Ustaz Zaitun menekankan dua hal penting dalam membangun rumah tangga, yakni perhatian dan komunikasi.
Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan cinta, tetapi juga menjadi awal perjalanan panjang untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, suami dan istri perlu saling memperhatikan, berkomunikasi dengan baik, serta terus berusaha memberikan kebaikan satu sama lain.
Pesan tersebut disampaikan Ustaz Zaitun Rasmin dalam nasihat pernikahan kepada kedua mempelai dalam sebuah acara pernikahan pada Sabtu (17/10/2026).
Pernikahan, Ibadah Terpanjang dalam Kehidupan
Dalam nasihatnya, Ustaz Zaitun mengingatkan bahwa pernikahan merupakan ibadah yang berlangsung panjang. Berbeda dengan salat yang dilaksanakan dalam waktu tertentu atau puasa yang memiliki batas waktu, kehidupan rumah tangga menjadi ruang ibadah yang menyertai aktivitas sehari-hari.
“Pernikahan ini adalah ibadah terpanjang,” pesannya.
Menurutnya, bekerja mencari nafkah, memasak, mengurus rumah, dan menjalankan tanggung jawab masing-masing dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai tuntunan Islam.
Karena itu, pasangan suami istri hendaknya menjadikan pernikahan sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjaga aturan-Nya, melaksanakan kewajiban, serta menjauhi segala larangan-Nya.
Dengan niat tersebut, kehidupan rumah tangga tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan duniawi, tetapi juga menjadi ikhtiar bersama untuk meraih keselamatan di akhirat.
Menjadi Pasangan yang Saling Berbuat Baik
Ustaz Zaitun kemudian mengingatkan pentingnya meneladani Rasulullah ﷺ dalam memperlakukan keluarga. Suami maupun istri hendaknya senantiasa berusaha memberikan kebaikan kepada pasangannya.
Ia mengutip sabda Rasulullah ﷺ:
“Khairukum khairukum li ahlihi, wa ana khairukum li ahli.”
Artinya, sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.
Pesan tersebut menegaskan bahwa ukuran kebaikan seseorang tidak hanya terlihat dari sikapnya di hadapan orang lain, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya sendiri.
Kebaikan itu tidak selalu harus diwujudkan melalui hal-hal besar. Senyuman, sapaan yang hangat, sikap menghargai, dan kesediaan mendengarkan pasangan merupakan bentuk perhatian sederhana yang memiliki makna besar.
Bahkan ketika lelah setelah bekerja atau menghadapi persoalan di luar rumah, suami dan istri tetap perlu berusaha menjaga sikap baik saat kembali bertemu pasangannya.
Perhatian dan Komunikasi Menjadi Kunci
Dalam nasihatnya, Ustaz Zaitun menekankan dua hal penting dalam membangun rumah tangga, yakni perhatian dan komunikasi.
Menurutnya, perhatian lahir dari hati. Ketika pasangan senantiasa mendapat tempat dalam hati, perhatian akan terlihat melalui sikap dan tindakan sehari-hari.
Perhatian tidak hanya diperlukan pada masa pengantin baru, tetapi harus terus dijaga sepanjang kehidupan pernikahan. Suami dan istri perlu saling memperhatikan keadaan, perubahan sikap, kebutuhan, serta perasaan masing-masing.
Perhatian tersebut selanjutnya perlu disertai komunikasi yang baik dan berkualitas.
Ia mencontohkan, ketika istri menunjukkan kecemburuan atau perubahan suasana hati, suami tidak seharusnya langsung merespons dengan kemarahan atau menyalahkan. Sebaliknya, ia perlu mencoba memahami perasaan pasangannya dan mencari tahu persoalan yang sedang dihadapi.
Sikap serupa juga perlu dilakukan istri terhadap suami. Dengan komunikasi yang terbuka, pasangan dapat membicarakan persoalan tanpa saling merendahkan atau memperbesar masalah.
Dengan demikian, perhatian membantu pasangan memahami keadaan satu sama lain, sedangkan komunikasi menjadi jalan untuk menyelesaikan persoalan secara bijaksana.
Membahagiakan Pasangan dengan Pemberian
Selain perhatian dan komunikasi, Ustaz Zaitun mengingatkan pentingnya kebiasaan memberi dalam kehidupan rumah tangga.
Suami hendaknya memberikan nafkah sesuai kemampuan dan tanggung jawabnya. Di samping itu, pemberian kecil atau kejutan sederhana juga dapat menjadi bentuk kasih sayang kepada istri.
Misalnya, memberikan makanan kesukaan, hadiah sederhana, atau melakukan sesuatu yang diketahui dapat menyenangkan pasangan.
Hal yang sama berlaku bagi istri. Setiap pasangan dapat mencari cara untuk membahagiakan satu sama lain melalui perhatian dan pemberian yang tulus.
Intinya bukan terletak pada besar kecilnya pemberian, melainkan pada ketulusan, kepedulian, dan keinginan untuk membahagiakan pasangan.
Membangun Keluarga Islami sebagai Madrasah dan Markas Perjuangan
Menutup nasihatnya, Ustaz Zaitun mendoakan agar kedua mempelai membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah serta menjadi keluarga Islami yang membawa kebaikan.
Ia berharap keluarga yang dibangun tidak hanya menjadi tempat bertumbuhnya kasih sayang, tetapi juga menjadi madrasah dan markas perjuangan Islam.
Sebagai madrasah, keluarga menjadi tempat pertama untuk menanamkan iman, akhlak, ilmu, dan nilai-nilai Islam kepada anak-anak. Sementara itu, sebagai markas perjuangan, keluarga diharapkan menjadi tempat lahirnya generasi yang memiliki komitmen terhadap dakwah dan kebaikan umat.
Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Zaitun juga mengenang almarhum Ustaz Abdurrahim, yang disebutnya sebagai salah seorang pejuang dakwah yang mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan Islam sejak muda hingga akhir hayat.
Ia turut menyampaikan penghargaan kepada keluarga almarhum, khususnya sang istri, yang terus mendampingi dan membimbing anak-anak, termasuk setelah suaminya wafat.
Keteladanan tersebut menjadi pengingat bahwa keluarga memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan dakwah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pada akhirnya, pernikahan bukan hanya tentang dua insan yang memulai kehidupan bersama. Lebih dari itu, pernikahan adalah perjalanan ibadah yang membutuhkan kesabaran, perhatian, komunikasi, dan kesediaan untuk terus berbuat baik.
Dengan menjadikan tuntunan Rasulullah ﷺ sebagai pedoman, rumah tangga diharapkan menjadi tempat tumbuhnya cinta, ketenangan, dan keberkahan, sekaligus menjadi fondasi bagi lahirnya generasi Islami yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.
(Artikel diatas dikutip dari Nasehat beliau ,saat membawakan Nasehat Pernikahan Oleh Akh Muhammad Tirmidzi dengan Yulinda Hardingtyas, Sabtu, 17/10/2026 )