Berdakwah adalah memberi ilmu dan keteladanan, sehingga wajar jika orang yang berdakwah perlu terus dibina agar selalu mawas diri, selalu belajar ilmu agama dan beramal.
Okeh : . Satria Hadi Lubis
UNGKAPAN "Nahnu du'at qabla kulli syai'" berarti: "Kita adalah para da'i sebelum segala sesuatu." Kalimat ini mengandung makna yang sangat dalam.
Seorang muslim boleh memiliki banyak identitas. Ia bisa menjadi pengusaha, guru, dosen, dokter, pegawai, politisi, pejabat, aktivis, penulis, atau pemimpin organisasi. Namun diatas semua identitas itu, ia adalah seorang da'i yang mengajak dan membina manusia kepada Allah Ta'ala.
Sebagai seorang dokter, ia mengobati pasien. Tetapi sebagai da'i, ia juga mengingatkan pasien tentang kesabaran, tawakal, dan pentingnya mendekat kepada Allah.
Sebagai seorang pengusaha, ia mencari keuntungan. Tetapi sebagai da'i, ia menunjukkan bahwa bisnis dapat dijalankan dengan kejujuran, amanah, dan kepedulian kepada sesama.
Sebagai seorang guru, ia mengajarkan ilmu. Tetapi sebagai da'i, ia membentuk akhlak dan mengarahkan murid-muridnya menuju jalan yang diridhai Allah.
Inilah yang membedakan seorang mukmin dengan manusia pada umumnya. Ia tidak hidup hanya untuk profesinya. Ia hidup untuk mengemban risalah Islam di mana pun Allah menempatkannya. Allah SWT berfirman:
"Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting (diwajibkan)" (QS. Luqman: 17)
"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.'" (QS. Fushshilat: 33)
Ayat ini menunjukkan bahwa menyeru manusia kepada Allah adalah kewajiban sekaligus kemuliaan yang paling tinggi.
Karena itu, seorang muslim jangan pernah berpikir bahwa dakwah dan membina hanyalah tugas ustadz atau ulama. Dakwah adalah tugas setiap muslim sesuai kemampuan dan posisinya.
Jangan pernah berpikir harus mumpuni dalam ilmu agama dulu baru berdakwah. Ilmu agama itu sangat luas. Sampai kapanpun kita tak akan pernah ahli dalam ilmu agama, sehingga jangan menunda-nunda untuk berdakwah. Berdakwahlah sejak sekarang sesuai kemampuan dan posisi kita masing-masing.
"Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)
Seorang ayah berdakwah kepada keluarganya.
Seorang ibu berdakwah kepada anak-anaknya.
Seorang guru berdakwah kepada muridnya.
Seorang pemimpin berdakwah kepada rakyatnya.
Seorang penulis berdakwah melalui tulisannya.
Bahkan seorang pedagang pun berdakwah melalui kejujuran dan akhlaknya.
Maka bersamaan dengan aktivitas berdakwah dan membina, seorang muslim seyogyanya perlu dibina juga (menjadi mad'u). Karena barang siapa tak punya apa-apa, ia tak dapat memberi apa-apa. Berdakwah adalah memberi ilmu dan keteladanan, sehingga wajar jika orang yang berdakwah perlu terus dibina agar selalu mawas diri, selalu belajar ilmu agama dan beramal. Menjadi da'i dan mad'u pada saat bersamaan.
Mari kita berbenah diri...
Jangan jadikan pekerjaan menghalangimu menjadi da'i dan mad'u. Jadikan pekerjaanmu sebagai sarana untuk berdakwah dan membina.
Jangan jadikan jabatanmu untuk melupakan kewajiban berdakwah. Jadikan jabatanmu untuk mengingat kewajiban berdakwah.
Jangan jadikan kesibukanmu mematikan dakwah. Jadikan kesibukanmu untuk menghidupkan dakwah.
Karena pada hakikatnya, dunia hanyalah tempat singgah sementara. Jabatan akan berakhir. Kekayaan akan ditinggalkan. Popularitas akan memudar. Tetapi pahala dari dakwah dan membina akan terus mengalir selama manusia mengambil manfaat dari kebaikan yang kita sampaikan.
"Apabila anak adam (manusia) telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya darinya, kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah (sedekah yang pahalanya terus mengalir), ilmu yang bermanfaat (yang diajarkan kepada orang lain), atau anak saleh yang selalu mendoakannya” (HR Muslim).
Maka tanamkan dalam hati:
Aku seorang da'i sebelum aku menjadi apa pun.
Aku akan selalu menyediakan waktu untuk berdakwah di tengah kesibukan profesiku.
Aku akan mengutamakan waktuku untuk dibina dan membina di tengah kesibukan pekerjaanku.
Inilah makna : Nahnu du'at qabla kulli syai' !
Karena kemuliaan terbesar seorang muslim bukanlah apa pekerjaannya, melainkan seberapa banyak manusia yang ia bawa lebih dekat kepada Allah Ta'ala. Inilah makna yang paling mulia dari manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad)
----------••♛♛♛••----------
*Sesibuk apapun kita, perkara sholat 5 waktu jangan kita lalaikan.* Dia yang mewajibkan kita sholat adalah Dia yang memberi kehidupan pada kita, yang memberi rezeki pada kita. *Jangan khawatir rezeki hilang karena sholat, justru sholat itulah pintu rezeki, bahkan ia adalah rezeki itu sendiri.*
_#twitulama_
*Selamat & Semangat* menjalankan ibadah *sholat Fardhu berjamaah di masjid (bagi ikhwan yg tdk ada udzur)*, dan *Sholat² sunnah lainnya (tahajud, rawatib, dhuha, taubat, dll)*.. semoga hari ini lebih baik dari kmrn, dan besok lebih baik dari hari ini.. _Aamiin Yaa Rabb_