Menggali Hikmah Haji dan Tantangannya di Akhir Zaman*

Menggali Hikmah Haji dan Tantangannya di Akhir Zaman*

perjuangan menjaga kemurnian tauhid tidak berhenti di masa Rasulullah. Di akhir zaman, Makkah akan menghadapi ujian lagi.

Bahan Khutbah Jumat

Oleh: Salas Aly Temur (10.Zulhijjah)



Di Hari-Hari Tasyrik yang Penuh Makna


Kita saat ini sedang berada dalam suasana hari-hari Tasyrik, di mana para jamaah haji dari seluruh penjuru dunia tengah melaksanakan aktivitas mabit (bermalam) di Mina untuk menunaikan ibadah melontar jumrah. Suasana spiritual ini mengingatkan kita bahwa ibadah haji bukanlah ritual baru. Ia telah berlangsung lama—sekitar empat ribu tahun yang lalu—sejak Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama keluarga kecilnya memulai perjalanan suci ini. Saat itu Allah memerintahkan Ibrahim untuk hijrah dari negeri Syam ke sebuah lembah tandus yang kelak dikenal sebagai Makkah, membawa serta Hajar dan bayi Ismail.


Doa-Doa Nabi Ibrahim di Awal Perjalanan

Ketika pertama kali tiba di Makkah dan kemudian membangun Ka’bah bersama putranya, Ibrahim memanjatkan banyak untaian doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Doa-doanya bukan sekadar permohonan pribadi, melainkan visi spiritual untuk masa depan umat manusia. Di antaranya adalah harapan agar kota Makkah tumbuh menjadi pusat peradaban dengan rezeki yang melimpah, terutama buah-buahan:

“Ya Tuhan kami, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan berikanlah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari akhir.” (QS. Al-Baqarah: 126)

Selain itu, Ibrahim juga bermohon agar tumbuh generasi baru yang selalu menyembah Allah dan berserah diri kepada-Nya. Namun doa yang paling monumental adalah harapannya agar dari keturunan Ismail dimunculkan seorang sosok yang akan menjaga kemurnian syariat, khususnya syariat haji, untuk selamanya. Doa ini terekam dalam Surah Al-Baqarah ayat 128-129:

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, dan jadikanlah dari keturunan kami suatu umat yang berserah diri kepada-Mu. Dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kitab dan hikmah, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 128-129)


Doa yang Terkabul Cepat dan Doa yang Tertunda

Sebagian besar doa Nabi Ibrahim dikabulkan dengan cepat. Kota Makkah tumbuh menjadi pusat perdagangan dan peradaban bangsa Arab. Rezeki melimpah, buah-buahan dari berbagai penjuru datang ke kota yang dulunya tandus itu. Namun ada satu doa yang tidak segera dijawab Allah: doa tentang seorang keturunan yang akan menjaga kemurnian tauhid. Doa ini baru terkabul setelah 2.600 tahun berlalu.

Mengapa begitu lama? Hanya Allah Yang Maha Bijaksana yang mengetahui hikmah di balik penundaan itu. Namun yang pasti, Allah menghendaki agar kota Makkah dan Ka’bah mengalami berbagai tribulasi dan ujian terlebih dahulu. Doa yang tertunda bukanlah doa yang ditolak, melainkan doa yang menunggu waktu yang paling tepat.

Tribulasi Ka’bah: Dari Tauhid ke Paganisme

Selama hampir 2.600 tahun, syariat haji dan Ka’bah menghadapi ujian berat. Tradisi tauhid yang diajarkan Ibrahim perlahan-lahan digantikan oleh tradisi pagan. Ritual-ritual cabul dan nudisme (thawaf tanpa busana) disisipkan ke dalam ibadah haji. Penyembahan berhala merajalela, dan lebih dari 360 berhala ditempatkan di sekitar Ka’bah. Puncaknya terjadi pada abad ke-6 Masehi, yang dikenal sebagai era Jahiliyyah.

Masyarakat Arab saat itu tidak malu secara ekonomi—mereka justru mendapatkan keuntungan besar dari aktivitas haji tahunan. Namun mereka menodai syariat tersebut dengan kemusyrikan dan kemaksiatan. Di tengah kegelapan itulah Allah menurunkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu yang paling tepat, tidak hanya untuk merestorasi syariat haji, tetapi juga untuk membimbing seluruh dunia hingga akhir zaman. Doa Ibrahim yang tertunda 2.600 tahun akhirnya terwujud dengan sempurna.

*Tantangan Akhir Zaman: Materialisme dan Perusak Zaman*

Namun, perjuangan menjaga kemurnian tauhid tidak berhenti di masa Rasulullah. Di akhir zaman, Makkah akan menghadapi ujian lagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kalian akan tetap menunaikan ibadah haji dan umrah, sementara Ya’juj dan Ma’juj sudah dilepaskan.” (HR. Bukhari)

Ya’juj dan Ma’juj adalah perusak akhir zaman yang sangat materialistis. Dalam hadits riwayat Ibnu Majah (4066), Nabi mengisyaratkan bahwa mereka menguasai sistem keuangan dan persenjataan perang. Ini adalah gambaran tentang kekuatan materialistik yang mampu menggerogoti nilai-nilai spiritual dari luar. 

Hari ini, kita menyaksikan sendiri bagaimana Makkah diselimuti oleh nilai-nilai materialistis di sekitar Ka’bah. Lebih dari 98 persen situs bersejarah dari zaman Rasulullah telah hilang, digantikan oleh hotel-hotel mewah, pusat perbelanjaan modern, dan gedung-gedung pencakar langit. Menunaikan ibadah haji hari ini lebih menonjolkan ornamen kemegahan materialistik modern yang—secara sistem—banyak di antaranya tidak dikuasai oleh umat Islam.

Benar, semua itu adalah bagian dari pelayanan bagi tamu Allah. Tidak ada yang salah dengan kenyamanan dan fasilitas yang baik. Namun kita perlu bertanya: apakah kekhidmatan spiritual haji dan ibadah-ibadah di tanah Makkah tidak akan tergerus oleh arus modernisasi dan materialisme yang begitu deras?

*Penutup : Menjaga Inti Haji di Tengah Arus Zaman*

Ibadah haji adalah puncak perjalanan spiritual seorang Muslim. Ia mengajarkan kita tentang ketundukan total kepada Allah, kesederhanaan dalam pakaian ihram, dan persaudaraan lintas bangsa. Namun tantangan akhir zaman nyata: materialisme tidak hanya mengubah wajah fisik Makkah, tetapi juga berpotensi mengubah cara kita beribadah—dari penghambaan yang tulus menjadi sekadar rutinitas yang gemerlap tetapi kehilangan ruh.

Kita tidak bisa menghentikan pembangunan fisik di Makkah. Namun kita bisa menjaga hati kita. Hikmah dari perjalanan panjang doa Nabi Ibrahim adalah bahwa Allah selalu mengirimkan solusi pada waktu yang tepat—dan di akhir zaman ini, solusi itu dimulai dari kesadaran kolektif umat Islam untuk kembali kepada tauhid yang murni, di tengah badai materialisme yang menggoda.

Sebaga renungan, syetan akan selalu mengganggu dimana pun berada termasuk di tanah suci. Kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya dahulu mengganggu agar tidak mentaati Allah namun Nabi Ibrahim melemparnya dengan batu untuk menghindari godaan syetan yang menyesatkan. Akrivitas ini secara simbolik sekarang sedang ditunaikan oleh para jamaah haji di mina. Bagi kita yang tidak menunaikan haji secara simbolik kita harus perangi semua nilai syaitoniyyah yang dibawa perusak akhir zaman. Yang memecahbelah umat, melemahakan umat islam dan yang memerangi umat islam baik di palestina, iran, yaman dan di negeri kita. 

Semoga Allah para jemaah haji mendapatkan suntikan spiritual dan pulang ke negara masing-masing menjadi penggerak kebaikan di akhir zaman. Amin



Sebelumnya :