antum bimu'jiziina fil ardhi, wa maa lakum min duunillaahi miwwaliyyiw walaa nashiir (QS Asy-Syuuraa 42:31). Artinya: Dan kalian tidak akan dapat melepaskan diri (dari siksaan Allah) di bumi. Dan tidak ada yang dapat menolong dan melindungi kalian selain Allah.

BERUBAHLAH DI ERA NEW NORMAL INI KARENA KITA PASTI KEMBALI.*

Sebelumnya :
Selanjutnya :