Bantuan logistik bergerak ke titik-titik terdampak, sambil tim SAR bekerja tanpa kenal lelah mencari warga yang masih hilang.
SILANGIT UMMATTV.COM — Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto S.Sos., M.M., menyampaikan kabar duka yang menyayat hati. Bencana hidrometeorologi yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah merenggut sedikitnya 174 nyawa, sementara 79 orang belum ditemukan dan 12 lainnya luka-luka.
Sumatera Utara menjadi wilayah dengan dampak terbesar. Tanah longsor dan banjir bandang menghantam sejumlah kabupaten, meninggalkan 116 korban meninggal. Di Tapanuli Tengah saja, 51 warga ditemukan tak bernyawa. Wilayah lain seperti Tapanuli Selatan, Sibolga, hingga Pakpak Barat juga mencatat korban jiwa.
“Masih ada lokasi longsor yang belum bisa ditembus. Kemungkinan masih ada korban di sana,” kata Suharyanto dalam konferensi pers, Jumat (28/11).
Di beberapa daerah, warga harus mengungsi dengan penuh keterbatasan. Mandailing Natal mencatat delapan titik pengungsian, terutama di Kecamatan Siabu, Muara Batang Gadis, dan Batahan.
Sementara akses jalan di berbagai wilayah lumpuh. Jalur Sidempuan–Sibolga terputus, begitu pula Sipirok–Medan di dua lokasi. Ruas vital seperti Singkuang–Tabuyung dan Bulu Soma–Sopotinjak di Mandailing Natal tidak dapat dilalui.
Di tengah kondisi sulit, alat berat terus dikerahkan untuk membuka jalan dan mempercepat evakuasi. Bantuan logistik bergerak ke titik-titik terdampak, sambil tim SAR bekerja tanpa kenal lelah mencari warga yang masih hilang.
Bencana ini kembali mengingatkan betapa rentannya masyarakat terhadap ancaman hidrometeorologi dan pentingnya ketangguhan menghadapi perubahan cuaca ekstrem.