Peradaban materi dan propaganda kekafiran akan terus menggoda. Namun, bagi hati yang hidup dengan zikir, shalat malam, dan khalwat, ketenangan iman
Oleh: Salas Aly Temur
Gejolak di Timur Tengah dan Selat Hormuz yang memasuki bulan haram Dzulqo’dah tak kunjung reda. Dunia tidak hanya cemas terhadap dampak ekonomi dan politiknya, tetapi lebih menyayatkan ketika menyaksikan umat Islam justru terbelah dalam menyikapi perubahan zaman yang signifikan ini. Friksi Sunni-Syiah kembali diangkat, narasi bercampur propaganda perang, dan dalil-dalil agama dikerahkan saking masifnya era digital. Semua pihak mengaku berpegang pada Al-Qur’an dan hadits, namun anehnya, ujung pernyataan mereka seringkali merendahkan dan menjatuhkan kelompok Muslim lainnya. Lalu, apakah ini yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya? Tentu tidak. Karena sesungguhnya akar dari segala kekacauan berdalil di tengah pusaran zaman bukanlah lemahnya hafalan atau sedikitnya rujukan, melainkan mati atau hidupnya mata hati.
Penyakit Hati: Penghalang Kebenaran yang Tersembunyi
Allah SWT telah berwasiat dalam Surah Asy-Syura ayat 13-14 agar kita menegakkan agama dengan benar dan tidak berpecah belah. Dalam ayat yang sama, Allah mengingatkan tentang perilaku buruk Ahlul Kitab: mereka berselisih bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena baghyan—kedengkian dan keinginan menjatuhkan sesama setelah ilmu datang kepada mereka. Di sinilah penyakit hati mulai bersemi. Dalam Surah Muhammad, Allah secara eksplisit menyebut bahwa kedengkian adalah penyakit hati yang bersemi pada jiwa-jiwa orang munafik. Mereka menggunakan dalil bukan untuk menegakkan agama, tetapi justru untuk menghindari kewajiban, termasuk jihad dan infak. Ketika perintah berperang datang, mereka “pingsan” karena takut mati (QS. Muhammad: 20). Ketika perintah berinfak tiba, mereka takut miskin (QS. Muhammad: 37).
Yang lebih mengerikan, Allah akan membongkar isi jiwa-jiwa kaum Muslimin dan menampakkan penyakit yang selama ini mereka sembunyikan (QS. Muhammad: 29). Fakta ini membuka kesadaran kita: penyakit hati—terutama dengki, takut miskin, dan takut mati—telah mengaburkan kebenaran Al-Qur’an dan menghadang implementasinya. Tanpa disadari, dalil yang suci menjadi senjata untuk membenci saudara sendiri.
Perlunya Sensitivitas Membaca Zaman dalam Bingkai Hati
Memasuki abad ke-21, Al-Qur’an dan Al-Hadits menyajikan petunjuk tentang umat akhir zaman dengan cara yang unik: terkadang makro, terkadang sekuensial, dan terkadang sangat rinci. Semua puzzle itu harus disusun menjadi narasi kokoh yang menjadi pelita di tengah dinamika informasi dan propaganda kekafiran. Namun, tanpa filter hati yang jernih, kaum Muslimin akan terombang-ambing. Apalagi propaganda kekafiran saat ini tidak lagi kasar, tetapi halus dan didukung peradaban materi yang tampak tak bertepi, menguasai sistem ekonomi, politik, dan sosial dalam platform akhir zaman. Hati yang kotor tidak akan mampu membedakan mana narasi yang membangun ukhuwah dan mana yang hanya proyek perpecahan.
Solusi Imam Al-Ghazali: Menghidupkan Mata Hati
Dalam situasi yang tak kalah kelam—ketika Perang Salib melanda dan Yerusalem direbut pasukan Salib, umat Islam terpecah belah—Imam Al-Ghazali menulis Ihya’ Ulumuddin. Beliau tidak serta-merta melontarkan fatwa politik, tetapi mengajak umat kembali ke fondasi paling dasar: membangun sensitivitas hati. Bagi Al-Ghazali, “mata hati” adalah instrumen batin yang mampu melihat kebenaran di balik realitas lahiriah. Agar mata hati itu hidup, beliau memberikan resep yang tampak kecil namun dahsyat hasilnya:
1. Memperbanyak zikir , agar hati tidak mati tenggelam dalam kesibukan dunia.
2. Menjaga lisan, karena lisan yang kotor merusak cahaya hati.
3. Menjaga perut, tidak mengonsumsi sesuatu yang haram atau bahkan berlebihan dari yang halal, karena perut yang terlalu kenyang menyebabkan hati keras.
4. Memperbanyak qiyamul lail (shalat malam), momen paling jernih untuk berdialog dengan Allah tanpa gangguan.
5. Berkhalwat di kesunyian, untuk melakukan taqorrub (mendekatkan diri) sekaligus mengintrospeksi diri tanpa tekanan publik.
Jika kebiasaan-kebiasaan kecil ini sudah menjadi habits (kebiasaan) , maka ilmu yang Allah curahkan melalui akal akan membimbing menuju cahaya petunjuk yang terang benderang, cahaya yang disajikan langsung oleh Al-Qur’an dan sabda Nabi saw.
Penutup: Kebeningan Hati sebagai Sumber Sensitivitas Zaman
Tidak mungkin seorang Muslim mampu membaca zaman dengan benar, menyusun puzzle-puzzle ayat tentang akhir zaman menjadi narasi yang utuh, dan tidak terombang-ambing propaganda global, jika hatinya masih dipenuhi dengki, takut, dan kepentingan kelompok. Karena itu, solusi terbaik yang ditawarkan Al-Qur’an dan diuraikan oleh Imam Al-Ghazali adalah: mulailah dengan membersihkan hati dalam menegakkan agama. Kebeningan hati akan menjaga sensitifitas dalam berdalil, menjalankan perintah, serta menyikapi perubahan zaman secara bijak.
Tidak ada jalan pintas. Peradaban materi dan propaganda kekafiran akan terus menggoda. Namun, bagi hati yang hidup dengan zikir, shalat malam, dan khalwat, semua itu hanyalah riak kecil di permukaan samudra ketenangan iman. Maka, marilah kita hidupkan mata hati kita. Karena di situlah satu-satunya tempat cahaya Allah bisa bersemayam, sebelum akhirnya menerangi cara kita membaca zaman dan menyikapi saudara sebangsa dan seiman. Wallahu a’lam.
6 Dzulqo'dah 1447
24 April 2026