DEA #1 Jika Belum Gudikan (gatal-gatal) Belum Disebut Santri

DEA #1 Jika Belum Gudikan (gatal-gatal) Belum Disebut Santri

Dalam sesi training Dormitory Educator Academy (DEA), saya sering bercerita tentang istilah ‘pondok’ atau ‘pondok pesantren’ dalam berkomunikasi. Pengalaman saya bersafar, jika berjumpa orang di pesawat, kereta, atau bus sudah selayaknya saling menyapa dan berkenalan. 

Saat ditanya pekerjaan, saya sering menjawab ‘saya kerja di ma’had’. Kalau jawabannya ‘saya bekerja di pondok pesantren’ maka obrolan biasanya berakhir. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pondok pesantren lekat dengan gatal-gatal, ghosob, kurang menjaga kebersihan, dan bla bla bla lainnya. Seolah teman sebelah saya tidak tertarik lagi untuk melanjutkan obrolan. 

Namun saat saya menggunakan kata ‘ma’had’, maka obrolan masih bisa berlanjut pada penjelasan dari definisi ma’had dan hal-hal lain yang saya narasikan secara positif. Ma’had adalah tempat menuntut ilmu, tempat belajar kehidupan, tempat berlatih mandiri, menjaga kebersihan dan kerapian, tempat membentuk kedisiplinan hingga perjalanan sekian jam tidak terasa berlalu. 

Seorang alumni pesantren pernah menyatakan bahwa ‘kalau belum gudiken (gatal-gatal) belum disebut santri’. Walaupun kalimat tersebut dikatakan dengan nada bercanda, kita sebagai seorang muslim merasa aneh. Seharusnya pesantren menjadi contoh dalam kebersihan, kerapian, kedisiplinan, kesantunan, kejujuran, dan tentunya kesholehan.  

Pengalaman-pengalaman tersebut memotivasi saya untuk menghadirkan ma’had yang bersih tanpa gatal, ma’had yang nyaman tanpa bully, ma’had yang ramah anak. Kasus gudiken atau gatal tidak berasal dari rumah santri. Mereka mendapatkannya saat berada di pondok. Berarti ada yang salah dengan kualitas kebersihannya. 

Berdasarkan pengalaman kami, kasus gatal pada santri alhamdulillah bisa teratasi dengan: 

1.    Edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan.

2.    Air kamar mandi berganti setiap ganti orang. Artinya santri yang mandi di antrian ke dua tidak menggunakan air sisa santri pertama. Caranya bisa menggunakan shower (lebih irit air) atau ember yang habis sekali pakai. 

3.    Mencuci pakaian setiap kali kotor tanpa harus menunggu hari libur. Menghilangkan budaya merendam cucian melebihi batas waktu standar mencuci. Jemuran mendapat cahaya matahari langsung dan pakaian disetrika sebelum digunakan. 

4.    Menjemur Kasur dan bantal secara berkala. Menjemur (mengeluarkan gantungan handuk tiap kamar) setiap pagi

5.    Membatasi jumlah pakaian dan tidak saling pinjam pakaian

6.    Bila ada yang gatal, segera obati hingga tuntas, agar tidak menular.

7.    Budayakan hidup sehat dengan menjaga kebersihan setiap saat serta dapat arahan dan bimbingan dari tim medis secara berkala.

Semoga gudiken tidak lagi menjadi brand santri dan pesantren. Karena muslim itu bersih. Tanda keimanan itu diantaranya kebersihan. Islam itu bersih dan Allah suka keindahan. 


By DEA (Dormitory Educator Academy)

KAFA Institute - Surakarta

Sebelumnya :
Selanjutnya :