Saking seriusnya membawa misi damai non-kekerasan, mereka yang berlayar mendapat pelatihan khusus.
Maimon Herawati, Direktur SMART 171 yang juga Koordinator Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) sudah berlayar menuju Gaza. Ia bertolak menggunakan Kapal Safsaf dari Barcelona pada 12 April dan diperkirakan akan transit di Tunisia hari ini (20/04). Kemarin, dari atas kapal, Maimon menggelar kelas edukasi daring Smart Class yang dibuka luas untuk siapapun.
Berlatar Laut Mediterania, Maimon menceritakan bagaimana perjalanan dan aral melintang yang mereka temui. “Kemarin steering kapal induk kami rusak, sehingga sejak malam sampai Sabtu pagi kapal Open Arms Spanyol membantu menggeret kapal kami. Selama prosesnya, tim Green Peace datang berulang kali memperbaiki bagian yang rusak.” Ujar Maimon menceritakan pengalamannya.
“Selama kapal Safsaf rusak, ada drone beberapa kali memantau jalur pelayaran. Tapi alhamdulillah sampai sekarang keamanan masih terkendali.” Tambahnya. Di Kapal Safsaf, hanya ia dan Chiki Fawzi yang berasal dari Indonesia.
Maimon menekankan bahwa GSF adalah misi damai. Mereka hanya ingin mengantar makanan dan obat ke Gaza. “Kami menerima pesan dari Gaza. Mereka menunggu kedatangan kapal Global Sumud Flotilla di pantai Gaza. Ini alasan utama mengapa flotilla dilakukan terus menerus, karena Gaza meminta.” Jawabnya tegas ketika ditanya soal tujuan GSF.
Saking seriusnya membawa misi damai non-kekerasan, mereka yang berlayar mendapat pelatihan khusus. Kalau sewaktu-waktu ada intersepsi di laut, prosedur non-kekerasan jadi prinsip utama. Para aktivis dilatih untuk tidak melawan jika ditahan militer. “Posisi berdiri, cara bicara, semuanya diatur demi keselamatan, dan tanpa kekerasan” Terang Maimon.
Kalau semuanya lancar, perjalanan dari Eropa ke Gaza memakan waktu tiga pekan, tergantung kondisi laut dan keamanan. Seluruh aktivis melanjutkan misi dengan kesadaran akan risiko yang mereka hadapi di laut tidak seberapa dibandingkan warga Gaza. Data yang Maimon Herawati paparkan di Smart Class cukup jela, bahwa bantuan masih minim, distribusi jauh dari ideal, penjajah belum mundur dan masih terus menyerang meski gencatan senjata.
Kali ini mereka bergerak bukan hanya di laut, ada Land Convoy bergerak melintasi Mauritania, Aljazair, Tunisia, Libya, dan Mesir. Berikutnya ada Political Impact. Kemarin (19/4) tim dari Indonesia sudah berangkat menuju Brussels mengikuti Global Sumud Conference. Prof Sudarnoto dari MUI, Prof Heru Susetyo dari UI, Feri Amsari dari The Themis, Gustika Hatta dan Wanda Hamidah membawa suara Indonesia.
Menggelar edukasi langsung dari atas kapal adalah cara SMART 171 untuk memperpendek jarak antara publik dan realitas lapangan. Mengajak seluruh peserta seolah ikut berlayar dalam kapal. Mewakili banyak keiinginan individu untuk ikut bergerak.