Bagi umat beriman, ini bukan ajakan untuk kebencian, melainkan panggilan untuk kewaspadaan.
Oleh : Salas Aly Temur
Gejolak di Timur Tengah, khususnya konflik berkepanjangan yang melibatkan Selat Hormuz sebagai jalur vital energi dunia, bukan sekadar tontonan perang biasa. Dampaknya terasa langsung hingga ke kantong kita: harga BBM fluktuatif, inflasi merangkak naik, dan rantai pasok global tersendat. Dunia modern, yang sangat bergantung pada minyak bumi dan derivatifnya, seolah tak berdaya di hadapan ketidakstabilan kawasan yang menyumbang sebagian besar cadangan fosil dunia.
Namun, di balik hiruk-pikuk geopolitik itu, ada akar sejarah yang jauh lebih tua dan lebih dalam daripada sekadar perebutan sumur minyak atau sengketa perbatasan: eksistensi negara berbasis etnis Yahudi bernama Israel, yang didirikan bukan hanya untuk menjadi rumah bagi suatu bangsa, melainkan cikal bakal visi kekuasaan global yang dikenal sebagai "Israel Raya."
Bendera yang Bercerita: Antara Simbol dan Ambisi
Secara kasat mata, bendera Israel tampak sederhana: latar putih, dua garis biru, dan Bintang Daud di tengah. Namun, bagi mereka yang memahami kode-kode sejarah Zionisme, bendera ini adalah peta geopolitik yang sunyi. Kedua garis biru itu bukanlah ornamen sungai sembarang. Garis pertama melambangkan Sungai Nil di Afrika timur laut, dan garis kedua melambangkan Sungai Eufrat yang mengalir dari Turki, Suriah, hingga Irak. Dengan demikian, "tanah yang dijanjikan" dalam narasi Zionis radikal membentang dari Delta Nil hingga ke Mesopotamia — sebuah wilayah yang mencakup Mesir, Palestina, Yordania, Lebanon, Suriah, Irak, dan sebagian Arab Saudi. Bintang Daud bukan sekadar simbol identitas, tetapi menunjuk Yerusalem sebagai pusat kekuasaan dunia.
Visi ini bukanlah produk Perang Enam Hari tahun 1967 atau Perang Yom Kippur 1973, melainkan telah dikukuhkan sejak tahun 1897 di Basel, Swiss, ketika Kongres Zionisme Internasional pertama kali digelar. Di sanalah Theodor Herzl dan para pendukungnya dari para kapitalis dunia yang bercokol di Eropa Barat dan Amerika Serikat merumuskan bahwa tujuan akhir Zionisme adalah mendirikan "rumah nasional" bagi Yahudi — yang kemudian secara diam-diam dipahami sebagai negara yang tak terkalahkan. Ambisi kapitalis global yang memiliki akses terhadap kekuatan adidaya seperti Inggris dan AS, dominasi atas teknologi (fisika kuantum), keuangan (bursa saham dan bank sentral dunia), dan politik internasional secara meyakinkan terus timbuh dan dijaga dan menghancurkan semia kalangan yang menghambat visi tersebut.
*Siapa Mereka? Membajak Narasi Agama untuk Kekuasaan Dunia*
Pertanyaan mendasarnya: siapa aktor di balik ambisi ini, dan mengapa mereka begitu getol menguasai dunia dari Yerusalem? Mereka adalah jaringan kapitalis global yang sejak awal melihat Zionisme sebagai kendaraan ideologis untuk mengendalikan "urat nadi dunia." Mereka membajak narasi agama Abrahamik — terutama eskatologi Yahudi, Kristen, dan bahkan beberapa tafsir Islam — untuk menciptakan legitimasi transenden. Bagi mereka, tanah suci bukanlah tujuan akhir, melainkan military base for global governance. Mereka ingin menciptakan hegemoni yang tak tertandingi, di mana Yerusalem menjadi pusat komando ekonomi, militer, dan teknologi.
Sangat menarik bahwa Al-Qur’an telah memberikan kode penting untuk membaca pola ini. Allah berfirman dalam QS Yunus ayat 92:
_"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Firaun) agar engkau menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah terhadap tanda-tanda (kekuasaan) Kami."
Ayat ini mengingatkan bahwa "model Firaun" — yang sewenang-wenang, memecah belah, dan melakukan genosida — akan kembali lagi di akhir zaman. Pola itu dipertegas dalam QS Al-Qashash ayat 3-4:
_"Kami bacakan kepadamu (Muhammad) sebagian dari kisah Musa dan Firaun dengan benar, untuk orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Firaun berbuat sewenang-wenang di muka bumi, dan menjadikan penduduknya berkelompok-kelompok. Dia melemahkan segolongan mereka, menyembelih anak laki-laki mereka, dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan."_
Umat akhir zaman diperingatkan bahwa tirani model Firaun akan hadir lagi, dengan target korbannya adalah orang-orang yang memiliki iman sebagaimana Bani Israel yang diselamatkan Nabi Musa.
Pusat Kekuasaan Jahat Itu Kini Bukan Mesir, Melainkan Yerusalem
Yang sangat penting adalah Al-Qur’an dengan tegas mengalihkan pusat "kekejaman model Firaun" di akhir zaman ke tempat lain. QS Al-Anbiya ayat 95-96:
_"Dan telah kami haramkan bagi suatu penduduk negeri (Yerusakem) yang telah Kami binasakan bahwa mereka tidak akan kembali (ke tempat mereka) . Hingga apabila dibukakan (tembok) Yakjuj dan Makjuj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi."_
Lokasi pusat kekuasaan perusak akhir zaman itu merujuk pada Yerusalem, tanah suci Nabi Ibrahim dan keturunannya (QS 21:71), yang dihormati oleh Yahudi, Nasrani, dan Islam. Ketiga agama ini mengakui bahwa dari Yerusalem pernah berkuasa seorang raja Muslim yang adil, kaya raya, berteknologi tinggi, dan tak terkalahkan: Nabi Sulaiman AS.
Kebangkitan Teknologi Sulaiman: Angin, Jin, dan Kuantum
Kekuasaan Nabi Sulaiman digambarkan dengan teknologi yang di zamannya bersifat mukjizat, namun di akhir zaman menjadi gambaran ambisi manusia. QS Al-Anbiya ayat 81:
_"Dan (Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang kencang tiupannya, yang berhembus ke negeri yang Kami beri berkah padanya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu."_
Angin di sini bisa dimaknai sebagai penguasaan cuaca, iklim, dan transportasi (lihat QS Saba ayat 12). Sementara itu, QS Saba ayat 13 menggambarkan pasukan jin yang membuat konstruksi canggih:
_"Para jin membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya berupa mihrab-mihrab, patung-patung, piring-piring seperti kolam, dan periuk-periuk yang tetap (di atas tungku)."_
Lebih jauh lagi, dalam QS An-Naml ayat 38-40 diceritakan bagaimana Singgasana Ratu Saba dipindahkan dalam sekejap mata oleh seseorang yang memiliki "ilmu dari Kitab" — inilah yang oleh sebagian kalangan ditafsirkan sebagai teknologi kuantum. Dan ayat 44 surat yang sama mengisahkan bagaimana Ratu Saba akhirnya tunduk kepada Allah melalui wasilah Nabi Sulaiman.
Juga terdapat penguasaan besi (QS Saba ayat 10-11), yang di era modern identik dengan industri militer, persenjataan canggih, dan teknologi perang.
Perusak Akhir Zaman: Jin Jahat dan Manusia Jahat (Yakjuj Makjuj)
Narasi ini kemudian dibajak oleh "perusak akhir zaman" yang ingin meniru kehebatan Nabi Sulaiman, tetapi dalam bingkai kekuasaan global yang jahat. Mereka ingin "Solomon's Temple" dibangun kembali, bukan untuk beribadah, melainkan sebagai pusat komando dunia. Mereka menguasai jin jahat — dalam terminologi spiritual diartikan sebagai kekuatan gaib yang berakar dari Azazil/Lucifer — dan manusia jahat, yaitu Yakjuj wa Makjuj.
Menariknya, dalam tafsir sebagian ulama kontemporer, Yakjuj wa Makjuj bukan lagi makhluk fisik primitif yang bersembunyi di balik tembok, melainkan sebuah sistem peradaban yang merusak secara global. Mereka adalah kelompok yang mengendalikan keuangan global, media, dan teknologi informasi, serta membajak narasi Yahudi sendiri. Mereka inilah yang dikenal sebagai Yahudi Ashkenazi — yang secara genealogis bukan keturunan Bani Israel asli, tetapi telah membajak narasi Taurat tentang Mesias, tanah perjanjian, dan supremasi Zionis untuk kepentingan hegemoni global.
Kesimpulan: Membuka Tabir
Visi "Israel Raya" bukanlah sekadar ambisi teritorial satu negara. Ia adalah skenario kosmik yang telah digambarkan dalam teks-teks suci, baik sebagai peringatan maupun sebagai ujian akhir zaman. Al-Qur’an dengan terang benderang memperingatkan bahwa model Firaun akan kembali dengan wajah baru: bukan dari Mesir, tetapi dari Yerusalem, dengan teknologi Sulaiman AS yang disalahgunakan, dan dengan dukungan kekuatan jin dan manusia jahat.
Bagi umat beriman, ini bukan ajakan untuk kebencian, melainkan panggilan untuk kewaspadaan. Di tengah gejolak Timur Tengah dan gonjang-ganjing ekonomi global, kita diajak membaca tanda-tanda zaman. Bahwa energi fosil yang membuat dunia bergantung, adalah salah satu instrumen kekuasaan mereka. Bahwa teknologi, keuangan, dan politik global adalah alat untuk membangun kembali "Kerajaan Sulaiman" yang semu — tanpa ruh tauhid, dipenuhi kesewenang-wenangan, dan berujung pada kerusakan besar di muka bumi.
Hanya dengan membuka tabir ini, kita dapat memahami bahwa konflik Timur Tengah bukan sekadar perang tanah, tetapi perang narasi antara kekuasaan semu ala Firaun dan keadilan ilahi yang pernah diwujudkan oleh para nabi. Wallahu a'lam bish-shawab.